Oleh Charissa Khairina
Indonesia memiliki banyak sekali gunung, salah satunya adalah Gunung Ungaran yang terletak di selatan Kota Semarang, Jawa Tengah. Gunung ini cukup populer, terutama bagi pendaki pemula karena jalurnya yang relatif pendek, hanya sekitar 3–4 jam perjalanan, serta kondisi jalur yang landai di awal. Gunung Ungaran juga menawarkan pemandangan yang indah, seperti kebun teh dan hutan tropis. Selain itu, gunung ini termasuk dalam jenis gunung berapi stratovolcano yang tidak aktif dengan ketinggian sekitar 2.050 mdpl. Keindahan Gunung Ungaran itulah yang membuatku sejak dulu ingin mencoba naik gunung.
Sejak dulu, aku sangat ingin mencoba naik gunung. Namun, orang tuaku tidak mengizinkan karena khawatir tidak ada yang menemani dan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sampai akhirnya, aku mengikuti sebuah organisasi yang salah satu kegiatannya adalah pendakian gunung untuk pengukuhan anggota. Oleh karena itu, aku merasa sangat senang karena salah satu alasanku bergabung adalah agar bisa merasakan pengalaman naik gunung.
Selanjutnya, aku pun meminta izin kepada orang tua, dan syukurnya mereka mengizinkan karena kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok dan didampingi oleh orang-orang yang lebih berpengalaman. Sebelum pendakian, kami diwajibkan mengikuti latihan persiapan seperti berlari atau berjalan kaki sejauh kurang lebih 3,2 km. Selain itu, kami juga beberapa kali berlatih melewati jalanan yang menanjak dan menurun.
Jujur saja, latihan tersebut cukup melelahkan. Setiap melewati jalan menanjak, kakiku terasa sangat berat dan cepat lelah. Namun demikian, setiap kali merasa capek, aku selalu membayangkan bagaimana rasanya nanti saat benar-benar berada di gunung. Pikiran itu membuatku tetap bersemangat dan tidak menyerah.
Menjelang hari pengukuhan, aku benar-benar tidak sabar. Kemudian, kami berangkat menuju lokasi menggunakan truk. Di dalam truk terasa sangat sesak, ditambah bagian atas yang tertutup membuat udara yang masuk sangat sedikit. Bahkan, aku sempat merasa mual. Meskipun begitu, perjalanan itu tetap terasa seperti perjuangan yang menyenangkan karena dilakukan bersama-sama.
Setelah beberapa waktu, kami akhirnya sampai di lokasi. Aku merasa sangat lega karena bisa turun dari kendaraan dan menghirup udara segar. Rasa senang dan semangatku semakin bertambah karena sebentar lagi kami akan memulai perjalanan menuju basecamp untuk bermalam sebelum pendakian utama ke puncak dilakukan keesokan harinya.
Setelah beristirahat sejenak, perjalanan menuju tempat bermalam pun dimulai dengan perasaan campur aduk antara takut dan senang. Cuaca saat itu cukup terik, tetapi pemandangannya sangat indah. Semakin tinggi kami berjalan, semakin banyak pepohonan yang membuat suasana menjadi lebih sejuk. Sepanjang perjalanan, kelompokku saling mengobrol dan bernyanyi agar suasana tidak terasa sepi, sehingga perjalanan terasa sangat menyenangkan.
Selain itu, aku sangat bersyukur mendapatkan kelompok yang saling pengertian dan saling membantu. Namun, ada salah satu anggota yang kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Kami sebenarnya ingin menunggu, tetapi karena kondisi tidak memungkinkan, kami diminta untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu karena sudah ada yang mendampinginya. Meskipun demikian, kami tetap saling mendukung satu sama lain.
Perjalanan terasa cukup melelahkan, terutama karena harus terus menanjak sambil membawa tas yang tidak ringan. Namun, kami berusaha menikmatinya dengan bercanda, bernyanyi, bahkan saling menyemangati. Di sisi lain, ada juga momen seru ketika kami seperti “berlomba” dengan kelompok lain agar bisa sampai lebih dulu.
Sesampainya di tempat bermalam, kami beristirahat, mandi, makan, dan mengikuti beberapa permainan. Setelah itu, kami tidur untuk mempersiapkan pendakian ke puncak yang dilakukan dini hari. Ketika bangun sekitar pukul 2 atau 3 pagi, udara terasa sangat dingin. Awalnya, aku memakai beberapa lapis pakaian, tetapi ternyata itu membuatku kepanasan saat berjalan, sehingga aku melepas satu lapisan baju.
Selanjutnya, pendakian menuju puncak terasa lebih menantang karena dilakukan dalam keadaan gelap. Meskipun menggunakan senter, jalan tetap sulit terlihat, ditambah jalur yang lebih curam dan sempit. Di beberapa sisi bahkan terdapat jurang yang membuatku merasa cukup takut. Namun demikian, kami tetap berjalan sambil sesekali mengobrol dan beristirahat agar tidak terlalu tegang.
Seiring dengan semakin dekatnya kami ke puncak, rasa lelah mulai terbayar dengan pemandangan yang luar biasa. Aku bisa melihat bintang-bintang dengan sangat jelas dan juga pemandangan lampu kota dari kejauhan. Rasanya ingin berhenti lebih lama untuk menikmati suasana itu, tetapi perjalanan harus tetap dilanjutkan.
Akhirnya, kami sampai di puncak. Kami melakukan dokumentasi, beristirahat, dan melaksanakan ibadah. Setelah itu, acara pengukuhan dimulai. Kami juga diberi waktu untuk berfoto bersama maupun sendiri. Kami merasa sangat beruntung karena cuaca saat itu cerah, berbeda dengan tahun sebelumnya yang hujan. Pemandangan matahari terbit juga sangat indah, dengan warna langit yang begitu cantik.
Sebagai penutup, pengalaman pertama kali naik gunung ini benar-benar berkesan bagiku. Meskipun melelahkan, semua terasa menyenangkan dan tidak terlupakan. Aku merasa bahwa setiap orang sebaiknya mencoba naik gunung setidaknya sekali dalam hidupnya. Setelah pengalaman ini, aku juga ingin kembali mendaki gunung jika ada kesempatan di lain waktu.(*)