Oleh Anas Tasya Ayu Celselia Zahra
Aku berasal dari salah satu kota di Jawa Tengah. Sebuah kota kecil di ujung perbatasan dengan Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Wonogiri yang dikenal dengan sebutan Kota Gaplek, di mana sebutan gaplek tersebut memiliki arti singkong kering. Sebutan ini tidak lain sesuai dengan kondisi alam Wonogiri, di mana masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani yang tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam singkong sebagai gantinya.
Aku bersama temanku sudah merencanakan untuk berkeliling di setiap sudut kota. Sudah hampir 1 semester tidak pulang ke kota kelahiran karena harus menempuh pendidikan di Universitas Negeri Semarang. Kita melaju beriringan berpadu dengan derunya angin. Perjalanan ini terasa ringan seolah jalanan milik berdua. Sesekali dia menoleh ke spion untuk memastikan bahwa aku tidak tertinggal.
Minggu itu sedang ada festival di alun-alun Wonogiri. Banyak sekali pameran-pameran seni yang ditampilkan, salah satunya adalah Tari Kethek Ogleng yang ditampilkan sebagai sambutan acara. Tarian ini adalah salah satu kesenian budaya kami yang sampai saat ini masih hidup. Gerakan dari para penari yang menyerupai kera sangat lincah sehingga memikat hati para penonton. Dentuman dari gamelan yang berpadu dengan suara penari itu menghadirkan suasana kembali ke masa lalu. Kami saling bertatap, merasa bangga dengan budaya yang masih terjaga di tanah kelahiran.
Saat berkeliling bazar, kami menemukan penjual nasi tiwul, yaitu makanan khas berbahan dasar tepung gaplek yang menjadi salah satu ikon kuliner. Dikukus dengan tampah bambu di atas tungku sederhana. Saat uapnya mulai mengepul, aroma khasnya menyapa lembut, mengingatkan pada kesederhanaan yang diperjuangkan. Setiap buliran kecilnya memiliki rasa manis yang samar. Aku membeli seporsi dan menikmatinya dengan sambal bawang dan ikan asin. Sederhana, namun itu letak istimewanya. Memiliki rasa yang tak kalah dengan makanan restoran bintang lima.
Terdapat pula tempat wisata lain: sebuah tampungan air besar bernama Waduk Gajah Mungkur ini menjadi tujuan kunjungan kita selanjutnya. Tak hanya sebuah bendungan, di sini juga terdapat mini zoo, water boom, jembatan kaca, perahu wisata, dan ada juga yang menawarkan kuliner ikan air tawar. Hamparan air luas dan tenang memantulkan cahaya langit yang mulai berwarna jingga. Angin berhembus lirih membawa kesejukan, membuatku betah duduk di sana.
Aku teringat masa kecil, menangis ketakutan saat diajak naik perahu bersama keluarga. Tapi kini, duduk disana bersamanya menghadirkan rasa nostalgia dan juga kebahagiaan baru. Seiring berjalannya waktu, banyak yang berubah di tempat ini. Satwa yang dulunya banyak kini tersisa beberapa, begitu juga tempat-tempat yang mulai usang dan adanya bangunan-bangunan baru. Waduk ini menjadi saksi bisu perjalanan hidupku dari masa lalu sampai saat ini.
Dari sekian banyak hal di kota ini, banyak orang mengenalnya karena sebuah makanan berbahan dasar tepung, yaitu mi ayam. Karena banyak perantau Wonogiri yang memilih untuk berjualan mi ayam dan bakso di kota-kota besar, hal ini menjadikannya identik dengan kelezatan khas Wonogiri yang konsisten. Mulai dari bumbu, tekstur mi, dan semangat wirausaha perantau yang memperkuat julukan ini.
Ada satu tempat makan langganan favoritku yang belum kusebut. Mie Ayam Pak Jiman adalah salah satu mie ayam legendaris di antara mie ayam lainnya. Tempatnya berada di pinggir jalan desa yang cukup jauh dari kota. Walaupun terpencil, tidak pernah sekalipun tempat ini sepi pengunjung. Bahkan tidak sedikit orang dari luar kota yang datang ke tempat ini hanya untuk menikmati seporsi mi ayam.
Di tengah perjalanan pulang sore itu, hujan rintik mulai turun. Kita memutuskan untuk berteduh dan memesan seporsi mi ayam masing-masing. Ciki khas mi ayam ini adalah porsi yang tanggung, sehingga kami memesan seporsi lagi untuk berdua. Ini sangat romantis. Mangkuk itu kemudian datang dengan aroma mi ayam yang mengepul dan taburan daun bawang segar yang membuat perutku bergejolak.
Hari itu aku baru tahu keunikannya menyantap mi ayam dengan menyeruput kuahnya terlebih dahulu sebelum menambahkan kecap dan sambal. Dan tidak pernah lupa, harus ada kerupuk di tangannya. Kami menikmati makan sambil tertawa ringan, yang membuat hari itu semakin berkesan.
Aku menyadari bahwa kebahagiaan sederhana seperti ini sering kali lebih terasa berharga daripada gemerlap lampu di kota-kota besar. Aku merasa bahwa ini bukan hanya sebatas tanah kelahiran, melainkan ruang yang menyimpan kenangan dan rasa yang tidak tergantikan. Setiap sudutnya memiliki cerita, dan seberapa jauh aku melangkah, kota ini akan selalu menunggu dengan pelukan yang sama hangatnya.(*)