Oleh Abdul Dzulzamzami Ritonga
Ada tempat-tempat yang kita kunjungi tanpa benar-benar melihatnya. Kita hadir secara fisik, tapi pikiran kita melayang ke tempat lain, entah ke permainan, ke jajanan, ke hal-hal kecil yang terasa jauh lebih penting di usia tujuh tahun. Gedung Juang 45 Tambun adalah salah satu tempat itu, setidaknya bagi aku dulu. Aku masih ingat hari itu dengan cara yang kabur dan hangat, seperti foto lama yang warnanya sudah memudar di pinggirnya. Aku berusia tujuh tahun ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman Gedung Juang 45 Tambun, Rotua Ritonga. Dia adalah ayahku yang memperkenalkanku sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh di jantung Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Waktu itu aku diajak oleh ayahku, entah dalam rangka apa tepatnya. Mungkin hari jadi daerah, mungkin acara sekolah, mungkin sekadar jalan-jalan sore. Yang paling aku ingat bukan bangunannya, melainkan kue apem yang aku minta ke ayah tepat sebelum masuk ke halaman gedung itu.
Bagiku yang masih kecil, Gedung Juang hanyalah “gedung tua yang besar.” Catnya yang putih kekuningan, tiang-tiang penyangganya yang gagah, bau lembap dari setiap sudut ruangannya, dan ornamen-ornamen khas arsitektur kolonial Belanda itu tidak banyak bicara kepada ku. Yang menarik perhatianku justru pohon-pohon besar di sekitar halaman yang rindang dan dekat dengan rel kereta api, tempat yang asyik untuk berlari-lari kecil dan memanjat pohon sambil mengamati kereta api yang berhenti di Stasiun Tambun sementara orang-orang dewasa berbicara tentang hal-hal yang aku anggap membosankan. Satu-satunya hal yang aku tangkap waktu itu adalah bahwa gedung ini “penting.” Penting karena ada bendera Merah Putih di depannya. Penting karena orang dewasa berbicara dengan nada serius. Tapi seberapa penting, aku tidak peduli.
Tapi ada satu hal lagi yang membuat Gedung Juang membekas di ingatanku sejak kecil, bukan karena keindahannya, bukan karena sejarahnya, melainkan karena cerita-cerita yang beredar di antara anak-anak di Tambun Selatan. Waktu itu, sepulang dari kunjungan pertama, aku duduk bersama beberapa teman di gazebo dekat rumah. Abyan, salah satu dari mereka, dengan nada setengah berbisik dan mata yang membesar bercerita bahwa Gedung Juang bukan tempat yang aman setelah matahari terbenam. Katanya, di malam-malam tertentu, terdengar suara langkah kaki berat di koridor gedung yang sudah lama kosong itu. Bukan langkah satu orang, tapi banyak, seperti pasukan yang sedang berbaris. Konon, itu adalah arwah para pejuang yang masih berpatroli, enggan meninggalkan tempat yang pernah mereka pertaruhkan nyawa di sana.
Cerita lain menyebut bahwa di sudut tertentu di halaman gedung sering terlihat bayangan seseorang berdiri tegak mengenakan pakaian pejuang zaman revolusi, tapi ketika didekati, tidak ada siapa-siapa. Ada juga yang bilang bahwa kamera sering mati sendiri ketika mencoba memotret bagian dalam gedung di waktu-waktu tertentu. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang sekadar bumbu cerita anak-anak. Bahkan kakekku, Kumpulan Pane, juga bercerita tentang sosok hantu wanita Belanda bernama Noorah dengan rambut cokelat kekuningan sepundak dengan gaun putih gading lusuh yang mendiami gedung tua itu. Tapi yang pasti, cerita-cerita itu berhasil melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh pelajaran sejarah mana pun waktu itu. Membuat aku tidak bisa melupakan Gedung Juang. Rasa takut, ternyata, bisa menjadi cara tersendiri untuk mengikat sebuah tempat dalam ingatan seorang anak kecil, jauh lebih kuat dari hafalan tanggal dan nama pahlawan.
Waktu bergerak tanpa permisi. Tujuh tahun menjadi sembilan belas, dan Tambun Selatan yang aku kenal pun ikut berubah. Pusat perbelanjaan baru tumbuh, jalan-jalan diperlebar, dan permukiman semakin padat. Di tengah semua perubahan itu, Gedung Juang 45 Tambun tetap berdiri, seolah menolak untuk ikut berubah, seolah sedang menunggu seseorang kembali dan benar-benar melihatnya kali ini. Entah kunjungan ke berapa aku terjadi ketika aku berusia sembilan belas tahun. Bukan lagi diajak orang tua, melainkan atas kemauan sendiri, didorong oleh rasa ingin tahu yang mungkin sudah lama tertanam tapi baru mekar sekarang. Aku datang pada suatu siang yang tidak terlalu ramai, hanya dengan sepeda motor dan rasa penasaran yang menggantung di dada.
Gedung Juang 45 Tambun, atau yang secara resmi dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah di Kabupaten Bekasi, adalah saksi bisu perjuangan rakyat Tambun dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini memiliki nilai historis yang dalam. Ia pernah menjadi tempat tinggal seorang keturunan Tionghoa bernama Khouw Tjeng Kie, seorang tuan tanah kaya keturunan Tionghoa yang hidup pada masa kolonial Belanda di wilayah Bekasi, khususnya di daerah Tambun. Ia dikenal sebagai pemilik Landhuis Tamboen, sampai tempat itu berubah menjadi tempat berkumpulnya para pejuang lokal, tempat di mana semangat revolusi bukan sekadar slogan, melainkan keputusan nyata yang diambil dengan taruhan nyawa.
Kali ini aku berdiri di halaman yang sama, di bawah langit yang sama, tapi dengan cara pandang yang berbeda. Tiang-tiang itu tidak lagi sekadar “besar”; aku melihat bagaimana arsitekturnya menceritakan era kolonial yang panjang. Cat putih yang sudah agak usang itu tidak lagi tampak kusam. Aku melihat lapisan waktu yang menempel di setiap sudutnya. Dan keheningan yang dulu aku anggap membosankan kini terasa seperti sesuatu yang harus dihormati. Di halaman depan gedung, di sebelah kolam ikan. Ada plakat-plakat di dinding seperti prasasti yang menceritakan peristiwa-peristiwa penting. Ada nama-nama yang terukir di sana, nama orang-orang yang mungkin sebagian besar dari kita, generasi sekarang, tidak pernah benar-benar kenal.
Aku membaca satu per satu dengan perlahan, sesuatu yang jelas tidak akan aku lakukan di usia tujuh tahun. Di sanalah aku menyadari sesuatu, betapa mudahnya kita tinggal di atas tanah bersejarah tanpa pernah benar-benar merasakan sejarah itu. Tambun Selatan adalah daerah yang berkembang pesat. Bagi banyak orang yang tinggal di sini, ia adalah tempat yang identik dengan kemacetan pagi hari, kompleks perumahan, dan akses mudah ke Jakarta. Tidak salah. Tapi di balik wajah modernnya, Tambun Selatan menyimpan lapisan identitas yang lebih tua dan lebih dalam.
Gedung Juang 45 adalah salah satu penanda identitas itu. Ia bukan sekadar bangunan tua yang layak diabadikan dalam foto untuk keperluan tugas. Ia adalah titik ingat. Peringat bahwa tanah yang kita pijak setiap hari pernah menjadi arena perjuangan yang tidak main-main. Sayangnya, tidak banyak generasi muda di Tambun Selatan, termasuk aku sendiri, selama bertahun-tahun yang benar-benar duduk dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan tempat ini. Kita sibuk dengan urusan kita sendiri. Gedung Juang perlahan menjadi latar belakang. Ada, tapi tidak hadir dalam kesadaran kita. Jarak antara kunjungan pertama dan kunjungan kesekian aku ke Gedung Juang adalah dua belas tahun. Tapi jarak yang sesungguhnya bukan diukur dalam tahun, melainkan dalam kesadaran. Di usia tujuh tahun, aku hadir tapi tidak sadar. Di usia sembilan belas tahun, aku hadir dan untuk pertama kalinya benar-benar sadar.
Aku pikir itulah yang membuat Gedung Juang menjadi tempat yang menarik, bukan hanya sebagai objek wisata sejarah, tapi sebagai cermin. Ia memantulkan kembali kepada kita pertanyaan yang mungkin tidak nyaman. Sudahkah kita benar-benar mengenal tanah tempat kita lahir dan tumbuh? Aku tumbuh di Tambun Selatan. Aku makan di sini, bermain di sini, belajar di sini, dan berencana untuk terus berada di sini dalam waktu yang cukup lama. Tapi ada perbedaan besar antara tinggal di suatu tempat dan benar-benar mengenalnya. Gedung Juang 45 Tambun mengajarkan kepada ku bahwa mengenal kampung halaman bukan hanya soal tahu nama jalannya atau hafal tempat makannya saja. Mengenal kampung halaman juga berarti menghormati lapisan sejarahnya, memahami dari mana tempat ini berasal, dan meneruskan ingatan itu agar tidak hilang ditelan zaman.
Ketika aku pergi dari halaman gedung itu pada kunjungan terakhir, aku membawa sesuatu yang tidak aku bawa pulang dua belas tahun lalu. Rasa bangga yang lebih utuh sebagai bagian dari Tambun Selatan, bukan hanya sebagai orang yang kebetulan lahir dan tinggal di sini, tapi sebagai seseorang yang mulai memahami apa artinya berasal dari sini. Gedung itu masih berdiri. Dan kali ini, aku tahu ia memang layak untuk terus berdiri. Bagiku, jawabannya belum sepenuhnya. Dan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya. Tapi kunjungan terakhir itu setidaknya membuka pintu yang selama dua belas tahun tidak aku sadari keberadaannya.(*)