Berziarah ke Makam Sikapat

Oleh Herdawati Puji Pratiwi

Setiap datang bulan Sura, suasana di kampungku selalu terasa berbeda. Udara pagi seakan lebih hening dan orang-orang tampak menjalani hari dengan sikap yang lebih tenang dan penuh penghormatan. Sejak kecil, aku sudah akrab dengan tradisi yang selalu dilakukan pada bulan ini, yaitu naik ke Bukit Sikapat di daerah Wadas, Kecamatan Kajoran, untuk berziarah ke makam Simbah K.H. Sholeh yang berada di puncaknya. Tradisi itu bukan hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga menyimpan kenangan yang sangat melekat dalam hidupku, terutama ketika aku menjalaninya bersama teman-teman masa kecil.

Suatu tahun, kami sepakat untuk kembali melakukan perjalanan itu bersama-sama, seperti mengulang masa kecil yang sempat terpisah oleh kesibukan masing-masing. Pagi itu, kami berkumpul dengan perlengkapan sederhana. Tidak ada persiapan yang terlalu matang, hanya semangat kebersamaan dan niat untuk menjalankan tradisi. Kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang perlahan menanjak, diiringi suara dedaunan yang bergesekan dan sesekali kicauan burung dari kejauhan.

Di awal perjalanan, langkah kami masih teratur dan suasana terasa cukup khidmat. Namun, seiring bertambahnya ketinggian, rasa lelah mulai muncul, dan di situlah suasana berubah menjadi lebih cair. Salah satu temanku mengalami kejadian yang cukup menggelikan ketika ia kehilangan keseimbangan di jalur yang sedikit licin. Cara jatuhnya yang tidak biasa justru membuat kami semua sulit menahan tawa. Ia tidak terluka, tetapi ekspresi wajah dan posisinya saat itu benar-benar di luar dugaan, sehingga kejadian itu menjadi bahan candaan sepanjang perjalanan.

Tidak lama setelah itu, kejadian lain kembali memecah suasana. Salah satu dari kami mengalami masalah dengan sandalnya yang tiba-tiba putus di tengah perjalanan. Alih-alih panik, ia justru mencoba memperbaikinya dengan cara seadanya menggunakan bahan yang tersedia. Hasilnya jauh dari kata sempurna, bahkan cenderung aneh, tetapi justru di situlah letak kelucuannya. Kami beberapa kali harus berhenti karena perbaikan darurat itu tidak bertahan lama. Setiap kali sandal itu kembali bermasalah, tawa kami kembali pecah, membuat perjalanan yang seharusnya melelahkan terasa jauh lebih ringan.

Meski diwarnai berbagai kejadian lucu, perjalanan itu tetap memiliki makna yang dalam. Semakin mendekati puncak, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang. Pepohonan yang rindang dan angin yang berhembus lembut memberikan rasa damai yang sulit dijelaskan. Ketika akhirnya kami tiba di puncak Bukit Sikapat, rasa lelah seakan terbayar oleh pemandangan yang terbentang luas di hadapan kami. Dari atas, hamparan alam terlihat begitu indah dan menenangkan.

Kami pun melaksanakan ziarah di makam Simbah K.H. Sholeh dengan penuh khusyuk. Dalam momen itu, segala canda dan tawa yang mengiringi perjalanan seolah berubah menjadi rasa syukur. Kami menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai puncak atau sekadar menjalankan tradisi, tetapi juga tentang mengenang, menghormati, dan mempererat hubungan, baik dengan sesama maupun dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.

Setelah selesai berziarah, kami duduk sejenak menikmati suasana. Tidak banyak kata yang diucapkan, tetapi kebersamaan itu terasa sangat hangat. Kami seolah kembali menjadi anak-anak yang dulu sering menghabiskan waktu bersama, tanpa beban dan tanpa jarak.

Perjalanan turun pun masih diwarnai sisa-sisa tawa dari kejadian sebelumnya, meskipun langkah kami lebih hati-hati. Setiap momen yang terjadi hari itu terasa begitu membekas. Tradisi bulan Sura yang awalnya hanya kupahami sebagai kewajiban budaya kini menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan cara menikmati perjalanan hidup dengan segala dinamika yang ada.

Hingga sekarang, setiap kali bulan Sura kembali datang, ingatan tentang perjalanan itu selalu hadir dengan begitu jelas. Bukit Sikapat bukan hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga menjadi saksi dari kenangan indah yang dipenuhi tawa, kebersamaan, dan makna yang terus hidup dalam ingatan.(*)