Misi Persahabatan di Bawah Langit Sukoharjo

Oleh Wahyu Sella Agustin

Kerinduan yang menumpuk selama setahun seharusnya tuntas dalam jamuan makan malam yang penuh keakraban. Aku, Siva, Nana, dan Sofia telah merancang pertemuan ini jauh-jauh hari sebagai ajang reuni kecil untuk menyambung kembali ikatan yang sempat terpisah oleh kesibukan masing-masing. Namun, takdir menuliskan skenario berbeda. Sehari sebelum acara itu pada malam hari, sebuah pesan masuk ke ponselku. Pesan itu datang dari Sofia pada malam hari, mengabarkan bahwa ia harus menjalani perawatan intensif di RS Nirmala Suri dan tidak bisa ikut bergabung. Harapan untuk berkumpul dengan formasi lengkap yang sudah kami impikan mendadak pudar, menyisakan rasa khawatir yang mendalam.

Meski salah satu pilar rencana kami goyah, kami tidak membatalkan rencana. Kami sepakat tetap melaksanakan agenda makan bersama, lalu menjenguk Sofia di rumah sakit. Perubahan rencana ini membuat pertemuan lebih berarti. Kami anggap ini sebagai  misi tambahan yang harus kami jalani sebagai satu tim.

Persiapan dimulai dengan koordinasi ketat untuk mengatur jam keberangkatan, terutama bagi Siva, yang rumahnya terletak paling jauh di antara kami. Siva mengabari bahwa ia akan mampir di toko busana yang lokasinya tak jauh dari rumahku dan memang searah menuju tempat makan. Kami sepakat berangkat bersama dari titik tersebut agar perjalanan lebih menyenangkan. Aku berjanji akan segera bergegas meluncur begitu ia memberi sinyal telah sampai di titik tersebut. Sebuah janji sederhana yang nyata ya harus berhadapan dengan kendala kecil yang tak terduga di dalam rumah. 

Saat bersiap dengan terburu-buru, kepanikan melanda ketika aku menyadari jam tangan favoritku raib entah ke mana. Benda itu bukan sekadar aksesori pelengkap penampilan, melainkan “belahan jiwa” yang selalu menemaniku dalam setiap momen penting sejak masa sekolah. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menggeledah setiap sudut ruangan dengan napas memburu, namun hingga menit terakhir, jam itu tetap tidak menampakkan wujudnya. Akhirnya, dengan perasaan mengganjal di pergelangan tangan yang polos, aku terpaksa berangkat menuju titik pertemuan.

Kondisi cuaca di luar pun seolah memberikan tantangan tambahan bagi rencanaku sore itu. Langit Sukoharjo tampak murung dengan awan hitam disertai hembusan angin kencang yang membuat dedaunan berjatuhan. Aku menarik stang motor dalam-dalam, membelah udara dingin dan ancaman badai yang kian nyata di depan mata.  Dalam hati, aku terus merapalkan doa agar Siva masih setia menunggu di tempat yang kami janjikan sebelumnya, meski aku telah terlambat beberapa menit.

Sesampainya di depan toko busana,  aku mencari  orang berbaju putih dengan balutan serupa pasir di kepala. Lima belas menit berlalu. Aku memandang dengan binar seorang dengan ciri yang aku angankan. Namun, binar itu menghilang ketika aku memandangnya pergi dengan arah yang berlawanan. Aku terus menunggu hingga  langit kelabu  berganti latar oranye senja.

Hidup harus tetap berjalan. Setengah jam telah berlalu, dan rasa cemas mulai merayap hingga ke ulu hati, memicu pikiran-pikiran negatif tentang keberadaan Siva. Aku terus-menerus mengirim pesan menunggu kabar seraya bertanya dalam hati, “Apakah aku telah ditinggalkan atau memang ia belum datang?” Aku menimbang, “Haruskah aku pergi menuju titik pertemuan selanjutnya tanpa dia di sisiku atau menunggu lebih lama lagi?” Setitik harapan masih tertanam di hatiku. 

Aku pun berusaha mencari lagi dengan penuh harap. Tak lama, aku kembali menemukan sosok dengan ciri persis yang kubayangkan. Aku menunggu, memperhatikan gerak-geriknya, takut kehilangan satu detail. Namun, dalam sekejap mata, aku melihat sosok itu lenyap dari pandangan, seakan ditelan keramaian. Aku menghela napas dengan rasa kecewa yang menyelinap di ulu hati.

Saat kepalaku hendak tertunduk, sebuah suara lembut menyapa. Aku mendongak. Sosok yang kutatap lekat itu berdiri di hadapanku. Rasa kecewa kini hilang begitu saja, seolah tak pernah ada. Tanpa membuang waktu lagi, kamu memacu kendaraan menuju tempat kami mengadakan jamuan makan malam, Batam Steak Resto.

Menjelang magrib kami tiba di lokasi. Lampu-lampu yang terpasang di depan restoran tampak indah dan cantik, membuat suasana semakin ramai. Tukang parkir dengan peluit di tangan sigap mengarahkan kendaraan kami ke tempat kosong. Setelah motor terparkir rapi, kami berjalan masuk sambil merasakan semarak suasana malam yang baru dimulai.

Batam Steak Resto terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, hanya tiga menit dari Alun-Alun Satya Negara Sukoharjo. Meski namanya merujuk pada makanan berbasis steak, restoran ini juga menyediakan beragam menu lainnya seperti seafood, bakaran, gorengan, ayam, selat Solo, nasi, minuman, hingga berbagai macam dessert. Di lantai dua tempat kami makan, terdapat spot foto yang disediakan untuk pengunjung. Lampu hias dan dekorasi di tengah ruangan menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto. Di tangga menuju lantai dua tersedia cermin hias bagi pengunjung yang ingin bercermin dan mengambil foto.

Nana yang datang lebih awal menyambut kami berdua dengan senyuman manis di wajahnya. Sembari duduk, ia  protes mengapa kami datang lebih lama dari waktu yang sudah dijanjikan. Namun, ketegangan itu segera cair begitu hidangan steak dan selat solo tersaji di meja, diikuti gelak tawa yang memecah kerinduan. 

Perbincangan mengalir deras. Sudah satu tahun semenjak kami berpisah. Kami banyak bertukar, bercanda, dan berbagi informasi, pengalaman, dan cerita baru. Tawa bersahut-sahutan membuat suasana semakin harmonis. Rasanya kurang lengkap jika berkumpul tanpa mengabadikan momen. Maka dari itu, setelah makan, kami mengambil foto, selfie, dan merapikan makeup seperti kebiasaan kami. Namun baru sebentar, jam sudah hampir menunjukkan setengah delapan. Waktu kunjungan ke rumah sakit tempat Sofia dirawat hampir habis. Kami pun segera bergegas pergi. Awalnya kami berencana membeli bingkisan atau kue untuk Sofia sebagai tanda kunjungan. Namun, toko-toko kue di sekitar sudah menutup pintu. Kami akhirnya memutuskan membawa makanan dari Batam Steak Resto saja dengan harapan cukup sebagai pengganti bingkisan. 

Sesampainya kami di rumah sakit, kami disambut oleh lorong dingin dengan cahaya lampu putih yang menyilaukan mata. Dari kejauhan pun, kami telah disambut oleh satpam ketika kami berdiri di depan gedung rawat inap. Satpam mengabari bahwa hanya satu orang di antara kami yang boleh masuk. Kami saling bertatapan, seolah bertelepati menentukan siapa yang akan menemui Sofia. Dua sepasang mata menatap Nana seolah memilihnya.  Saat Nana masuk ke dalam gedung, aku dan Siva duduk di pojok gedung, berbincang seberapa menegangkan mengejar waktu kunjungan yang sudah lewat.

Tak lama, sebuah panggilan video masuk ke ponselku. Aku mengangkatnya, dan di layar menampakkan video Sofia dan Nana secara langsung atau real time. Aku dan Siva mencerca Sofia dengan berbagai pertanyaan, sementara satpam yang berada di lawan arah tampak memperhatikan. Kami tak peduli; alasan sederhananya adalah karena wajah kami tertutup masker. 

Sofia sempat memberi trik untuk menyelinap masuk dengan alasan ke kamar mandi, namun kami menolak. Kami memilih aman, takut akan risiko jika ketahuan. Karena tidak bisa foto bersama, kami menangkap layar panggilan video. Meski sederhana, momen itu tetap berharga.

Kami mengucapkan doa agar Sofia lekas sembuh dan berharap bisa segera bertemu lagi sebelum panggilan video itu benar-benar berakhir. Tak lama kemudian, Nana keluar dari gedung rawat inap. Kami menuju parkiran dan berpamitan sebagai penutup dari pertemuan hari ini. Aku ke arah utara, Nana ke arah selatan, dan Siva ke arah timur. Malam itu pun ditutup dengan perpisahan arah, namun dengan satu kepastian bahwa persahabatan kami telah teruji oleh waktu. Pertemuan yang singkat itu menjadi bukti bahwa jarak, waktu, dan rintangan hanya memperkuat ikatan yang tak tergantikan.(*)