Oleh Muhamad Rifqi Amril Latif
Suatu hari waktu aku masih duduk di bangku SMA, tepatnya kelas sebelas. Masa-masa di mana rasanya campur aduk antara sibuk sekolah, sibuk organisasi, tapi juga masih pengen banyak main. Di situlah awal mula aku dan empat temanku nekat pergi kamping ke Wisata Alam Kali Ndayung yang tempatnya ada di Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Ide itu muncul dari obrolan ringan di kantin belakang sekolah saat jam istirahat. Saat itu, seperti biasa, kami duduk melingkar dengan jajanan sederhana di tangan, mengeluhkan tugas-tugas yang menumpuk dan rutinitas yang terasa monoton dan sangat membosankan. Tidak ada yang spesial, hanya percakapan khas anak SMA yang kadang serius, kadang penuh candaan. Sampai akhirnya salah satu dari kami berkata, “Kamping yuk sekali-sekali.” Kami semua tertawa lepas, menganggap itu hanya sebuah gurauan. Namun, semakin lama dibicarakan, ide itu justru terasa semakin menarik. Ada rasa penasaran, ada semangat petualangan kecil yang tiba-tiba muncul. Hingga akhirnya, tanpa banyak pertimbangan panjang, kami semua sepakat untuk benar-benar pergi kamping.
Kami sepakat berangkat hari Sabtu pagi dan pulang Minggu siang. Tantangan pertama tentu saja meminta izin orang tua kita masing-masing. Aku masih ingat bagaimana aku menyusun kalimat sebaik mungkin supaya terdengar meyakinkan dan diizinkan pergi kemping malam sama teman-temanku. Awalnya sempat enggak diizinin orang tuaku karena mainnya sampai malam, tapi untungnya setelah aku jelaskan detailnya kalau aku perginya ramai-ramai dan janji bakal jaga diri baik-baik, akhirnya aku diizinkan.
Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Kami berangkat naik motor, konvoi lima orang dengan membawa tenda kamping dan tas sekolah seadanya. Isinya campur aduk, mulai dari baju ganti sampai mi instan dan sosis. Sepanjang perjalanan kami banyak tertawa menikmati indahnya pemandangan di sepanjang jalan, meski sempat ditegur warga karena terlalu berisik saat berhenti di pinggir jalan.
Sesampainya kami di lokasi, kami menitipkan motor di rumah salah satu warga. Setelah itu, kami jalan kaki menuju Kali Ndayung yang jaraknya kurang lebih sekitar 1 KM dari rumah warga. Sesampainya di sana, rasa capek setelah perjalanan panjang langsung terbayar. Pemandangannya sangat indah, suasana alamnya masih asri, suara sungai terdengar jelas, dan udara terasa jauh lebih segar dibanding suasana sekolah yang penuh hiruk-pikuk. Kami memilih tempat yang cukup datar dan dekat dengan sungai untuk mendirikan tenda, meski butuh waktu lama karena belum ada yang benar-benar ahli mendirikan tenda. Lucunya, kami sempat salah arah memasang tiang sehingga tenda berdiri miring. Bukannya panik, kami malah saling menyalahkan sambil tertawa dan bercanda. Rasanya memang khas anak SMA; semua hal bisa jadi bahan candaan. Setelah beberapa kali bongkar pasang, akhirnya tenda berdiri juga meskipun tidak sempurna dan agak sedikit miring.
Siang harinya, tanpa banyak berpikir panjang, kami langsung menuju sungai yang sejak tadi sudah menggoda untuk diselami. Airnya terlihat sangat jernih dan mengalir cukup deras. Saat pertama kali kakiku menyentuh air, rasa dinginnya langsung terasa menusuk hingga ke tulang. Bahkan, saat aku memberanikan diri untuk nyemplung sepenuhnya, tubuhku sempat kaget dan refleks menarik napas dalam-dalam. Tapi justru di situlah keseruannya dimulai.
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menyesuaikan diri. Kami mulai bermain air dengan penuh canda dan tawa, saling menyipratkan air ke teman, lomba berenang, bahkan ada temanku yang usil dan dia sengaja menyelam hanya untuk mengagetkan yang lain. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi ramai oleh suara tawa kami yang pecah waktu itu. Kami pun tidak ketinggalan untuk berfoto-foto di sungai, berusaha menampilkan pose foto paling keren versi kami pada saat itu, meskipun sekarang kalau diingat masa-masa itu justru terasa lucu dan sedikit memalukan.
Di tengah keseruan itu, tiba-tiba ada salah satu temanku terpeleset saat mencoba melompat ke sungai dari batu yang licin. Batu-batu di sungai memang licin karena lumut, dan dalam sekejap dia sudah terjatuh ke air dengan posisi yang cukup dramatis. Kami awalnya sempat kaget pada waktu itu, tapi setelah melihat dia baik-baik saja setelah terpleset, reaksi kami justru berubah menjadi tawa. Kejadian itu langsung jadi bahan candaan yang tidak ada habisnya sepanjang hari. Dia di ledekin terus oleh kami berempat, dan dia sendiri akhirnya ikut tertawa, meskipun sempat menjadi korban ledekan kami.
Momen sederhana itu terasa begitu menyenangkan. Tidak ada beban, tidak ada pikiran rumit, yang ada hanyalah canda dan tawa, kebersamaan, dan kebebasan menjadi diri sendiri. Dan tanpa kami sadari saat itu, justru momen-momen seperti inilah yang nantinya akan paling sering kami rindukan. Bukan tentang seberapa mewah atau besar pengalaman yang kami jalani, tetapi tentang kebersamaan yang tulus, yang mungkin tidak akan mudah terulang ketika masing-masing dari kami mulai berjalan di jalan hidup yang berbeda.
Menjelang sore, suasana berubah jadi lebih tenang. Cahaya matahari mulai redup dan udara perlahan terasa dingin. Kami mulai menyiapkan makan malam. Kami membawa nasi yang kami bawa sendiri-sendiri dari rumah masing-masing. Kemudian nasi itu kita jadikan satu untuk dimakan bersama. Untuk lauknya, kami membuat telur ceplok, mi instan, dan sosis goreng. Kami memasaknya seadanya pakai kompor portabel yang kita bawa dari rumah. Setelah masakannya sudah jadi, kami duduk melingkari nasi yang sudah dijadikan satu tadi untuk dimakan bersama. Rasa masakannya mungkin biasa saja, tetapi karena dimakan bersama dan dalam keadaan perut lapar, rasanya jadi sangat enak dan lezat.
Malam hari jadi momen yang paling aku ingat. Kami duduk melingkar di depan tenda, ditemani api unggun kecil yang kita buat dengan kayu seadanya. Awalnya kami cuma ngobrol-ngobrol biasa, tapi obrolannya semakin lama mulai serius, beda dari biasanya di sekolah. Kami bercerita soal cita-cita, jurusan kuliah yang diimpikan, bahkan kekhawatiran tentang masa depan kami masing-masing. Kami saling merangkul dan saling berjanji apabila ada satu di antara kami berlima yang sukses duluan, kami akan saling membantu dan saling merangkul satu sama lain. Di situ aku merasa pertemanan kami bukan cuma soal bercanda, tapi juga saling mendukung.
Tentu saja, malam itu ada sesi cerita horor. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, suasana sudah cukup bikin merinding dengan suara alam yang gelap dan sunyi. Kami pura-pura berani, padahal sebenarnya kami saling mendekat karena merasa takut. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke tenda karena udara semakin dingin dan rasa takut makin terasa. Kami tidur berdesakan lima orang dalam satu tenda kecil yang agak miring dan melanjutkan cerita horor tadi. Setelah semuanya sudah mulai ketakutan, kami pun berlomba-lomba untuk tidur. Ada yang mendengkur keras, ada yang gelisah karena dingin. Aku sendiri beberapa kali terbangun karena mendengar suara air sungai yang terdengar lebih keras saat malam. Meskipun begitu, ada rasa nyaman karena tahu teman-teman ada di sampingku.
Pagi harinya aku bangun lebih dulu dibanding teman-temanku. Udara terasa sejuk sekali, sedikit berkabut. Aku duduk di atas batu dekat sungai sambil menikmati suasana pagi. Di momen itu, tanpa sadar aku mulai berpikir lebih jauh. Aku menyadari bahwa kebersamaan seperti ini mungkin tidak akan sering terulang lagi di masa depan. Waktu akan terus berjalan, dan cepat atau lambat kami akan lulus SMA nantinya, melanjutkan hidup dengan jalan masing-masing. Mungkin nanti kami akan sibuk dengan kuliah, pekerjaan, dan tanggung jawab yang semakin besar. Dan bisa jadi, momen sederhana seperti duduk bersama di alam terbuka seperti ini akan menjadi sesuatu yang sulit untuk diulang.
Kesadaranku itu membuatku sedikit terdiam, tapi juga sekaligus bersyukur. Bersyukur karena pernah merasakan kebersamaan yang sederhana, namun begitu sangat berarti. Pagi itu bukan hanya tentang udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, tetapi juga tentang sebuah pengingat bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti dan setiap momen yang kita jalani hari ini suatu saat nanti akan menjadi kenangan.
Tak lama kemudian, teman-temanku pada bangun dan menyiapkan sarapan pagi. Meskipun makanannya tersisa mi instan dan sosis saja, kami tetap makan bareng-bareng sambil bercerita dengan canda dan tawa. Setelah sarapan sederhana, kami pun bersama-sama membongkar tenda dan membersihkan tempat kamping. Setelah semuanya sudah bersih dan beres, kami bersiap-siap untuk pulang. Sebelum pulang, kami tidak lupa berfoto bersama dengan gaya dan wajah polos khas anak SMA. Dan sampai sekarang aku memajang foto itu di dinding kamar tidurku.
Sekarang, setiap kali mengingat masa SMA, kamping di Kali Ndayung bersama teman-teman selalu jadi salah satu kenangan paling indah pada masanya. Bukan karena tempatnya saja yang bagus, tetapi karena kebersamaan aku dan teman-temanku yang tulus dan sederhana. Dari situ aku belajar bahwa masa muda bukan cuma soal sekolah dan nilai, tapi juga tentang menciptakan cerita yang suatu hari nanti akan kita kenang dengan senyuman.(*)