Lopis Raksasa: Simbol Rekatnya Persaudaraan di Jantung Kota Batik

Oleh Irdina Zahra

Pekalongan bukan sekadar titik di peta jalur Pantura, melainkan sebuah kota di mana denyut nadinya berdetak seirama dengan aroma malam batik dan deburan ombak Laut Jawa. Dikenal sebagai kota batik dunia, Pekalongan memiliki karakter yang unik, menggabungkan semangat pesisiran yang terbuka dengan kedalaman nilai-nilai religius yang kental. Di sini, modernitas tidak lantas mengubur akar tradisi, melainkan merawatnya hingga tumbuh menjadi identitas yang membanggakan bagi setiap warganya.

Kehidupan di kota ini selalu terasa hangat, terutama karena keramahtamahan penduduknya. Setiap sudut jalan seolah memiliki cerita, mulai dari bangunan kolonial yang masih berdiri kokoh di kawasan Jetayu hingga gang-gang sempit di perkampungan yang penuh dengan aktivitas membatik. Namun, di balik kemasyhuran kain-kain indahnya, Pekalongan menyimpan satu perayaan kolosal yang selalu dinantikan setiap tahunnya sebagai puncak dari keriuhan hari raya.

Perayaan tersebut adalah tradisi Lopis Raksasa, sebuah perhelatan budaya yang menjadi magnet bagi ribuan orang dari berbagai penjuru. Tradisi ini secara khusus diselenggarakan pada hari ketujuh atau kedelapan bulan Syawal, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai hari “Syawalan”. Bagi warga Pekalongan, Lebaran belum benar-benar usai sebelum mereka berkumpul di Kelurahan Krapyak untuk menyaksikan pemotongan lopis yang ukurannya melampaui nalar manusia pada umumnya.

Krapyak, sebuah wilayah yang dikenal sebagai kampung religius di Pekalongan, menjadi titik nol dari tradisi ini. Sejarah mencatat bahwa tradisi lopis ini pertama kali dicetuskan oleh para pemuka agama setempat, termasuk KH Abdullah Sirodj, sebagai simbol persatuan dan kesederhanaan. Lopis dipilih bukan tanpa alasan, tetapi karena makanan yang terbuat dari beras ketan ini memiliki sifat yang sangat lengket setelah matang, melambangkan eratnya tali silaturahmi antarwarga.

Persiapan pembuatan lopis raksasa ini dimulai jauh-jauh hari, melibatkan gotong royong warga yang luar biasa. Bayangkan saja, untuk membuat satu buah lopis raksasa, dibutuhkan ratusan kilogram beras ketan kualitas terbaik yang dicuci dengan penuh ketelitian. Warga laki-laki biasanya bertugas menyiapkan kerangka bambu yang besar dan kuat, sementara para ibu menyiapkan daun pisang sebagai pembungkus yang memberikan aroma harum yang khas.

Proses memasaknya pun menjadi sebuah petualangan tersendiri yang menguras waktu dan tenaga. Lopis raksasa ini harus dikukus di dalam dandang raksasa selama berhari-hari, biasanya mencapai 48 hingga 72 jam tanpa henti, agar matang dengan sempurna hingga ke bagian paling dalam. Api harus tetap dijaga agar tidak padam, menciptakan suasana kebersamaan di mana warga bergantian berjaga sepanjang malam sambil bercengkerama dan menyeruput kopi.

Ketika hari Syawalan tiba, suasana di Krapyak berubah menjadi lautan manusia yang penuh kegembiraan. Lopis yang telah matang, yang beratnya kini bisa mencapai 1,5 hingga 2 ton dengan tinggi lebih dari dua meter, diarak menuju panggung utama. Aroma harum ketan yang berpadu dengan wangi daun pisang yang layu terkena panas mulai menyeruak di udara, memicu rasa lapar sekaligus rasa kagum dari setiap mata yang memandang.

Kehadiran Wali Kota dan para tokoh masyarakat menambah khidmat suasana prosesi pemotongan pertama. Begitu pisau besar mulai mengiris bagian atas lopis, sorak-sorai warga pecah membelah langit Pekalongan. Ada kepercayaan bahwa mendapatkan potongan lopis ini akan membawa berkah dan mempererat persaudaraan, sehingga tidak heran jika antrean untuk mendapatkan seporsi kecil lopis ketan ini bisa mengular hingga ratusan meter.

Lopis yang telah diiris kemudian dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang datang, biasanya disajikan dengan taburan parutan kelapa yang gurih. Setiap suapan lembut dari ketan yang kenyal itu bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya persatuan. Rasa manis dan gurih yang menyatu di dalam mulut seolah merepresentasikan kerukunan antaretnis dan budaya yang selama ini terjaga dengan baik di Kota Pekalongan.

Di balik kemeriahan dan besarnya ukuran lopis tersebut, terselip filosofi mendalam tentang kekuatan dalam kebersamaan. Lopis raksasa tidak mungkin terwujud jika dikerjakan oleh satu orang saja; ia adalah hasil dari keringat, tawa, dan kerja keras kolektif seluruh masyarakat. Hal ini menjadi cermin bagi Kota Pekalongan sendiri, sebuah kota yang tetap kokoh berdiri karena warganya saling merekat erat layaknya butiran ketan di dalam lopis.

Menghadiri tradisi Lopis Raksasa di Pekalongan selalu memberikan kesan yang mendalam bagi siapa pun. Bukan sekadar tentang melihat makanan dalam skala besar, melainkan tentang merasakan energi kehidupan yang penuh syukur dan keguyuban. Pulang dari Krapyak, seseorang tidak hanya membawa perut yang kenyang, tetapi juga hati yang penuh dengan rasa kagum akan keindahan budaya yang terus dirawat dengan cinta di jantung kota batik ini. (*)