Oleh Zidane Inaas Ikbar
Pagi itu, udara kota masih terasa cukup gerah, namun tekadku sudah bulat. Aku menyalakan mesin motor, menepis sisa kantuk, dan mengarahkan kemudi menuju arah selatan. Tujuanku hari ini sederhana: Boja. Sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal yang menjanjikan kesejukan di lereng barat Gunung Ungaran, tempat yang selalu tepat untuk melarikan diri sejenak dari penatnya rutinitas.
Perjalanan mulai terasa berbeda saat aku mulai menanjak melewati daerah Mijen. Jalanan aspal yang berkelok perlahan diapit oleh hamparan hutan karet yang ikonik. Pohon-pohon karet tinggi berjajar rapi, dahan-dahannya saling bertaut membentuk semacam kanopi alami di atas kepala. Cahaya matahari pagi tersaring melalui celah dedaunan, menciptakan pendaran keemasan yang menari-nari di atas aspal.
Udara yang tadinya pengap kini berganti menjadi sejuk dan bersih. Bau khas daun kering, getah karet, dan tanah basah sisa embun semalam menyeruak masuk melalui celah helm. Di titik ini, aku memelankan laju kendaraan. Tidak ada alasan untuk terburu-buru; membiarkan ritme perjalanan selaras dengan tenangnya alam adalah cara terbaik untuk menikmati rute ini.
Memasuki pusat kawasan Boja, keramaian pasar tradisional menyambut dengan celoteh hangat warga lokal dan deretan penjual jajanan pasar. Namun, aku hanya melewatinya dan terus memacu motor lebih tinggi lagi menuju Kebun Teh Medini.
Akses jalannya mulai berubah, dari aspal mulus menjadi jalanan berbatu yang cukup menantang khas jalur pegunungan. Guncangan di atas motor seolah menjadi harga tiket masuk menuju keindahan alam. Setibanya di atas, hamparan karpet hijau sejauh mata memandang langsung menyapaku. Kabut tipis masih perlahan turun dari puncak Ungaran, menyelimuti pucuk-pucuk daun teh yang basah. Suara bising klakson kota telah sepenuhnya tergantikan oleh harmoni alam—nyanyian serangga, kicau burung, dan deru angin pegunungan.
Puas berjalan di sela-sela perdu teh dan menghirup udara pegunungan dalam-dalam, aku memutuskan untuk turun perlahan. Di pertengahan jalan pulang, aku singgah di sebuah warung kecil berdinding bambu di pinggir jalan desa.
Duduk di kursi kayu panjang, aku memesan secangkir kopi hitam dan sepiring tempe mendoan panas. Menggigit mendoan yang gurih sambil menyeruput kopi di tengah udara Boja yang dingin adalah sebuah kemewahan tersendiri.
Melihat kepulan asap dari cangkir kopiku, aku menyadari satu hal. Terkadang, kita tidak butuh liburan mahal atau pergi terlalu jauh untuk menjernihkan pikiran. Perjalanan singkat menembus hutan karet, menyapa kabut, dan menikmati kesederhanaan warga lokal di Boja sudah lebih dari cukup untuk memulihkan energi sebelum kembali menghadapi hari esok.(*)