Oleh Renata Hutami Sarinastiti
Ada sebuah tempat yang saya yakin akan membuat semua yang membaca perlahan akan menemukan sedikit keinginan untuk berkunjung ke sini. Saya akan menceritakan semua hal yang semoga saja dapat membekas dalam ingatan siapa pun yang membaca tulisan ini. Jika kamu membacanya sendiri, tidak masalah; akan saya temani. Tempat ini bernama Rowo Jombor. Rowo (rawa) diartikan sebagai sebuah telaga yang besar, hampir mirip dengan waduk. Dikelilingi oleh vegetasi dan perbukitan yang bisa dilihat secara jelas. Bukan seram, tetapi menakjubkan. Terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Provinsi Jawa Tengah.
Sebelum masuk ke dalam sejarah adanya tempat ini, saya ingin mengajak Anda untuk sedikit membayangkan sekeliling Rowo Jombor. Ketika pagi, tempat ini menjadi sebuah pemantik sinar matahari yang sangat mengagumkan. Tepi-tepi berbatasan dengan sawah yang melebar luas dari arah barat, dan dilengkapi dengan sebuah bukit hijau yang juga mengelilingi dari arah utara, timur, dan selatan. Berdekatan juga dengan rumah penduduk asli Desa Krakitan. Ketika siang, banyak orang yang sedang lapar berdatangan untuk merasakan sebuah kenikmatan makan di atas rawa dengan kapal sebagai sarana. Sebut saja warung apung. Warung yang beroperasi di dalam kapal. Salah satu pengalaman yang bisa dijadikan sebuah cerita eksperimen. Sungguh menyenangkan, bukan?
Satu waktu yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, ialah ketika waktu sore akan menjemput malamnya. Siapa yang tidak tertarik untuk memandang indahnya matahari terbenam? Di tempat ini, senja terlihat begitu mengagumkan dan bersiap untuk memanjakan siapa pun yang datang melihatnya. Jika sebelumnya orang lapar yang mendatanginya, sekarang orang yang ingin bergembira ria menikmati jajanan kecil yang dijejer rapi sepanjang jalan Rowo Jombor yang akan mendatanginya. Bersama teman, keluarga, atau bahkan kekasih tercinta. Karpet dijalar rapi dan terjadilah percampuran topik bicara dari berbagai kalangan usia.
Aduh, saya terlupa untuk menceritakan satu lagi keindahan yang dirangkul oleh Rowo Jombor. Kapal-kapal yang didesain dengan kerlap-kerlip lampu yang menyala secara bergantian akan mulai berlayar pada sore hari. Siapa pun boleh menaikinya, siapa pun boleh menangkap gambar dengannya, dan siapa pun boleh untuk menjadikannya sebagai tempat melepas beban dan pikiran. Kapal-kapal akan saling bersahutan satu sama lain dan akan menciptakan sebuah euforia yang sangat spektakuler. Percayalah, ini seperti berada dalam angan-angan yang susah untuk diperjelas.
Jika cerita ini sudah berhasil menembus imajinasi kamu, saya akan beralih untuk menceritakan mengapa ada tempat seindah ini di Desa Krakitan, alias sejarahnya. Sebelumnya, saya ingin bertanya apakah ini terlihat sebagai destinasi yang sejak dulu sudah berdiri secara alami? Jika menjawab iya, maka saya akan mengatakan kurang tepat. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1856, sebelum negara kita merdeka, masyarakat bersama-sama membuat sebuah waduk yang tujuan utamanya ialah untuk menampung air irigasi sawah-sawah yang berada di wilayah Kecamatan Bayat dan sekitarnya. Dibangun di atas luas 198 hektar dengan kedalaman sekitar 4 hingga 5 meter. Ini menjadikan Rowo Jombor sebagai salah satu sumber mata air terbesar yang ada di wilayah Kabupaten Klaten.
Namun, seiring berjalannya waktu, waduk yang sekarang kita sebut sebagai Rowo Jombor telah berkembang menjadi sebuah kawasan wisata alam dan kuliner yang sangat populer. Selain yang sudah disebutkan di awal, ada satu daya tarik yang melengkapi wisata Rowo Jombor ini, yaitu kegiatan masyarakat lokalnya. Di sana, banyak masyarakat yang melakukan budidaya ikan keramba. Siapa pun yang datang bisa saja melihat dan mengamati budidaya ikan ini. Setelah itu, hasil tangkapan ikan segar ini dijual dan menjadi salah satu sumber pencaharian masyarakat Desa Krakitan dengan memanfaatkan potensi desa yang cukup baik.
Ada satu lagi. Maaf jika saya selalu menambahkan sebuah cerita lagi dan lagi, karena saya pun tidak dapat memungkiri bahwa pesona alam Rowo Jombor ini banyak sekali yang harus kita ceritakan. Memancing. Iya memancing. Para pemuda, para pemudi, dan semua orang yang memiliki kesenangan menangkap ikan dapat memancing di sini. Selain untuk budidaya ikan, tujuan akhir dari budidaya ini adalah dijual. Para wisatawan juga dapat ikut serta dalam memancing ikan di rawa ini. Sungguh luar biasa.
Dari semua keindahan yang sudah dituliskan pada paragraf sebelumnya, kini saya juga akan menceritakan tentang sebuah mitos atau misteri yang masih hidup di desa ini. Ini sudah memasuki babak keseriusan. Saya menyarankan untuk membaca dengan teliti dan jangan menelan informasi ini secara mentah. Menurut informasi yang saya dapat, awal mula desa ini adalah sebagai perkampungan yang kemudian ditenggelamkan. Jadi, pada jaman dulu, rawa ini merupakan sebuah perkampungan yang padat penduduk, yang kemudian dijadikan waduk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk irigasi. Dari sinilah perkampungan itu ditenggelamkan dan dibangun sebagai mata penyediaan air untuk menunjang segala kepentingan pada masa itu.
Kemudian selanjutnya, ini adalah sebuah hal yang sedikit mengerikan. Bahwa konon di tengah-tengah rawa ini terdapat sebuah makam seluas kurang lebih 300 meter persegi yang dulunya merupakan sebuah bukit kecil. Dan ajaibnya, makam ini bisa tetap bertahan dan tidak pernah tenggelam meskipun air rawa sedang naik. Sungguh luar biasa.
Lain daripada itu, mitos selanjutnya adalah adanya penjaga tak kasat mata dan mungkin sangat sulit untuk dicerna bagi sebagian orang yang tidak mempercayai hal mistis. Konon katanya, Rowo Jombor ini dijaga oleh sesosok makhluk gaib berwujud ular hijau besar. Makhluk inilah yang sering diduga sebagai salah satu penyebab dari adanya kecelakaan atau kejadian jika seseorang meninggal di sekitar daerah ini, terkhususnya para wisatawan. Makhluk ini disebut kerap meminta tumbal. Sebenarnya ini sulit untuk dinalar secara logis. Wallahu a’lam.
Namun, cerita ini hanya dikenang sebagai mitos dari Rowo Jombor, dan siapa pun boleh tidak mempercayainya. Yang pasti, Rowo Jombor kini telah lahir kembali sebagai pesona wisata alam yang sangat cantik untuk masyarakat Desa Krakitan. Wisata ini kembali dirawat dan diklaim sebagai salah satu produk wisata yang harus dikunjungi apabila sedang berada di wilayah Klaten. Dari keindahan alamnya, saya yakin bahwa siapa pun yang datang, mungkin hanya sekadar bermain, akan menjadikannya sebagai salah satu memori terindah yang pernah ada.
Sungguh, keindahan Kota Klaten sangat berani untuk bersaing dengan wisata lain, salah satunya adalah Rowo Jombor. Seperti yang sudah saya singgung pada awal cerita, Klaten merupakan salah satu kota yang memiliki banyak sumber mata air. Keunikan lain dari kota saya ini adalah memiliki banyak sekali umbul yang airnya sangat menyegarkan dan bisa membuat siapa pun yang mengunjunginya pasti ingin berlama-lama di sana. Mungkin lain kesempatan, saya akan menceritakan kembali terkait kota ini. (*)