Di sebuah tempat tersembunyi terdapat sebuah desa yang masyarakatnya hidup sejahtera. Masyarakat di desa tersebut hidup dari hasil tanah, mulai dari padi yang menjadi sumber makanan pokok dan hasil tanah lainnya. Masyarakat di desa tersebut selalu merayakan hasil panen mereka setiap tahunnya karena menurut mereka itu merupakan bagian dari ucapan syukur kepada Pemberi Kehidupan.
Di sisi lain, mereka juga memiliki tradisi yang sakral dan harus dilakukan, yaitu masyarakat harus menyimpan padi mereka di suatu tempat bernama lumbung padi, dan diambil harus pada waktunya. Karena jika pantangan tersebut diabaikan, maka akan terjadi malapetaka pada masyarakat desa dan desa tersebut.
Di desa tersebut terdapat seorang yang dianggap sebagai tetua desa, yang bernama Ki Daman. Masyarakat desa selalu menghormati Ki Daman karena biasanya segala tradisi di desa tersebut selalu Ki Daman yang mengetahuinya. Ki Daman juga mempunyai seorang murid yang membantunya dalam kesehariannya, yang bernama Joko. Joko merupakan murid yang berbakti kepada gurunya. Ia selalu mematuhi apa yang gurunya perintahkan kepadanya.
Pada suatu ketika, di desa tersebut terjadi masa paceklik, di mana hujan tidak kunjung turun dan membuat masyarakat desa kekurangan sumber makanan, terutama padi. Dikarenakan padi-padi yang disimpan belum waktunya untuk diambil, para warga mulai kelaparan dan mengeluh kepada tetua desa, yaitu Ki Daman. Ki Daman sebagai tetua selalu memperingatkan masyarakat agar tidak mengambil padi yang belum saatnya diambil karena dapat membuat penunggu lumbung padi marah dan membawa malapetaka bagi desa mereka.
“Jangan seorang pun dari kalian mengambil padi yang belum saatnya kalian ambil,” ujar Ki Daman.
Masyarakat di desa tersebut sangat menghargai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dari leluhur mereka. Di sisi lain, ada seorang pemuda yang tidak terlalu percaya dengan tahayul dan tidak mengikuti aturan di desa tersebut. Pemuda tersebut bernama Raka.
Raka selalu hidup dengan kebebasan dan tidak terlalu mempercayai tradisi leluhur. Hal tersebut membuat Mbah Daman, sang tetua desa, mulai khawatir bahwa apa yang dilakukan Raka akan membawa malapetaka bagi desa tersebut. Mbah Daman pun menyuruh Joko, muridnya, untuk mencari dan menasihati Raka.
“Joko, kamu cari dan nasehati pemuda itu,” suruh Mbah Daman kepada Joko.”
“Baiklah, Ki. Aku akan mencarinya,” balas Joko.
Setelah mencari keberadaan Raka, Joko akhirnya menemukannya. Raka ternyata sedang mempengaruhi warga yang sedang kelaparan untuk mengambil padi yang berada di lumbung.
“Hei, Raka! Jangan kau pengaruhi warga untuk melanggar aturan di desa ini!” Joko menunjuk sambil memperingati Raka
“Aku cuma menyarankan warga supaya mereka tidak kelaparan,” sahut Raka.
Raka pun pergi sambil melirik sinis ke arah Joko yang memperingatinya. Setelah Raka pergi, para warga pun mulai bimbang karena mereka sudah kekurangan bahan makanan.
Setelah mereka berdiskusi, akhirnya mereka sepakat untuk mengambil padi yang tersimpan dalam lumbung padi. Masyarakat pun akhirnya berbondong-bondong menuju lumbung padi. Namun, di tengah perjalanan, Ki Daman dan Joko menghadang mereka dan memperingatkan tentang malapetaka yang akan menimpa jika mereka melanggar aturan.
Masyarakat yang sudah kelaparan tidak mengindahkan peringatan dari Ki Daman. Mereka akhirnya membuka paksa pintu lumbung dan mengambil padi yang belum waktunya mereka ambil.
Dengan diambilnya padi yang belum saatnya masyarakat ambil, akhirnya yang dikhawatirkan Ki Daman pun terjadi. Penunggu lumbung padi akhirnya murka dan mengutuk masyarakat desa dengan mengurung mereka di desa tersebut. Para warga tidak dapat keluar dari desa karena mereka mendapat kutukan dari penunggu lumbung tersebut.
Masyarakat yang terkurung akhirnya menamakan desa mereka dengan nama Desa Kunci, karena mereka merasa terkunci di desa mereka sendiri.
Setelah mereka menyadari kesalahan mereka yang tidak mengindahkan peringatan dari Ki Daman, mereka akhirnya memohon ampun dan menyesali perbuatan mereka. Setelah sekian lama menyesali perbuatan tersebut, akhirnya desa mereka yang terkunci terbuka dengan sendirinya.(*)
Oleh Sendi Wardana