Di antara permukiman warga Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, berdiri sebuah punden tua yang teduh di bawah naungan pohon-pohon besar. Punden itu bukan sekadar tempat ziarah, melainkan juga penjaga sejarah dan jati diri desa. Di sinilah, Ki Ageng Singo Padu, tokoh agung penuh kharisma, bersemayam dalam damai. Setiap malam Jumat Wage, punden ini tak pernah sepi. Bau harum dupa berpadu dengan lantunan doa yang khusyuk, menyatukan warga dengan akar sejarah mereka.
Ki Ageng Singo Padu, atau yang juga dikenal dengan nama Ki Mangun Kusumo, adalah sosok penting di masa Kadipaten Carangsoka. Beliau merupakan patih sekaligus jaksa agung yang dikenal tegas namun adil. Keputusan-keputusannya dalam menyelesaikan sengketa selalu dinanti, karena kebijaksanaan dan keberaniannya mampu meredakan konflik dan menguatkan kepercayaan rakyat pada pemerintahan. Salah satu perkara terkenal yang ia tangani adalah pembunuhan Sondong Majruk yang termasuk perkara pelik tetapi berhasil ia selesaikan secara adil.
Namun, setelah bertahun-tahun mengabdi di keraton, Ki Ageng memilih jalan sunyi: meninggalkan gemerlap kekuasaan dan menetap di sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon aren. Di tempat itu, ia membuka lahan, mendirikan tempat tinggal, dan mengajak masyarakat bertani serta berdagang. Perlahan namun pasti, kawasan itu berkembang menjadi permukiman yang makmur. Karena banyaknya pohon aren dan kehidupan masyarakat yang sejahtera (rejo), tempat itu kemudian dinamai Ngurenrejo.
Salah satu kisah paling dikenang tentang Ki Ageng adalah peristiwa tayub di sawah Dorogong. Di tengah riuh gending dan tarian, beliau menunjukkan kesaktiannya dengan menggendong Badog Basu (seorang lelaki gagah dari Pajaran) hingga ke tempat tinggalnya. Aksi ini membuat kagum seluruh hadirin. Tanah yang ia lewati saat menggendong Badog Basu kemudian dihadiahkan kepadanya, sebagai penghargaan dan pengakuan atas kekuatannya. Di atas tanah itulah kemudian tumbuh Desa Ngurenrejo yang kita kenal sampai sekarang.
Tak hanya membangun dan memakmurkan Ngurenrejo, Ki Ageng Singo Padu juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Ia tidak lupa jasa orang-orang di sekitarnya. Salah satunya, sang koki pribadi yang telah setia melayaninya, dihadiahi sebidang tanah. Daerah itu awalnya dikenal sebagai Ngurenkoki, yang lama-kelamaan berubah menjadi Ngurensiti yaitu gabungan kata “Nguren” dan “siti” (tanah). Dari sanalah lahir Desa Ngurensiti, desa yang tumbuh subur dan padat oleh semangat gotong/royong.
Meski kini telah menjadi dua desa berbeda secara administratif, Ngurenrejo dan Ngurensiti tetap memiliki ikatan emosional yang erat. Warga dari kedua desa itu percaya bahwa mereka berasal dari satu akar sejarah, satu tokoh leluhur, dan satu warisan nilai yang sama. Hubungan yang terjalin pun tidak sekadar kekerabatan, tetapi juga rasa memiliki terhadap sejarah yang menyatukan mereka.
Aku sendiri merasakan ikatan itu setiap kali pulang ke desa. Menjelang kembali ke Semarang untuk melanjutkan kuliah, satu kebiasaan yang tak pernah kulewatkan adalah berkunjung ke punden bersama kakek. Biasanya malam sebelum keberangkatan, kakek akan mengajakku berziarah menuju punden yang terletak tak jauh dari rumah kakek. Udara malam yang lembut, bau tanah yang khas, dan desir angin di antara pepohonan membuat perjalanan kami terasa damai. Di sana, kami menyalakan dupa, memanjatkan doa dalam hening, memohon keselamatan dan kelancaran.
Malam itu, saat kami duduk bersila di pelataran punden, aku memberanikan diri bertanya kepada Kakek yang tampak khusyuk dalam doa.
“Mbah, napa kok saben kula badhe wangsul teng Semarang, mesthi nyekar mriki rumiyin?” (Kek, kenapa setiap aku mau kembali ke Semarang, kita selalu ziarah ke sini dulu?) tanyaku pelan sambil menatap wajah beliau yang teduh.
Kakek membuka matanya perlahan, menoleh padaku, dan tersenyum. Dengan suara tenang, ia menjawab, “Nduk, awake dhewe niki tiyang Jawi. Saderengipun lunga, prayogi pamit dhisik dhateng Mbah Ageng. Nyuwun pangestu, ben slamet ing dalan, lancar nyinau, lan eling asalée saka pundi.” (Nak, kita ini orang Jawa. Sebelum pergi, sebaiknya pamit dulu kepada Mbah Ageng. Minta doa restu agar selamat di perjalanan, lancar menuntut ilmu, dan tidak lupa dari mana kamu berasal.)
Kata-kata itu selalu membekas. Bukan sekadar tradisi, tapi bentuk ikatan batin antara masa lalu dan masa depanku. Doa-doa yang kupanjatkan di punden itu bukan hanya permintaan keselamatan, tapi juga pengingat bahwa perjuanganku di kota besar membawa harapan dari kampung kecil ini. Dan setiap kembali ke sana, langkahku terasa lebih ringan, seolah restu dari Ki Ageng Singo Padu dan leluhur lainnya ikut mengiringi setiap langkahku menuju masa depan.
Untuk mengenang jasa besar Ki Ageng Singo Padu, masyarakat dari kedua desa setiap tahun menggelar kirab budaya pada bulan Muharam. Acara ini menjadi salah satu tradisi paling dinanti, di mana ratusan warga turun ke jalan mengenakan pakaian adat dan membawa sesaji. Iringan gamelan Jawa menambah khidmat suasana, seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi kenangan. Kirab ini juga menjadi ajang silaturahmi antargenerasi.
Di salah satu kirab, aku mendengar Kepala Desa Ngurenrejo berkata, “Kegiatan ini adalah bentuk syukur kepada Allah dan penghormatan atas jasa leluhur.”
Kepala Desa Ngurensiti menimpali, “Kita ini satu darah. Tradisi ini pengikat kebersamaan yang harus kita jaga.”
Sorak sorai warga mengiyakan, menegaskan semangat yang menyala dari generasi ke generasi. Malam itu, langit desa bertabur bintang, gamelan mengalun lembut, dan punden Ki Ageng Singo Padu berselimut doa dan kenangan.
Begitulah kisah Punden Ki Ageng Singo Padu, bukan hanya monumen batu dan tanah. Ia adalah penanda sejarah, saksi keabadian nilai, dan pengikat dua desa yang berasal dari satu ruh yang sama. Warga Desa Ngurenrejo dan Ngurensiti akan terus menjaga warisan ini, tidak hanya dengan upacara, tapi dengan hati yang terus mengingat. Sebab, leluhur yang dihormati adalah cahaya bagi langkah di masa depan.(*)
Oleh Fathin Zahrotun Nisa