Oleh William Parsaulian Sirait
Pagi itu angin bertiup sangat kencang dan matahari pun bersinar dengan terang. Aku dan teman-temanku berbaris menunggu giliran untuk masuk ke dalam bus. Bus itu akan mengantarkan kita ke Saung Mang Udjo. Semua orang tampak excited meski cuaca agak berangin.
Setelah semua naik, bus mulai bergerak meninggalkan sekolah dengan riang.
Kami bernyanyi bersama lagu-lagu sekolah favorit. Pemandangan sawah hijau membentang di pinggir jalan tol. Guru pembimbing, Bu Rina, mengingatkan kami untuk tidak lupa mencatat pengalaman seru hari ini.
Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Bandung. Kami melewati bukit-bukit hijau yang indah. Sesampainya di Saung Mang Udjo, aroma anyir bambu menyambut kami. Suara gamelan khas Sunda terdengar samar dari kejauhan.
Begitu turun bus, aku langsung melihat banyak suvenir yang memikat mata. Angklung warna-warni bergantung di saung pinggir jalan. Topeng kayu berukir halus dan kain batik motif parang membuatku ingin membelinya semuanya. Teman-temanku juga langsung berfoto-foto di sana.
Kami langsung disambut oleh pemandu lokal yang ramah bernama Pak Ujo.
Dia memperkenalkan sejarah Saung Mang Udjo dengan detail. Tempat ini adalah rumah seni angklung yang didirikan oleh Mang Udjo. “Hari ini, kalian akan belajar membuat angklung sendiri!” katanya antusias.
Pertama, kami diajak ke galeri angklung yang luas. Ribuan angklung dari berbagai ukuran tergantung rapi di dinding. Masing-masing menghasilkan nada berbeda saat digoyang. Aku mencoba satu yang besar, dan suaranya menggema seperti angin gunung.
Kemudian, workshop dimulai dengan semangat tinggi. Setiap kelompok mendapat bambu segar dan pisau ukir tajam. Saat kami sibuk memotong, si Andi kabur diam-diam ke semak-semak dekat tempat makan. Dia merokok secara sembunyi-sembunyi. Untung Bu Rina tidak lihat.
Aku dan Rina cuma geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Akhirnya angklung pertamaku jadi dengan nada ‘do’ yang jernih. Kami berlatih bermain angklung ensemble bersama. Pak Ujo memimpin lagu “Dayung Sampan” dan “Cing Cangkeling”.
Suara angklung kami bergema serempak, menciptakan harmoni merinding.
Siang harinya, kami makan siang di saung lesehan yang nyaman. Menu nasi timbel, ayam goreng, dan sambal terasi terasa gurih khas Sunda. Kami lahap meski angin masih kencang.
Andi kembali dengan muka polos berpura-pura lapar. Sore menjelang, kami menonton pertunjukan jaipong yang memukau. Penari berpakaian kebaya Sunda bergerak lincah dan energik. Gerakan tangan mereka indah sekali. Kami diajak ikut menari.
Petualangan ditutup dengan belanja suvenir yang seru. Aku beli angklung kecil untuk adik di rumah. Teman-temanku memilih topeng wayang dan batik Sunda. Pak Ujo berpesan agar kami membawa pulang semangat melestarikan budaya.
Perjalanan pulang terasa singkat karena kami capai, tapi bahagia. Bus tiba di sekolah saat senja yang indah. Aku tak sabar menceritakan semuanya kepada keluarga. Pariwisata ini benar-benar tak terlupakan. (*)