Sehari di Anyer, Selamanya di Ingatan

Oleh Sekar Naura Indah

Aku masih ingat jelas pada hari itu, tepat setelah kami resmi lulus dari kelas 9 SMP. Rasanya campur aduk. Senang, lega, tetapi juga sedih karena aku tahu kebersamaan dengan teman-temanku tidak akan lama lagi. Untuk merayakan kebersamaan terakhir kami, aku dan teman-temanku memutuskan pergi ke Pantai Anyer untuk menginap di sana.

Sebelum hari itu tiba, kami menyusun berbagai rencana yang akan kami lakukan nantinya. Mulai dari transportasi yang akan kami gunakan, penginapan terbaik yang akan menjadi tempat kami bermalam, hingga destinasi dan permainan yang ingin kami coba bersama.

Akhirnya, hari yang kami nantikan pun tiba. Perjalanan menuju Anyer terasa berbeda dari biasanya. Di dalam mobil, kami tertawa lebih keras, bercanda tanpa henti, seolah ingin mengabadikan setiap momen sebelum semuanya berubah. Aku duduk di dekat jendela, sesekali melihat ke luar sambil tersenyum sendiri, sadar bahwa ini mungkin salah satu perjalanan terakhir kami sebagai “anak SMP” yang masih lengkap bersama.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami pun tiba di tempat penginapan kami, yaitu Hotel Hawaii. Hotelnya terasa asri dan menenangkan, dengan pepohonan kelapa yang rindang dan angin sepoi-sepoi yang langsung seolah menyambut kami sejak turun dari kendaraan. Pada saat orang tua temanku sedang mengurus administrasi di resepsionis, kami berkeliling halaman hotel untuk menghirup udara segar. Kami melihat pantai, taman, bahkan kami menemukan satu tempat tersembunyi yang berisi biliar, yang cukup tersembunyi di bagian belakang hotel. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi justru terasa seru karena seperti menemukan “spot rahasia”.

Tak lama kemudian, orang tua temanku memanggil kami karena kunci kamar kami sudah siap. Kami pun bergegas menuju kamar dan segera masuk sambil membawa barang masing-masing. Dengan perasaan senang, kami menaiki tangga dan mencari kamar yang sesuai dengan nomor kamar kami. Begitu sampai, kami langsung membagi tempat tidur dan menaruh barang-barang kami di sudut kamar. Kamar yang kami tempati ternyata cukup luas, dilengkapi dengan dua kamar tidur, ruang TV, dapur kecil, kamar mandi, serta balkon yang menyajikan pemandangan pantai yang sangat indah. Kami berjumlah 7 orang, jadi kami dibagi ke dalam satu kamar: ada yang berisi 3 orang dan ada yang berisi 4 orang.

Rasa lelah setelah perjalanan membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar, lalu bersama-sama menikmati bekal yang kami bawa dari rumah. Kami memakan sembari bercanda gurau, berbagi cerita, dan tertawa tanpa henti. Setelah selesai menikmati bekal kami, kami berganti pakaian untuk bermain di pantai bersama-sama. Dengan penuh semangat, kami berjalan menuju pantai sambil sesekali berlari kecil, tak sabar merasakan air laut.

Sesampainya di pantai, kami melihat deretan wahana air yang menarik perhatian, seperti banana boat dan donut boat yang sedang disewakan. Tanpa berpikir lama, kami langsung bersepakat untuk mencoba kedua wahana tersebut. Dengan perasaan campur aduk, antusias dan juga tegang karena ini pertama kalinya aku mencoba kedua wahana ini, kami mulai mengenakan pelampung dan naik ke atas banana boat. Saat perahu mulai melaju, angin yang menghembus seolah membuat semua permasalahan di dalam hidupku seakan ikut hanyut dan menjauh. Aku pun ikut kembali larut dalam keseruan, menikmati setiap detik kebersamaan yang terasa begitu berharga. Ombak yang datang silih berganti dan teriakan kami yang bersahutan membuat suasana semakin hidup, seolah waktu berjalan lebih lambat agar momen itu bisa kami rasakan lebih lama.

Sampai tiba-tiba di pertengahan laut, banana boat yang kami tumpangi terbalik dan kami terjatuh dan mengapung di laut yang sangat luas. Kami tertawa melihat satu sama lain yang berusaha bangkit dari tenggelam. Salah satu teman kami yang berada di perahu tertawa dan mendokumentasikan kami yang tercebur ke laut. Kami pun kemudian dibantu oleh petugas penyewa wahana yang mendampingi perahu hingga akhirnya kami bisa kembali naik dan melanjutkan keseruan.

Seusai bermain wahana banana boat, kami mencoba wahana lain, yaitu donut boat. Wahana ini tidak semenantang yang sebelumnya, tetapi di sini kita harus berpegangan yang sangat erat karena ombak yang sangat kencang membuat kami terombang-ambing. Sungguh sangat menyenangkan mencoba hal baru bersama teman-temanku. Aku berharap kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari itu, tetapi juga bisa terus kami kenang dan rasakan meskipun suatu saat nanti kami akan berjalan di jalan hidup masing-masing.

Selesai bermain di semua wahana, kami menutup keseruan hari itu dengan bermain pasir, meskipun badan kami sudah basah kuyup setelah sebelumnya terjatuh di tengah laut. Aku dan teman-temanku membuat istana dari pasir, bahkan saling mengubur tubuh satu sama lain. Matahari perlahan mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga yang indah. Menyadari hari mulai gelap, kami pun bergegas membasuh tubuh dan kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, kami langsung bergantian, bahkan hampir berebut kamar mandi karena ingin segera membersihkan diri setelah seharian bermain di pantai.

Malam pun tiba. Kami telah merencanakan untuk menonton bersama di salah satu kamar. Sebelum kami menonton bersama, aku dan teman-temanku memasak untuk makan malam kami. Aku dan salah seorang temanku memasak daging yang telah kami bawa dari rumah. Sisanya ada yang memasak nasi dan bahkan ada yang hanya menunggu masakan jadi. Kami makan bersama di meja bundar dengan canda tawa yang membuat suasana semakin hangat.

Seusai makan malam, kami berkumpul di satu kamar untuk menonton bersama. Tontonan yang kami pilih bergenre horor. Hari pun mulai malam. Aku dan teman-temanku sudah mulai terasa kantuk. Ada salah satu temanku yang ingin buang air kecil. Toilet kami berada di luar kamar, sehingga temanku harus seorang diri keluar dari kamar untuk buang air kecil. Beberapa saat setelah temanku keluar, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pelan dari pintu kamar mandi. Awalnya ia mengira itu salah satu dari kami yang menyusul, tetapi saat ia bertanya, tidak ada jawaban sama sekali. Ketukan itu terdengar lagi, membuatnya mulai merasa tidak nyaman. Dengan perasaan campur aduk antara takut dan bingung, ia pun bergegas menyelesaikan urusannya dan kembali ke kamar. Saat ia menceritakan kejadian itu, kami semua saling berpandangan karena tidak ada satu pun dari kami yang keluar atau mengetuk pintu kamar mandi saat itu.

Setelah mendengar cerita itu, suasana kamar yang tadinya ramai mendadak menjadi sunyi. Kami sempat saling meyakinkan dan mencoba menenangkan satu sama lain, meskipun rasa takut masih tersisa. Beberapa dari kami memilih untuk tetap berkumpul di satu kamar agar merasa lebih aman. Tak lama kemudian, rasa lelah setelah seharian beraktivitas mulai mengalahkan rasa takut. Percakapan kami pun perlahan mereda, hingga akhirnya satu per satu tertidur, membiarkan malam berlalu dengan sisa-sisa cerita yang masih teringat di pikiran kami.

Matahari pun mulai menyinari langit pagi dengan cahaya hangatnya. Kami pun merencanakan untuk berenang di kolam. Setelah bersiap, kami bergegas menuju kolam dengan penuh semangat, tak sabar untuk kembali menikmati keseruan bersama. Aku pun telah menyiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan saat berenang, lalu kami bermain sampai lupa waktu, tertawa dan saling berseru memenuhi suasana pagi yang cerah. Setelah kami selesai berenang dan mandi, aku dan teman-temanku menikmati sarapan bersama sebelum akhirnya bersiap untuk pulang.

Perjalanan singkat itu menjadi salah satu kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan. Kebersamaan, tawa, dan berbagai pengalaman yang kami lewati bersama membuat momen tersebut terasa begitu berarti. Meski pada akhirnya kami harus berpisah dan melanjutkan perjalanan hidup masing-masing, kenangan itu akan selalu tersimpan di dalam ingatanku sebagai bagian indah dari masa SMP kami.(*)