Kisah Manis di Balik Gerai Es krim

Oleh Sriyatun

Aku selalu percaya bahwa masa kecil adalah masa yang tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya tertanam di lubuk hati yang terdalam, terkenang dalam ruang bawah sadar yang sesekali mengetuk ingatan. Seperti halnya es krim yang perlahan mencair di ujung lidah. Wujudnya memang lenyap, namun tidak dengan  rasanya. Ia terkenang, menyusup di sela rasa yang tak kasat mata. Dari sanalah semua bermula, dari suatu kisah sederhana, hingga tumbuh menjadi sesuatu yang manis setiap kali dikenang. 

Aku adalah seorang gadis kecil yang begitu dekat dan manja dengan Ayah. Sedangkan ayahku, ia adalah lelaki yang paling tulus yang pernah kutemui. Bagiku, Ayah adalah pahlawan yang tak segan menembus badai demi putri kecilnya. Kala itu, lembar cerita mulai tertulis saat aku menyatakan keinginanku akan sebuah es krim. Ya, pertama kali aku mencicipi es krim, tak menyangka bahwa dari kali pertama itu membuat hatiku terpikat oleh manisnya, hingga membuatku selalu ingin kembali.

Kala itu, di rumah kami belum memiliki kulkas, tempat bagi dingin untuk menetap. Maka setiap kali keinginanku akan sebuah es krim sedang menggelora, Ayah pun harus membawaku ke gerai es krim. Letaknya cukup jauh dari jangkauan rumah kami. Gerainya berada di seberang desa, tepat di pinggir jalan raya. Saat itu aku meminta Ayah untuk membelikanku. Tanpa ragu ia menuruti permintaanku. Dengan motor kopling kesayangan Ayah yang berwarna jingga, kami siap melewati jalanan yang penuh dengan lubang di perbatasan desa. Aku yang tepat berada di belakang Ayah benar-benar menikmati perjalanan itu. Sambil menggenggam salah satu sisi baju Ayah, tanganku melambai-lambai dan senyumku begitu sumringah.

Ketika tugu Desa Pakis mulai tampak di kejauhan, hatiku berdebar penuh semangat. Itu pertanda bahwa tujuan kami sudah dekat. Dari sana, kami berbelok ke kiri dan tampaklah gerai es krim yang selalu kutuju. Rasa lelah dari perjalanan yang penuh dengan lubang seketika sirna ketika kakiku berpijak di depan pintunya. Aku melangkah perlahan mengikuti arah Ayah berjalan, hingga kami sampai di depan freezer yang penuh es krim berwarna-warni. Cukup lama aku terpaku di hatiku, gundah untuk memilih rasa di antara ragamnya warna. Semua terlihat menggiurkan. Walau pada akhirnya aku hanya akan memilih dua es krim saja. Begitulah, perjalanan yang cukup panjang hanya untuk pergi ke gerai es krim.

Waktu demi waktu, tanpa banyak kata, Ayah mulai memahami kebiasaanku. Bahkan tanpa diminta, sepulang kerja ayahku kerap membawakanku sebuah es krim. Beberapa kali, bentuknya sudah tak lagi utuh selayaknya saat baru keluar dari mesinnya. Ia mulai mencair terpapar oleh teriknya sang surya. Namun, aku tak mempermasalahkan itu; tetap saja hatiku merasa riang sebab ayahku selalu mengingat kesukaanku. Sepulang kerja, ayahku menghampiri gerai es krim itu, memilih rasa kesukaanku sendiri. Setibanya di rumah, senyumnya mengakar ke arahku, sambil mengulurkan tangannya yang tengah menggenggam es krim.

Gerai es krim di sebelah kiri Tugu Pakis itu merupakan jembatan antara aku dan manis yang berada di baliknya. Sungguh, jika diingat-ingat, entah berapa kali aku bolak-balik datang menghampirinya. Bahkan di gerai itu, sebetulnya tidak hanya menjual es krim; terdapat pula berbagai makanan ringan dan juga beragam minuman lainnya. Namun hatiku tetap terpaut pada satu rasa saja, rasa manis dari sebuah es krim. Ayah bahkan kerap menawariku untuk membeli jajanan lain, namun tetap tak mampu menggoyahkan tujuanku akan es krim. Aku tak terpikat oleh yang lain. Hingga pada akhirnya, Ayah yang mengambil jajanan itu. Sungguh mengherankan.

Tak peduli sang surya tengah berada di puncaknya atau saat senja mulai turun dengan udara yang begitu sejuk. Jika memang aku menginginkan es krim, tanpa pikir lagi, segeralah kami ke gerai es krim di sebelah kiri Tugu Pakis itu. Pernah Ayah mencoba membujukku agar aku membeli es krim di hari esok saja, karena hari sudah mulai petang. Tapi apalah daya, dahulu aku hanyalah seorang gadis kecil yang belum paham akan sebuah penantian. Aku mungkin mengiyakan, namun mulutku langsung tak bertenaga untuk mengeluarkan sepatah kata, wajahku muram, dan mataku hampir tak kuasa menahan bendungan air mata. Melihat anak seperti itu, siapa yang kuasa? Ayahku pun menuruti agar aku merasa senang.

Kami tak pernah berpindah-pindah gerai; hanya gerai es krim yang berada di sisi kiri Tugu Pakis itulah yang selalu kami tuju, berulang kali. Gerai itu sederhana; hanya di situlah satu-satunya gerai yang menjual es krim kala itu. Gerai yang jaraknya paling dekat dengan gerai es krim yang lainnya. Bagiku, gerai itu adalah saksi ketulusan sang Ayah untuk putrinya, ketulusan yang tak pernah meminta balasan. Hingga saat ini lokasinya masih sama, berada di sebelah kiri Tugu Pakis. Kini, mungkin ia telah menyimpan lebih banyak kisah daripada banyak orang.

Hingga tiba suatu hari, Ayah membeli kulkas. Untuk pertama kalinya, dingin bisa tinggal di rumah kami. Ayah membelinya agar aku bisa menikmati es krim kapan saja tanpa harus menempuh jalan berlubang di seberang desa itu. Setibanya seseorang yang mengantarkan kulkas ke rumahku, mataku terus tertuju ke arah ia melangkah, begitu takjub, seolah melihat mimpi yang menjelma nyata. Hari itu juga, Ayah mengajakku kembali ke gerai es krim, membeli lebih banyak dari biasanya untuk disimpan, untuk dinikmati kapan saja. Betapa gembiranya aku bisa memilih es krim sesuka hati. 

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Kini aku mulai tumbuh menjadi dewasa. Aku sudah bisa membeli es krim sendiri, memilih rasa tanpa ragu, bahkan memesannya tanpa perlu melangkah keluar. Namun, satu hal yang tak pernah berubah: Ayah tetaplah seorang Ayah. Sepulang kerja, ia masih kerap membelikanku es krim, seolah aku masih menjadi gadis kecilnya. Dan aku pun sadar bahwa yang paling manis bukanlah es krim itu sendiri, melainkan cinta dan ketulusan Ayah yang tak pernah sirna, dari dulu hingga kini.

Dan pada akhirnya, mengenai gerai es krim itu, tak akan pernah kulupakan sampai kapan pun. Ya, gerai es krim yang berada di sebelah kiri Tugu Pakis. Meski kini tampilannya sudah lebih modern daripada kala itu, di dalamnya ada kenangan yang tak akan pudar oleh bergantinya masa. Setiap kali aku melintasinya, seolah-olah aku kembali berada pada masa kala itu, masa saat aku kerap menghampirinya. Gerai es krim yang menyimpan kisah manis antara aku dan Ayah, begitu pula dengan es krimnya.(*)