Tak Akan Pernah Bosan ke Cimory

Oleh An Daffa Chandra Kalima

Pertama kali aku menginjakkan kaki di Cimory On The Valley, Bawen, adalah pada Mei 2013 saat aku baru berusia enam tahun. Ayah memarkir mobil di area depan yang saat itu belum seluas sekarang. Aku ingat bau khas peternakan yang langsung menyengat hidung begitu keluar dari pintu mobil. Ayah menggandeng tanganku menuju loket masuk untuk membeli tiket yang bisa ditukarkan dengan produk susu bantal.

Setelah masuk, aku langsung menuju area kandang sapi. “Yah, lihat sapinya besar banget,” kataku sambil menunjuk seekor sapi perah berwarna hitam putih. Ayah hanya tersenyum dan menyuruhku berdiri di dekat pagar kayu agar beliau bisa memotretku menggunakan kamera saku. Suasana saat itu cukup sejuk karena banyak pepohonan rindang di sekitar jalur pejalan kaki.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada Juni 2015, aku kembali datang bersama keluarga besar saat libur kenaikan kelas. Aku sudah tidak takut lagi mendekati hewan dan mencoba memberi makan kelinci di area rabbit garden. Petugas memberikan satu ikat wortel seharga beberapa ribu rupiah. Aku menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk melihat kelinci-kelinci itu mengunyah sayuran dengan cepat.

Pada Agustus 2017, intensitas kunjunganku mulai meningkat karena tempat ini menjadi destinasi favorit setiap kali ada saudara dari luar kota yang berkunjung. Aku sudah hafal rute jalan setapaknya, mulai dari area burung hingga jembatan kayu yang melintasi sungai kecil. “Pak, saya mau es krim cokelat yang di dekat pintu keluar nanti ya,” ucapku kepada Ayah saat kami beristirahat di bangku taman.

Memasuki usia SMP, tepatnya pada Maret 2019, aku mulai sering datang ke sini bukan hanya dengan keluarga, tetapi juga bersama teman-teman sekolah. Kami naik bus dari pusat kota Semarang dan turun tepat di depan gerbang Cimory. “Wis tau mrene ping pira kowe? Aku wis apal banget dalane,” kataku pada seorang teman yang baru pertama kali datang. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di restoran untuk memesan sosis bakar yang ukurannya sangat panjang.

Kunjungan tetap berlanjut meski pandemi melanda, seperti pada Desember 2020 saat aturan protokol kesehatan sedang ketat-ketatnya. Aku datang bersama Ibu untuk membeli stok yogurt dan beberapa camilan di dairy shop. Suasana terasa lebih sepi dari biasanya dan kami harus memakai masker sepanjang waktu. “Bu, susunya yang rasa strawberry ambil dua liter ya,” kataku sambil memasukkan botol ke keranjang belanja.

Pada Oktober 2021, aku datang lagi saat cuaca sedang gerimis. Area Minimania yang berisi replika ikon dunia sudah semakin lengkap dan tertata rapi. Aku hanya berjalan-jalan santai menggunakan payung sambil melihat-lihat miniatur Menara Eiffel. Tidak ada aktivitas khusus yang kulakukan selain menikmati udara segar Bawen yang selalu konsisten terasa lembap setiap sore hari.

Menginjak bangku SMA, kunjunganku semakin sering karena lokasinya yang strategis untuk titik kumpul. Pada Juli 2023, aku mengajak teman-teman sekelas untuk merayakan berakhirnya ujian semester. Kami duduk di area balkon restoran yang menghadap ke arah lembah hijau. “Lungguh kene wae, angine penak nggo ngobrol,” ajakku kepada teman-temanku sambil memilih meja yang paling pojok.

Satu tahun berselang, pada Februari 2024, aku datang sendirian hanya untuk membeli stok Chocomory kesukaanku. Aku tidak lagi masuk ke area wisata peternakan, melainkan langsung menuju minimarketnya yang selalu ramai. Aku sudah sangat terbiasa dengan antrean panjang di kasir dan tata letak rak barang yang jarang berubah posisi. Aku hanya menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di dalam sana.

Pada September 2024 saat aku menemani adik sepupuku yang masih kecil. Aku berperan sebagai pemandu jalan karena sudah tahu persis di mana letak toilet, tempat makan, dan area foto yang bagus. “Mas, mau lihat sapi yang itu,” kata adikku sambil menarik bajuku. Aku hanya mengikutinya dari belakang melewati jalur yang sama seperti yang kulewati setiap kali aku berkunjung ke sini dari tahun-tahun lalu.

Pada Desember 2024, aku datang bersama teman sekolah menggunakan sepeda motor untuk sekadar melepas penat. “Susu kene pancen ora tau malih rasane, tetep seger,” ujarku sambil menyesap susu rasa pisang di area parkir motor.

Selama tiga belas tahun, Cimory telah menjadi tempat yang selalu kukunjungi secara rutin tanpa bosan. Dari mulai tinggiku yang hanya sepinggang Ayah hingga sekarang, sudah bisa menyetir sendiri ke sana. Suasana bangunannya, aroma susunya, dan udara Bawen tetap terasa sama setiap kali aku datang kembali. Tempat ini sudah seperti bagian dari rutinitas bulanan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupanku di Semarang.(*)