Oleh Naila Sabila Naja Safitri
“Ruwat Bumi” pastinya tidak asing bagi masyarakat Kabupaten Tegal, khususnya daerah yang berada di kaki Gunung Slamet. Tradisi ini selalu menjadi event tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat dan menjadi hiburan bagi warga kawasan Wisata Guci, yaitu Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, dan warga Desa Rembul, Kecamatan Bojong. Biasanya acara ini digelar bertepatan dengan Tahun Baru Jawa, yaitu tanggal 1 Suro atau 1 Muharram dalam kalender Hijriyyah. Memiliki tujuan sebagai sarana penyucian atas dosa yang akan berdampak pada kesialan pada diri manusia.
Ruwat Bumi merupakan sebuah tradisi budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Kata “Ruwat” berasal dari bahasa Jawa yang artinya menjaga atau melestarikan, sedangkan “Bumi” itu sendiri merupakan tempat hidup manusia. Jadi dapat diartikan bahwa Ruwat Bumi adalah tradisi sakral untuk melestarikan dan menjaga apa yang telah Bumi berikan kepada manusia.
Ruwatan Bumi lahir dari sejarah panjang di Desa Guci. Sejarah tradisi ruwatan ini sama dengan awal mula terbentuknya sebuah desa bernama Guci. Konon, ada seorang raden dari Kerajaan Demak bernama Aryo Wiryo yang mengembara hingga ke lereng utara Gunung Selamet. Dialah orang pertama yang membuka lahan desa tersebut, sehingga banyak orang datang dan meminta untuk dijadikan murid.
Saat itu, desa tersebut diberi nama Desa Keputihan yang berarti kota suci tanpa dosa. Sebab pada masa lampau, desa ini dianut oleh masyarakat Hindu-Buddha. Namun, sejak kedatangan Raden Aryo, seluruh masyarakatnya berbondong-bondong memeluk agama Islam.
Pada awal terbentuknya cerita oleh Tradisi Ruwatan Bumi pada tahun 1966, saat itu Raden Aryo yang pada saat itu masih mendalami ilmu agama Islam bermaksud untuk menjadi muridnya dan mengajak para pengikutnya untuk memperdalam agama Islam di tengah wabah yang sedang menimpa Desa Putih tersebut. Pada saat itu, Kyai Eyang Sutajaya sedang berada di desa ini dan mengajak Raden Aryo beserta para pengikutnya untuk berdoa kepada Tuhan dengan menggunakan kata selamat.
Sebagai simbol dari doa bersama tersebut, maka dilakukanlah prosesi mempersembahkan hasil bumi berupa pala pandemik (ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan). Menggantung pala dalam bentuk buah-buahan dan sayur-sayuran, hasil bumi tersebut diperlihatkan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi tersebut. Dipersembahkan pula kepada para leluhur yang dahulu ada di desa putih ini.
Desa Guci konon katanya punya sejarah tersendiri. Yakni, seseorang yang diyakini sebagai Syech Syarif Hidayatullah datang ke desa ini dengan membawa sebuah kendi besar berisi air suci untuk menyembuhkan penyakit kulit. Ia menitipkan kendi tersebut kepada muridnya, Kyai Elang Sutajaya, yang kemudian meletakkan kendi tersebut di sudut lereng di kaki Gunung Selamet. Saat itulah desa ini diberi nama Desa Guci.
Penyelenggaraan “Ruwat Bumi” ini dimulai dengan proses arak-arakan, dilanjutkan dengan memandikan kambing kendit. Penamaan kambing kendit memiliki filosofi tersendiri, yaitu corak putih yang melingkar di bagian perut kambing menyerupai “kendit” atau “ikat pinggang”. Kemudian dilanjutkan dengan proses grebeg gunungan yang berisi hasil bumi. Acara penuh dengan suka cita, kebersamaan dan kekeluargaan yang erat. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tak ayal, gunungan langsung habis diperebutkan warga dalam sekejap.
Tujuan utama dari kegiatan Ruwat Bumi ini adalah sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT berupa kekayaan alam yang dimiliki oleh Kabupaten Tegal, khususnya di Desa Guci dan Dukuh Pekandangan. Sebagai bentuk memohon perlindungan agar terhindar dari marabahaya atau malapetaka, serta sebagai bentuk melestarikan adat istiadat leluhur.
Ruwat Bumi sebagai sebuah upacara adat merupakan usaha untuk melestarikan budaya yang diwariskan oleh para leluhur, meskipun dalam era globalisasi yang berkembang saat ini, kekayaan budaya tersebut masih dapat dinikmati oleh generasi penerus.
Dalam tradisi ini, penghormatan yang dimaksud yaitu penghormatan berupa ucapan terima kasih kepada para leluhur yang telah memberikan rasa kebahagiaan dan kesejahteraan berupa pemberian sesajen, tumpeng, gunungan, dan lainnya. Penyembahan dan penghormatan kepada leluhur adalah nilai luhur yang harus dipegang oleh masyarakat, dengan harapan bisa menjalani hidup ke jalan yang lebih baik dan sejahtera.
Kesembuhan antara alam dan manusia akan menciptakan kehidupan yang berkelanjutan. Alam akan memberikan apa yang dibutuhkan manusia jika manusia itu bisa menjaga dan menghormatinya dengan baik. Dalam tradisi Ruwat Bumi, peranan manusia dan alam memiliki hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Selain penghormatan terhadap leluhur, Ruwat Bumi juga memiliki makna dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dan alam.
Dalam tradisi ini, masyarakat mengakui bahwa mereka adalah bagian dari alam semesta yang lebih luas dan hubungan mereka dengan alam harus dijaga agar tetap harmonis. Upacara Ruwat Bumi melibatkan serangkaian persembahan kepada alam, seperti air, beras, bunga, dan sayuran serta kambing hitam dan lainnya.
Hal ini mencerminkan kepercayaan bahwa dengan memberikan persembahan kepada alam, manusia dapat menjaga keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan mereka serta memperoleh berkah dan keberuntungan. Mewujudkan keterkaitan yang seimbang antara manusia dan lingkungan dapat tercapai dengan merawat serta menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Nilai dan norma yang terkandung dalam tradisi Ruwat Bumi tidak jauh dari apa yang telah Tuhan berikan untuk keberlangsungan umat manusia. Hubungan. Dengan demikian, Ruwat Bumi memiliki makna yang mendalam dalam menjaga keseimbangan kehidupan antara alam dunia dan alam ghoib. Upacara ini tidak hanya merupakan bentuk penghormatan terhadap Tuhan, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dunia untuk menjaga kesuburan dan kehamilan.
Upacara Ruwat Bumi di Desa Guci ini juga berperan penting dalam memperkuat solidaritas dan kebersamaan di antara anggota masyarakat. Seluruh komunitas, baik yang muda maupun yang tua, berpartisipasi aktif dalam melaksanakan dan merayakan tradisi ini.
Hal ini memberikan pengaruh positif yang nyata dalam memperkuat rasa persatuan dan saling ketergantungan di antara mereka. Upacara Ruwat Bumi di Desa Guci melibatkan seluruh anggota masyarakat dari berbagai generasi untuk secara aktif terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan upacara tersebut. Mereka bekerja sama dalam menyiapkan perlengkapan, makanan, mengatur, dan melakukan serangkaian ritual.
Partisipasi aktif ini membangun kerja sama dan solidaritas di antara mereka karena mereka saling mendukung dan bergantung pada satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu, upacara Ruwat Bumi juga menjadi momen bagi anggota masyarakat Desa Guci untuk bertemu dan berinteraksi secara langsung. Selama persiapan dan pelaksanaan upacara, mereka berkomunikasi, berbagi pengetahuan, dan saling membantu. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan antarpribadi, tetapi juga memperdalam ikatan sosial di antara mereka.
Interaksi sosial ini juga mencakup pertukaran cerita, pemahaman bersama, dan pengembangan rasa saling pengertian dan empati di antara generasi yang berbeda. Melalui partisipasi dalam Ruwat Bumi, anggota masyarakat Desa Guci merasakan kehadiran yang kuat terhadap identitas kolektif mereka. Upacara ini menjadi simbol kebersamaan, kebanggaan, dan penghormatan terhadap leluhur dan warisan budaya mereka.
Dengan merayakan tradisi ini secara bersama-sama, mereka membangun rasa persatuan sebagai satu komunitas yang berbagi nilai-nilai, tujuan, dan identitas yang sama. Ruwat Bumi juga memperkuat rasa saling ketergantungan di antara anggota masyarakat Desa Guci.
Selama pelaksanaan upacara, mereka menyadari bahwa keberhasilan dan berkah acara ini bergantung pada kontribusi setiap individu. Mereka menyadari bahwa upaya bersama adalah kunci keberhasilan dan setiap orang memiliki peran yang penting untuk menjaga kelestarian tradisi ini. Kesadaran akan saling ketergantungan ini menciptakan ikatan yang lebih kuat di antara mereka.(*)