War Takjil, Menyatukan Keberagaman pada Bulan Ramadan

Bulan Ramadan selalu menjadi bulan yang sangat dinantikan oleh semua umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu hal yang paling dinanti oleh masyarakat Indonesia adalah jajanan khas Ramadan. Menjelang berbuka biasanya orang-orang akan berburu jajanan buka puasa atau biasa disebut takjil untuk berbuka puasa. Namun, bukan umat Islam saja yang berburu takjil. Umat agama lain pun ikut berburu takjil. Fenomena ini belakangan ramai disebut War Takjil. 

Fenomena War Takjil ini awalnya ramai di media sosial. Memperlihatkan umat agama lain ikut berburu takjil, bahkan lebih awal dari umat Islam. Hal ini juga terjadi di salah satu pasar Ramadan di sekitar kampus Universitas Negeri Semarang. Maria Angelina, seorang mahasiswa Unnes mengaku suka berburu takjil meskipun dia tidak ikut berpuasa. Maria mengaku banyak jajanan enak yang dijual di pasar Ramadan.

“Aku suka euforia bulan puasa meskipun aku non-Islam, soalnya banyak jajan yang enak. Aku paling suka itu beli kolak pisang. Wah itu enak banget sih,” tutur Maria Angelina. 

Maria biasanya berburu takjil mulai dari pukul setengah empat sore. Ini lebih awal dari biasanya umat muslim berburu takjil yaitu pukul setengah lima sore. 

“Aku biasanya jam setengah empat, soalnya itu penjualnya baru buka. Jajannya masih banyak. Belum terlalu ramai juga. Kalau ramai itu pusing soalnya ramai banget di UNNES,” ujarnya. 

Pembeli lain mengaku senang dengan adanya fenomena War Takjil ini. Menurutnya hal ini sangat mencerminkan keberagaman di Indonesia. 

“Aku biasanya jam setengah lima biar mendekati berbuka, mereka udah duluan tuh. Kalau umat agama lain ikut War Takjil berarti mereka senang kan kalo Ramadan. Mereka juga dapat euforia Ramadan,” tutur Dinda Nur, mahasiswa Unnes.

Pengunjung lain juga merasa dengan adanya fenomena War Takjil ini suasana bulan Ramadan menjadi semakin meriah. 

“Senang ya lihatnya, mereka juga excited buat nyari takjil. Berasa mereka juga ikut meramaikan bulan Ramadan,” ucap Agustina Putri, pengunjung pasar Ramadan.

Fenomena ini juga disambut baik oleh penjual takjil. Menurutnya, jika umat agama lain ikut War Takjil, maka pembeli takjil lebih banyak. Hal ini menbuat penjualannya semakin banyak.

“Ya bagus ya, yang beli jadi banyak, nggak cuma yang puasa aja,” kata Bu Puji, penjual takjil.

Di media sosial banyak juga konten kreator yang menjadikan War Takjil ini sebagai ide konten yang menarik. Kolom komentar pun dipenuhi dengan komentar lucu pengguna internet. Fenomena ini membuat bulan Ramadan di Indonesia terasa sangat meriah. (*)

Oleh Lintang Cahyani