Oleh Unggul Nadiyanto
Saya masih teringat ketika pertama kali berkunjung dan menginjakan kaki di kawasan Kampung Melayu, Kota Semarang. Suasana yang terasa berbeda dibandingkan dengan kawasan lain selama hidup saya: terlihat perpaduan yang menarik antara budaya lama dan kehidupan modern yang saling berkesinambungan. Datang dengan rasa penasaran terhadap tradisi yang sudah terjaga selama ratusan tahun, yaitu pembagian kopi Arab yang terjadi di Masjid Menara Layur yang rutin diselenggarakan saat bulan Ramadan.
Setibanya di lokasi, saya melihat masjid yang berdiri kokoh serta nuansa historis yang masih melekat dan keramaian sekitar masjid, namun tetap masih terasa hangat. Kampung Melayu dengan mayoritas penganut agama Islam masih hidup secara harmonis dengan masyarakat setempat selain penganut Islam.
Hal tersebut menjadikan saya takjub dengan keharmonisan masyarakat setempat. Dengan begitu, saya langsung menyimpulkan bahwa kawasan ini tidak hanya kental secara historis dan keagamaannya saja, melainkan juga merupakan salah satu dari sekian banyaknya tempat akulturasi dan keharmonisan dari masyarakat Kota Semarang.
Ketika saya memasuki Masjid Menara Layur, saya bertemu dan berbincang mengenai tradisi pembagian kopi Arab dengan salah satu pengurus masjid, yaitu Bapak Ali Maksun. Beliau menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1802 yang pada mulanya dibawa oleh saudagar dari Arab Hadramaut.
Kemudian berkembang menjadi tradisi khas pada bulan Ramadan. Mendengar penjelasan dari beliau menjadikan diri saya semakin tertarik dengan proses pelaksanaan tradisi tersebut, karena bukan hanya sekadar kopi biasa saja, melainkan memiliki makna yang terkandung di dalamnya.
Menjelang waktu berbuka puasa, sebelum dimulainya tradisi tersebut, dilakukan pengajian dan lantunan shalawat menjelang berbuka. Saya ikut duduk bersama jamaah lainnya, merasakan suasana religius yang sangat tenang. Pada momen itulah saya merasa dekat dengan warga sekitar dan batin saya.
Ketika azan Magrib mulai berkumandang, semua jamaah bersiap untuk berbuka, diawali dengan doa bersama. Kemudian, tradisi pembagian kopi Arab mulai dilaksanakan dengan dibagikannya kopi kepada seluruh jamaah. Saya akhirnya mencicipi rasa dari kopi Arab. Rasanya yang berbeda dengan kopi pada umumnya diawali dengan rasa sedikit pahit dan disusul dengan hangatnya rasa rempah-rempah di dalam mulut dan perut.
Momen tersebut meninggalkan kesan baik tersendiri kepada saya, karena Bapak Ali Maksun menuturkan bahwa tradisi ini terbuka bagi umum dan tidak pandang asal-usul, budaya, dan latar belakang. Dari penuturan tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa nilai toleransi benar-benar diterapkan di Masjid Menara Layur.
Saya langsung menyadari bahwa tradisi pembagian kopi Arab yang sudah terjadi selama ratusan tahun bukan hanya sekadar tentang minuman kopi pada umumnya, melainkan terdapat makna dan nilai yang terkandung, seperti nilai kebersamaan, religius, kepedulian sosial, baik kontribusi secara tenaga maupun makanan, kemudian toleransi yang masih kental serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah menikmati kopi Arab, saya berbincang sedikit dengan Bapak Ali Maksun sebelum beranjak pulang. Beliau mengungkapkan bahwa tradisi tersebut mengalami berbagai macam tantangan seperti berkurangnya partisipasi anak-anak muda, faktor ekonomi dengan mahalnya harga bahan baku, dan faktor lingkungan yang memengaruhi.
Bagi saya, pengalaman tersebut sangat berharga karena bagi saya kearifan lokal bukan hanya warisan masa lalu, melainkan sesuatu yang patutnya kita rawat. Tradisi kopi Arab di Masjid Menara Layur merupakan bukti yang dapat menjadi sarana persatuan berbagai kalangan dan latar belakang, meskipun sederhana, namun dapat bermakna.(*)