Jam Operasional Warung Makan di Sekitar UNNES Berubah selama Ramadan

Selama bulan Ramadan, warung makan di sekitar Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengalami perubahan jam operasional. Perubahan ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen yang mayoritas menjalankan ibadah puasa. Dua warung di antaranya adalah Geprek Ayah Bunda dan Mie ayam Pangsit & Bubur Ayam Kota Tua Bude Iin yang berada di Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

“Biasanya kami buka dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00. Tapi selama bulan Puasa, jualannya dari pukul 14.00 hingga pukul 21.00,” ujar Yanto, penjual Geprek Ayah Bunda.

Selain Geprek Ayah Bunda, Mie Ayam Pangsit & Bubur Ayam Kota Tua juga melakukan perubahan jam buka. Warung yang biasanya mulai berjualan sejak pukul 06.00, kini baru melayani pembeli pada pukul 16.00 hingga 21.00. Awalnya, penjual sempat berencana tidak menjual mi ayam selama Ramadan, namun karena banyak konsumen yang bertanya, akhirnya diputuskan untuk tetap berjualan.

“Kami biasanya jualan dari pukul 06.00 hingga 20.00. Awalnya mau libur jualan mi ayam. Soalnya siapa yang mau makan mi pas puasa gini? eh tapi malah banyak yang nanyain. Akhirnya tetap jual mi deh,” tutur Tia, pemilik warung makan Mie Ayam Pangsit & Bubur Ayam Kota Tua.

Perubahan jam operasional berdampak pada penurunan penjualan di kedua warung tersebut. Geprek Ayah Bunda mengalami penurunan omzet sekitar 20 persen selama Ramadan. Sementara itu, di warung Mie Ayam Pangsit & Bubur Ayam Kota Tua, bahan baku yang digunakan juga menurun sekitar satu kilogram akibat jam operasional yang lebih singkat. Untuk menyiasatinya, warung ini menambah menu khusus berupa takjil.

“Selama puasa ini bahan baku turun sekitar satu kilogram-an karena jam buka yang lebih singkat. Tapi selama Ramadan ini kami juga jualan takjil seperti pastel dan pukis, tapi hanya selama puasa aja soalnya kami kekurangan tenaga,” tambah Tia. 

Dari sisi pembeli, perubahan jam operasional ini tidak menjadi masalah besar. Salah satu pembeli setia Geprek Ayah Bunda, Vina, tetap memilih untuk membeli makanan di sana karena mempertahankan cita rasa yang khas. Vina juga menyebutkan bahwa perubahan jam operasional tidak memengaruhi jadwal makannya, karena makanan tersebut dibeli untuk berbuka puasa.

“Saya tetap beli di sini karena rasanya enak sih, comfort food gitu. Walau jamnya berubah, tapi nggak masalah karena memang beli buat buka puasa. Kalau boleh kasih saran, mungkin tempatnya bisa diperluas, terutama soal parkir dan antriannya,” jelas Vina.

Perubahan jam buka selama Ramadan ini menjadi bentuk adaptasi bagi para penjual untuk tetap melayani konsumennya, meskipun harus menghadapi tantangan berupa penurunan omzet dan keterbatasan sumber daya. Sementara itu, bagi konsumen kehadiran warung makna favorit yang tetap buka meski dengan jam berbeda menjadi solusi kebutuhan berbuka puasa. (*)

Oleh Alysia Shofi Nabila Puteri