Oleh Naura Luthfia Azra
Waktu aku duduk di kelas 1 SD, ada satu momen yang sampai sekarang tidak terlupakan, yaitu tur studi ke Pantai Kartini lalu dilanjutkan ke Museum R.A. Kartini. Untuk anak kecil seusiaku waktu itu, perjalanan ini terasa sangat membahagiakan. Kami berangkat pagi-pagi sekali menaiki bus. Suasana di dalam bus sangat ramai; semua teman tertawa, bernyanyi, dan tidak sabar sampai tujuan. Karena waktu itu belum secanggih sekarang, makanya kami tidak bermain ponsel; kami benar-benar menikmati perjalanan dengan cara sederhana, bercerita, bercanda, dan melihat pemandangan di luar jendela.
Sesampainya di Pantai Kartini, aku langsung terpesona. Angin laut terasa sejuk, suara ombak terdengar menenangkan, dan langit terlihat luas tanpa batas. Setelah turun dari bus, kami diajak berjalan menuju bangunan berbentuk kura-kura raksasa yang dikenal sebagai Kura-Kura Ocean Park. Di dalamnya terdapat akuarium yang cukup besar dan terdiri dari dua lantai. Aku berjalan perlahan sambil melihat berbagai jenis ikan yang berenang di dalam air. Ada ikan kecil yang bergerombol. Ada juga ikan yang bentuknya aneh menurutku waktu itu. Lampu-lampu di dalam ruangan membuat suasana terasa sedikit gelap, tapi justru itu yang membuat pengalaman melihat ikan jadi lebih seru. Aku dan teman-temanku berjalan bersama, saling menunjuk ikan yang kami lihat. Rasanya seperti masuk ke dunia bawah laut karena saking indahnya pemandangan akuarium waktu itu.
Setelah selesai di pantai, perjalanan dilanjutkan ke Museum R.A. Kartini. Suasananya sangat berbeda dengan pantai yang terasa ramai. Di museum suasananya lebih tenang dan harus tertib. Kami diminta untuk tidak berisik dan berjalan rapi sambil melihat-lihat isi museum. Di dalamnya terdapat berbagai benda peninggalan Raden Ajeng Kartini, seperti foto, pakaian, dan benda-benda bersejarah lainnya. Walaupun saat itu aku belum terlalu memahami semua penjelasannya, aku tetap merasa kagum melihat benda-benda tersebut.
Saat kami sedang berkeliling, tiba-tiba suasana berubah ketika beberapa temanku mulai berbisik-bisik. Temanku mulai bercerita kalau katanya patung kayu yang ada di situ bisa bergerak sendiri pada pukul tiga sore. Cerita itu langsung menyebar ke teman-teman lain, membuat kami jadi saling memandang dengan wajah tegang. Aku yang awalnya santai jadi ikut merasa takut. Kami mulai memperhatikan setiap patung yang ada di sekitar, seolah-olah benar-benar menunggu sesuatu terjadi.
Waktu berjalan, tapi tidak ada kejadian aneh seperti yang diceritakan. Meski begitu, rasa tegang yang kami rasakan saat itu justru menjadi bagian yang paling membekas dalam ingatan. Tur studi hari itu bukan hanya tentang berjalan-jalan dan belajar, tetapi juga tentang pengalaman kecil yang terasa besar bagi kami waktu itu. Sampai sekarang, kenangan tur studi tersebut masih terasa hidup. Dari keseruan masuk ke dalam kura-kura raksasa di Pantai Kartini sampai cerita misterius di museum, semuanya menjadi bagian dari masa kecil yang sulit dilupakan.(*)