Jejak Manis di Pemalang

Oleh Rosiana Marhaeni

Aku baru saja menuntaskan semester pertamaku dan kini sedang tertatih menjalani semester kedua. Di kamar kos yang ukurannya tak lebih besar dari dapur rumahku di desa, aku sering terduduk menatap layar laptop, sementara pikiranku terbang jauh melintasi jalur Pantura, mendaki jalanan berkelok menuju rumah di Pemalang Selatan. 

Aku adalah anak perbukitan. Jika teman-teman kuliahku mengenal Pemalang dari Pantai Widuri yang terik, aku justru tumbuh dalam pelukan sejuknya  kabut abadi Kecamatan Belik. 

Kenangan masa sekolahku bukan bermula di gerbang kelas, melainkan di depan bak mandi pada pukul empat subuh. Di Belik, air pagi hari bukan sekadar dingin; ia adalah jarum-jarum es yang siap menusuk kulit. Sebagai seorang siswi saat itu, aku harus berduel dengan suhu yang sering kali menyentuh 18°C hanya untuk membasuh muka sebelum berangkat ke kota.

Namun, sebelum aku melangkah keluar menembus kabut untuk menunggu bus Desa, pemandangan di dapur adalah semangat utamaku. Di sana, Ibu sudah duduk di bangku kayu kecil dengan pisau tajam di tangannya. Tugasnya berat: mengupas ratusan nanas madu satu per satu untuk dikirim ke pabrik pengalengan. Tangannya sering kali memerah dan perih terkena getah, namun ia tak pernah berhenti agar aku punya uang saku untuk ongkos bus. Sementara itu, Ayah sudah sibuk menata keranjang-keranjang nanas di motor atau pikap untuk dibawa ke pasar.

Keluargaku hidup dari manisnya nanas, meski prosesnya penuh dengan duri dan peluh. Bus desa yang membawaku menuruni kelokan Moga itu adalah saksi bisu betapa aku membawa harapan besar dari kedua orang tuaku yang bekerja di balik aroma asam-manis buah nanas.

Begitu bus sampai di pusat kota Pemalang, kehangatan pesisir mulai menyapa. Biasanya, sebelum pulang kembali ke dataran tinggi, aku punya ritual wajib di kawasan Alun-Alun kota. 

Menikmati semangkuk ‘Nasi Grombyang’  pada hari Jumat menjelang libur akhir pekan ya bisa dibilang aku menyebutnya self reward terbaik setelah  berkutat dengan pelajaran selama seminggu di sekolah. Menatap kepulan asap dari kuali besar dan melihat penjualnya menyendokkan kuah hitam pekat hingga isinya grombyang, grombyang adalah terapi tersendiri. Suapan pertama daging sapi yang kaya rempah itu selalu berhasil membayar lunas rasa lelah setelah menerjang dinginnya subuh di Belik dan sesaknya perjalanan dengan bus desa.

Kini, sebagai mahasiswi semester dua, aku baru menyadari betapa mewahnya ketenangan itu. Di sini, di tanah rantau, aku merindukan suara gesekan pisau Ibu yang mengupas nanas di pagi buta. Aku rindu melihat Ayah pulang dengan pakaian yang penuh aroma ladang.

Di perantauan, setiap kali aku melihat pedagang buah menuliskan “Nanas Madu Belik”, dadaku berdesir. Rasanya seperti melihat hasil keringat orang tuaku sedang berkelana bersamaku. Meski aku sedang berjuang mengejar gelar di kota orang, jiwaku tetaplah seorang gadis dari dataran tinggi seseorang yang dididik oleh dinginnya fajar, ketangguhan bus desa, dan pengorbanan tak terhingga dari kedua orang tua yang mengubah tajamnya duri nanas menjadi tiket masa depanku.(*)