Perang Manufahi dan Kisah Kepahlawanan Dom Boaventura (Raja Timor-leste)

           Dom boaventura,nama lengkapnya adalah Mauloi, Merupakan Raja (Liurai) Manufahi  pada masa pemerintahan colonial Portugis di Timor-Leste. Ia lahir pada abad ke-19  dan wafat pada tahun 1913 di sala satu daerah yaitu Atauro. Ia dikenal Raja yang memiliki strategi untuk mengusir penjajah dari timor. Sama seperti ayahnya,Dom Duarte, Dom Boaventura memimpim perlawanan terhadap kolonialisme portugis yang kemudian dikenal sebagai ‘’ perang Manufahi’’.

           Meskipun Dom Boaventura menerima Pendidikan Eropa dari sekolah misi katolik pada tahun 1895, ia tetap dipanggil oleh rakyat Manufahi untuk melanjutka perjuagan ayahnya ,Dom Duarte, untuk berperang melawan orang Portugis pada tahun 1895. Dom Boaventura mewakili simbol upaya patriotik dalam menyatukan kerajaan-kerajaan Timor untuk aksi bersama yang terpadu .

          Ketika Dom Boaventura memimpin perang Manufahi, terdapat sejumlah factor yang melatarbelakangi kelanjutan konflik tersebut beserta kompleksitasnya. Salah satunya adalah Keputusan gubernur baru, Filomeno de Câmara de Melo, untuk menaikan pajak per kapita. Kebijakan ini lansung  berdampak pada kehidupan rakyat yang semakin sulit, terutama akibat tuntutan pemerintah Portugal untuk  meningkatkan jumlah tenaga kerja di sektor publik dan Perkebunan kopi.

          Di sisi lain, perubahan politik di Portugal pasca implementasi sistem  Republik pada tahun 1910 menimbulkan kebingungan di kalangan elite tradisional Timor, utamanya karena terputusnya ikatan simbolis antara raja-raja dengan monarki Portugal. Para liurai Timor Menganggap bendera (biru putih) sebagai sesuatu yang sakral sehingga sulit bagi mereka untuk memahami tujuan republik. Sementara itu, di kota Dili, kelompok terasimilasi Timor juga memberikan dukungan terhadap pemberontakan. Contohnya adalah goeza-timorense, Domingos de Sena Barreto, yang bekerja di bidang kepabeanan. Sejarawan Prancis, René Pélissier, menyatakan bahwa hal ini terutama terjadi karena slogan republik dianggap subversif terhadap kepentingan kekuasaan. Namun, tidak ada dokumentasi kuat yang dapat menjelaskan motivasi sesungguhnya di balik hal tersebut.

          Berdasarkan penulis Prancis dalam tulisannya, argumen yang digunakan oleh orang-orang Portugis  untuk mencatat bahwa Perang Manufahi terjadi sebagai konsekuensi dari Transformasi rezim di Portugal, bukan untuk mempertahankan rezim yang menggunakan “cara-cara represif” tetapi ingin melakukan perubahan melalui pengusiran orang Portugis (kolonial Portugis).

         Dampak dan konsekuensi dari perang Manufahi ini menyebabkan banyak orang tewas dan terjadi kerusakan material  (baik di pihak Manufahi maupun kolonial). Dalam setiap perang, terdapat biaya manusia yang besar—banyak yang meninggal, dan banyak pula yang ditangkap serta dihukum. Dari sisi Manufahi, bagaimana mereka mengorganisir perlawanan untuk berperang melawan orang asing (Portugis) atau kekuatan kolonial Portugis.

       Otoritas kolonial Portugis memulai operasi militer besar-besaran pada bulan Desember, dan perang berkecamuk di Manufahi, kemudian meluas hingga tahun 1912 ke seluruh Timor Leste. Gubernur  mengundang semua liurai (raja-raja tradisional) dari seluruh Timor untuk menghadiri perayaan memperingati satu tahun proklamasi Republik (Portugis). Dalam acara itu, para liurai bersumpah untuk mengangkat senjata melawan orang asing di seluruh pedalaman Timor. Oleh karena itu, ketika perang meletus di Manufahi, perlawanan juga menyebar ke wilayah-wilayah lain yang berada di timor leste , itu semua adalahmenunjukkan bahwa aksi ini merupakan perlawanan terkoordinasi secara nasional.

        Kematian Dom boaventura menurut informasi terdapat dua kemungkinan atau hipotesis nasib Dom boaventura, ia dihukum salah satu daerah yaitu Atauro atau di Ai-pelu,tempat meningeal dalam rantai (penjara). Tetapi Bagi masyarakat Manufahi, Dom Boaventura menjadi semacam mitos, ia hilang kemudian muncul, atau mati lalu hidup kembali.” Hal ini dapat dijelaskan karena otoritas kolonial saat itu tidak pernah menunjukkan lokasi pasti dan makamnya pun tidak ada. Beberapa versi dari para tetua Manufahi menceritakan bahwa Dom Boaventura ditangkap oleh pasukan kolonial di Gunung Manufahi, lalu dibawa untuk dihukum di Ai-Pelu . Di penjara Ai-Pelu, ia dijaga oleh orang-orang kulit hitam dari Afrika (Angola), yang terus-menerus mabuk minuman keras.

        Pada akhirnya mereka menemukannya di Ai-Pelu setelah melihat para penjaga kulit hitam dari Angola dalam keadaan mabuk. Mereka bertanya, “Siapa orang yang kalian masukkan ke dalam peti mati itu?” Para penjaga menjawab, “Ini adalah Liurai Manufahi yang melawan kolonial, karena itu kami mengurungnya.” Orang-orang dari Reno dan Uma Lulik Webikun kemudian menawarkan, “Kami punya tuak sabu (minuman tradisional) yang bisa    kami berikan sebagai ganti agar kalian melepaskan tawanan ini.” Dikisahkan bahwa para penjaga, tergoda oleh tuak yang sangat kuat, akhirnya mabuk berat, sehingga rombongan dari Uma Lulik Webikun berhasil membawa Dom Boaventura melarikan diri ke seberang sungai (Atambua-Kupang). Versi ini menunjukkan bahwa otoritas kolonial tidak pernah mengonfirmasi secara pasti kematian Dom Boaventura, termasuk lokasi makamnya. Tidak ada catatan sejarah resmi yang menuliskan tahun kematiannya atau tempat pemakamannya. Karena makamnya tidak pernah ditemukan, muncul versi di kalangan masyarakat Manufahi bahwa Dom Boaventura “Mati-Hidup Kembali atau Hilang-Muncul Kembali.”

Kini, sebagai bentuk penghormatan nasional, telah dibangun sebuah monumen untuk menghargai sang pahlawan, Dom Boaventura, yaitu “Patung Dom Boaventura” yang didirikan pada tahun 2012. Monumen ini terletak di Luak, kecamatan Same, kabupaten Manufahi, menjadi simbol penghargaan negara dan masyarakat terhadap perjuangannya.(*)

Oleh Rosena De Araujo Pires