Oleh Andira Aisyah Goutama Putri
Nama Ringin Contong berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu ringin yang berarti pohon beringin dan contong yang berarti wadah makanan berbentuk kerucut. Bagi masyarakat Jombang, istilah Ringin Contong sudah sangat dikenal sebagai gabungan antara pohon beringin yang tumbuh besar di lokasi tersebut dan contong yang identik dengan tandon air peninggalan kolonial Belanda.
Kata ringin dipilih karena adanya pohon beringin yang ditanam oleh Bupati Jombang pertama, yaitu Raden Adipati Arya Soeradiningrat V, pada tanggal 21 Oktober 1910. Penanaman pohon beringin tersebut memiliki makna penting karena dilakukan sebagai penanda berdirinya Pemerintah Kabupaten Jombang setelah wilayah tersebut berpisah dari Mojokerto pada masa kolonial Belanda.
Sejak saat itu, pohon beringin tersebut menjadi simbol awal terbentuknya pusat pemerintahan dan perkembangan Kota Jombang. Keberadaan pohon beringin di lokasi tersebut juga tidak terlepas dari fungsi ekologisnya, karena pohon beringin dikenal memiliki akar yang kuat dan mampu menyimpan air sehingga dapat menjaga keseimbangan lingkungan di sekitarnya.
Pada masa penjajahan Belanda, tepatnya beberapa tahun setelah penanaman pohon beringin tersebut, dibangun sebuah menara air atau watertoren di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Bundaran Ringin Contong. Berdasarkan data dari surat kabar lama De Indische Courant, pembangunan menara air ini dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Belanda yang bernama Burgelijke Openbare Werken (BOW) sejak tanggal 24 Agustus 1928. Menara air tersebut dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Snuyf dan proses pembangunannya memakan waktu sekitar satu tahun.
Setelah selesai dibangun, sejak tahun 1929 menara air itu mulai difungsikan sebagai tempat penampungan atau tandon air yang berasal dari sumber air besar di wilayah Ngampungan, Kecamatan Bareng, Jombang. Air dari menara tersebut kemudian dialirkan melalui sistem distribusi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah Kota Jombang pada masa itu.
Dengan demikian, keberadaan watertoren tidak hanya menjadi bangunan penting dalam sistem penyediaan air bersih, tetapi juga menjadi salah satu bukti perkembangan infrastruktur kota pada masa kolonial Belanda. Selain memiliki nilai sejarah sebagai peninggalan masa kolonial, keberadaan Ringin Contong juga memiliki makna sosial dan lingkungan bagi masyarakat.
Menurut dosen sastra Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Nurdin Bramono, monumen Ringin Contong mengandung pesan penting agar masyarakat tidak menebang pohon secara sembarangan. Ia menjelaskan bahwa jika dipikir lebih mendalam, keberadaan contong pada pohon ringin tersebut merupakan bentuk pembelajaran yang diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi muda masa kini untuk menjaga kelestarian pohon.
Hal ini karena penebangan pohon secara sembarangan dapat mengganggu pertumbuhan pohon dan juga memengaruhi kondisi lingkungan di sekitarnya. Nurdin juga menuturkan bahwa contong tersebut memiliki fungsi sebagai cadangan air untuk membantu menjaga kesuburan pohon beringin sehingga pohon tersebut dapat tumbuh besar dan rindang. Keberadaan pohon yang besar dan rindang sangat penting karena dapat memberikan keteduhan dan menyejukkan suasana di kawasan tersebut. Jika pohon ditebang secara sembarangan, maka kawasan tersebut akan terasa lebih panas dan kurang nyaman bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya.
Menurut Nurdin Bramono, Ringin Contong sendiri telah ada sejak masa kolonial Belanda pada masa kepemimpinan R.A.A. Soeroadiningrat V sebagai Bupati pertama Jombang. Keberadaan pohon beringin yang dihiasi dengan taman di sekitarnya memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Jombang saat ini. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa generasi muda seharusnya tidak hanya memandang Ringin Contong sebagai tempat berkumpul atau bersantai semata, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana pembelajaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan dengan cara menanam dan merawat pohon agar kawasan yang panas dapat menjadi lebih hijau dan sejuk.
Sementara itu, sejarawan Jombang, Nasrul Illah, memberikan pandangan bahwa keberadaan Ringin Contong sebenarnya dapat ditelusuri hingga masa Mataram Kuno. Pada masa tersebut, pohon beringin umumnya tumbuh di persimpangan jalan yang menghubungkan wilayah barat– timur dan utara–selatan. Hal ini karena persimpangan jalan biasanya menjadi titik strategis yang sering dilalui oleh masyarakat maupun para musafir yang melakukan perjalanan jauh.
Pohon beringin yang besar dan rindang memberikan tempat berteduh bagi para pelancong untuk beristirahat. Selain itu, akar pohon beringin juga memiliki kemampuan untuk menahan dan menyimpan air di dalam tanah sehingga lingkungan di sekitarnya tetap terjaga kelembapannya. Kerindangan pohon dan keberadaan sumber air inilah yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat istirahat bagi para musafir atau orang yang sedang melakukan perjalanan.
Pada masa kolonial Belanda, sumber air yang berada di sekitar pohon beringin tersebut kemudian dimanfaatkan dengan membangun sistem penampungan air berupa kaptering air atau menara air (watertoren). Menara tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan air bagi Kota Jombang sehingga kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik. Hingga saat ini, bangunan Ringin Contong yang menjadi titik nol Kabupaten Jombang masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu peninggalan sejarah yang penting bagi kota tersebut.
Seiring dengan perkembangan zaman, kawasan Bundaran Ringin Contong juga telah berkembang menjadi salah satu landmark ikonik di Jombang. Keberadaannya tidak hanya menjadi pengingat akan sejarah panjang perkembangan kota, tetapi juga menjadi simbol kemajuan dan modernisasi yang telah dicapai oleh masyarakat Jombang.(*)