Simfoni Meron di Tanah Sukolilo

Oleh Cheshela Cokro Permata

Kabupaten Pati selalu memiliki cara tersendiri untuk memikat hati melalui kekayaan budayanya yang autentik dan tak terkikis oleh waktu. Di balik tenang dan asrinya suasana di bawah kaki Pegunungan Kendeng, terdapat sebuah wilayah bernama Sukolilo yang menyimpan denyut tradisi yang sangat kuat serta mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Di sinilah saya tumbuh besar, di sinilah keluarga saya menetap di tengah masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai luhur dan kebersamaan dalam balutan spiritualitas yang mendalam, menciptakan sebuah identitas diri yang sangat membekas. Bagi saya, Sukolilo bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Tengah, melainkan sebuah ruang kehidupan tempat tradisi dan modernitas berdialog dengan sangat harmonis dan penuh rasa hormat. 

Satu momen yang paling dinantikan setiap tahunnya oleh seluruh lapisan masyarakat adalah Tradisi Meron, sebuah perhelatan akbar untuk memperingati hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad saw. Tradisi ini bukan sekadar perayaan rutin yang bersifat seremonial belaka, melainkan sebuah warisan turun-temurun yang telah mendarah daging sejak zaman Kesultanan Mataram Islam ratusan tahun silam. Atmosfer di seluruh penjuru Sukolilo seketika berubah menjadi penuh energi, antusiasme yang meluap-luap, serta vibrasi spiritualitas yang kental sesaat sebelum prosesi ini dimulai secara resmi. Ada kebanggaan kolektif yang menyeruak di antara gang-gang desa, menandakan bahwa sebuah perhelatan besar yang menyangkut kehormatan daerah akan segera dilaksanakan dengan penuh khidmat.

Saya masih ingat betul bagaimana persiapan dimulai sejak jauh hari dengan tingkat ketelitian dan keseriusan yang luar biasa dari para tokoh adat serta pemuda setempat. Keluarga dan tetangga bahu-membahu menyiapkan gunungan setinggi beberapa meter yang menjadi ikon utama dalam perayaan ini, yang dikenal dengan sebutan “Ampyang Meron”. Semangat gotong royong yang tecermin di wajah-wajah tulus mereka memberikan impresi mendalam bahwa tradisi ini adalah perekat sosial paling ampuh bagi warga lokal di tengah gempuran zaman. Tak ada sekat yang memisahkan antara yang kaya dan yang miskin; semua melebur dalam satu visi untuk menyukseskan ritual suci yang menjadi marwah bagi masyarakat Sukolilo dan sekitarnya.

Gunungan Meron terdiri atas berbagai komponen simbolis yang disusun dengan tingkat kerumitan tinggi dan penuh filosofi kehidupan yang sangat dalam. Di bagian paling atas terdapat mustaka, diikuti oleh rangkaian karang-karangan dan ancak yang melambangkan kemakmuran serta rasa syukur yang tak terhingga atas melimpahnya hasil bumi di tanah Pati. Melihat struktur raksasa tersebut berdiri kokoh dengan hiasan yang begitu artistik, saya merasa ada kebanggaan serta tanggung jawab moral tersendiri sebagai putri daerah yang turut menjaga kelestarian identitas budaya ini. Setiap helai janur dan setiap butir hasil bumi yang terpasang pada gunungan tersebut seolah membisikkan cerita tentang kesabaran, ketelatenan, dan dedikasi masyarakat terhadap leluhur mereka.

Hari yang dinanti-nantikan itu pun akhirnya tiba dengan semburat fajar yang terasa jauh lebih hangat dan bercahaya dari biasanya, seolah alam semesta pun merestui jalannya tradisi. Riuh rendah suara masyarakat yang bersiap-siap mulai memenuhi sepanjang jalan utama Sukolilo, menciptakan sebuah simfoni kegembiraan yang sulit untuk dilukiskan hanya dengan deretan kata-kata. Mengenakan pakaian adat yang rapi dan bersahaja, saya bersiap mengambil peran kecil dalam arak-arak besar yang akan menempuh perjalanan cukup jauh menuju pelataran Masjid Jami’ Sukolilo. Jantung saya berdegup kencang, bukan karena kelelahan yang akan dihadapi, melainkan karena rasa haru bisa menjadi bagian dari narasi besar kebudayaan yang sudah bertahan selama berabad-abad.

Arak-arakan gunungan dimulai dengan iringan tetabuhan musik tradisional yang suaranya menggema hebat dan seolah getarannya mampu menembus hingga ke dalam dada para penonton. Setiap langkah kaki yang berderap di atas aspal jalanan seolah membawa beban sejarah yang mulia, namun tetap terasa ringan berkat euforia massa yang begitu masif dan penuh sukacita. Aroma kemenyan yang dibakar dan harum bunga melati yang menyeruak di udara memberikan kesan mistis sekaligus sakral yang menyelimuti seluruh prosesi perjalanan menuju pusat kegiatan. Di bawah terik matahari, semangat para pembawa gunungan sama sekali tidak surut, justru semakin membara seiring dengan sorak-sorai penyemangat dari ribuan pasang mata yang menyaksikan di sepanjang jalur.

Sepanjang perjalanan yang panjang itu, mata saya menangkap pemandangan ribuan orang yang memadati pinggir jalan dengan penuh rasa hormat serta kekaguman yang terpancar dari wajah mereka. Ada getaran emosional yang sangat hebat saat melihat para sesepuh desa memberikan restu melalui tatapan mata mereka yang dalam dan penuh dengan kebijaksanaan hidup. Tradisi ini terbukti bukan hanya tentang pameran visual yang megah, melainkan tentang penghormatan kepada para leluhur dan penguatan iman yang terjalin dengan indah dalam sebuah harmoni budaya. Impresi yang saya dapatkan adalah bahwa Meron telah menjadi wadah pertemuan antara sejarah masa lalu, realitas masa kini, dan harapan besar untuk masa depan yang lebih baik.

Ketika iring-iringan gunungan akhirnya sampai di depan Masjid Jami’, suasana yang tadinya sangat riuh seketika berubah menjadi jauh lebih tenang dan khidmat dengan pembacaan doa-doa suci. Saya merunduk dengan kepala tertunduk dalam, meresapi setiap kalimat tayyibah dan selawat yang melantun merdu serta menggema di langit, memohon keberkahan untuk seluruh tanah kelahiran ini. Impresi ketenangan batin yang saya rasakan saat itu seolah mampu menghentikan waktu sejenak di tengah hiruk-pikuk keramaian yang masih mengepung area luar masjid. Dalam keheningan doa tersebut, saya merasa sangat kecil di hadapan Sang Pencipta, namun sekaligus merasa sangat kaya karena memiliki warisan budaya yang begitu sarat akan nilai-nilai ketuhanan.

Puncak acara yang paling ditunggu oleh semua orang adalah saat gunungan-gunungan tersebut akhirnya “diperebutkan” atau dibagikan secara massal kepada warga setelah prosesi doa bersama selesai dilakukan. Masyarakat setempat percaya dengan sepenuh hati bahwa setiap bagian dari gunungan tersebut membawa berkah dan keselamatan bagi kehidupan mereka selama setahun ke depan. Meski terjadi aksi saling desak dan kegaduhan yang cukup intens, uniknya tidak ada satu pun kemarahan atau pertikaian yang muncul di antara mereka; yang ada hanyalah tawa lepas dan kebahagiaan yang tumpah ruah. Inilah manifestasi dari sebuah keyakinan kolektif, di mana materi tidak lagi dipandang dari nilai harganya, melainkan dari nilai keberkahan dan perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkannya.

Saya sendiri berhasil mendapatkan bagian kecil dari gunungan tersebut, sebuah benda sederhana, namun bagi saya itu adalah simbol fisik dari sebuah perjalanan spiritual yang sangat luar biasa. Bagian gunungan tersebut mungkin secara lahiriah hanyalah benda mati, namun makna filosofis yang tersembunyi di dalamnya adalah tentang harapan, doa, dan persistensi yang tidak pernah boleh putus dalam menghadapi cobaan hidup. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada kemewahan, melainkan pada rasa syukur, keikhlasan berbagi, dan penerimaan tulus atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Memegang bagian gunungan itu membuat saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga semangat Meron tetap hidup dalam tindakan sehari-hari.

Seiring berakhirnya seluruh rangkaian acara, senja pun mulai turun perlahan di cakrawala barat Sukolilo dengan warna jingga kemerahan yang sangat memukau dan memberikan kesan dramatis pada langit desa. Kebisingan yang tadi memenuhi udara secara perlahan mulai mereda, menyisakan jejak-jejak kedamaian serta sisa-sisa kegembiraan di setiap sudut desa yang baru saja merayakan kemenangannya atas ego pribadi demi kepentingan bersama. Saya berjalan pulang dengan langkah yang terasa sangat mantap, membawa pulang pemahaman baru mengenai esensi dari sebuah tradisi yang tetap mampu berdiri tegak dan relevan di tengah gempuran arus modernisasi yang kian kencang. Hati saya merasa sangat penuh, seolah-olah baterai spiritualitas dalam diri saya baru saja diisi ulang hingga penuh oleh energi positif dari Meron.

Pengalaman mengikuti Tradisi Meron di Sukolilo, Pati, akan selalu menjadi memori emas yang tersimpan sangat rapi dan abadi dalam lubuh hati terdalam saya hingga akhir hayat nanti. Tanah kelahiran ini bukan hanya sekadar tempat saya bertumbuh secara fisik, melainkan merupakan guru kehidupan yang paling jujur dalam mengajarkan arti pengabdian, loyalitas pada akar budaya, dan cinta kasih pada sesama manusia. Meron bagi saya bukanlah sekadar perayaan tahunan yang akan terlupakan saat berganti bulan; ia adalah napas kehidupan, sebuah identitas, dan denyut nadi yang akan terus berembus di sepanjang sejarah peradaban masyarakat Sukolilo. Saya bangga menjadi bagian dari Pati, dan saya akan selalu merindukan saat-saat di mana doa dan tradisi menyatu dalam satu harmoni yang tak terlukiskan indahnya.

Kini, setiap kali saya melangkah meninggalkan Sukolilo untuk kembali ke rutinitas dunia luar, ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang selalu menarik saya untuk kembali pulang ke tanah kelahiran. Tradisi Meron telah menanamkan sebuah filosofi bahwa sejauh apa pun kaki melangkah mengejar modernitas dan cita-cita, akar budaya adalah kompas yang menjaga kita agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Saya menyadari bahwa menjaga kelestarian identitas ini bukan sekadar tugas para tetua desa, melainkan tanggung jawab berkelanjutan yang kini berada di pundak generasi saya untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur Sukolilo tetap abadi. Dengan membawa keteguhan prinsip dan memori budaya yang telah meresap dalam diri saya, saya berjanji untuk terus menghidupkan semangat kebersamaan dan rasa syukur ini dalam setiap helaan napas, hingga tiba waktunya bagi saya untuk kembali bersimpuh di bawah kaki Pegunungan Kendeng pada perayaan di tahun-tahun mendatang.(*)