Oleh Ardelya Hayu Pramestika
Banyumas bagiku bukan sekadar titik di peta, melainkan kumpulan ingatan yang aromanya menyerupai tanah basah setelah hujan. Di antara sekian banyak lekuk jalannya, ada satu tempat yang selalu berhasil menarikku kembali ke masa lalu, yaitu sebuah tempat di mana air terjun jatuh dengan gagah, namun membawa ketenangan yang lembut, Curug Cipendok.
Perjalanan menuju ke sana selalu terasa seperti sebuah ritual. Aku ingat betul bagaimana udara mulai berubah menjadi dingin saat kendaraan mulai menanjak melewati rimbunnya pepohonan pinus. Seolah-olah alam sedang membisikkan rahasia yang hanya bisa didengar jika kita mematikan mesin kendaraan dan membiarkan angin pegunungan menyentuh kulit.
Cipendok bukan hanya tentang air yang jatuh dari ketinggian sembilan puluh dua meter. Bagiku, ia adalah tentang perjalanan bersama orang-orang tersayang. Aku teringat masa kecilku, saat tangan kecilku digenggam erat agar tidak tergelincir di jalan setapak yang basah. Gemuruh airnya yang terdengar dari kejauhan seperti detak jantung hutan yang menyambut kedatangan kami.
Ketika akhirnya kaki ini berpijak di depan aliran airnya, rasa lelah seolah menguap bersama butiran uap air yang beterbangan di udara. Cipendok selalu punya cara untuk membuatku merasa kecil, namun sekaligus merasa utuh. Di sana, di depan tirai air yang tak pernah berhenti mengalir, aku belajar bahwa hal-hal paling indah di dunia ini sering kali membutuhkan usaha yang tidak mudah untuk dicapai.
Kini, meskipun aku sudah tumbuh dewasa dan mungkin bisa berkunjung ke tempat-tempat yang lebih mewah, Cipendok tetap memiliki ruang khusus di sudut hatiku yang paling sunyi. Setiap kali aku merasa sesak dengan hiruk-pikuk kota, aku akan teringat pada gemuruhnya, pada kabut tipisnya, dan pada ketulusan alam yang selalu menungguku di sana.(*)