Kenangan Pahit di Suatu Kota

Oleh Kayla Mirza Fahrezi

Udara pagi di Ungaran masih basah oleh embun ketika Kartono berdiri di halaman sekolah dengan seragam yang terasa kaku di tubuhnya. Bangunan di depannya menjulang tenang, dinding tebal dengan jendela tinggi, seolah memandang balik setiap murid yang datang. Ia baru beberapa hari tiba dari desa di pinggiran, perjalanan panjang yang ia tempuh demi masuk ke Kweekschool, tempat yang orang-orang bilang akan membentuknya menjadi guru. Di sampingnya, Sastro menepuk bahunya pelan sambil berbisik, “Jangan bengong saja, kita hampir mulai,” dan Kartono segera merapat ke barisan murid lain yang sudah berdiri rapi di bawah pengawasan seorang pengawas Belanda yang berjalan perlahan sambil mengamati setiap gerakan.

Hari-hari awal berjalan dengan ritme yang keras. Pagi tak diisi dengan duduk di bangku, tetapi dengan latihan fisik di aula yang luas, tempat tubuh dipaksa bergerak sebelum pikiran diberi pelajaran. Kartono sering tertinggal, napasnya berat, sementara Sastro masih sempat menoleh sambil berbisik, “Kalau begini terus, nanti kau mengajar sambil berlari juga?” Kartono hanya menggeleng sambil menjawab pendek, “Aku ingin lulus dulu.” Aula itu dingin, rangka besinya kokoh, dan setiap langkah yang menggema terasa seperti mengingatkan bahwa tempat itu tidak dibangun untuk mereka yang mudah menyerah.

Asrama berdiri memanjang di belakang gedung utama. Kamar-kamar disusun rapi dengan barang yang tidak banyak, hanya cukup untuk bertahan. Malam hari diisi dengan membaca atau mengulang pelajaran, meski percakapan kecil sering muncul saat lampu mulai redup. Sastro pernah bertanya dengan suara pelan, “Setelah lulus, kita akan dikirim ke mana?” Kartono terdiam sejenak sebelum menjawab, “Entah. Mungkin jauh dari sini.” Ia menatap langit-langit kayu di atasnya, mencoba membayangkan tempat yang belum pernah ia lihat, sementara suara malam Ungaran tetap berjalan seperti biasa di luar sana.

Hari Minggu memberi sedikit kelonggaran. Mereka berjalan menyusuri jalan utama Ungaran yang menghubungkan pedalaman dan kota pelabuhan, jalan yang tidak pernah benar-benar sepi. Pedagang lewat, pekerja kebun membawa hasil panen, dan kereta kuda sesekali melintas. Di salah satu sisi jalan, Kartono melihat bangunan yang ramai oleh orang keluar-masuk, lalu bertanya, “Itu tempat apa?” Sastro menjawab singkat, “Pandhuis, tempat gadai.” Kartono memperhatikan lebih lama, lalu bertanya lagi, “Untuk apa mereka datang ke sana?” Sastro mengangkat bahu sambil menjawab, “Butuh uang. Kadang untuk makan, kadang untuk bayar lain-lain.”Beberapa minggu kemudian, Kartono melihat sendiri bagaimana tempat itu berhubungan dengan kehidupan mereka. Seorang murid dari angkatan atas keluar dari bangunan itu dengan wajah pucat. Di dekat mereka, seseorang berbisik, “Sepedanya sudah tidak ada.” Kartono menoleh, “Digadaikan?” Orang itu mengangguk pelan. “Untuk biaya sekolah.” Kartono menatap ke arah Sastro, tetapi temannya itu hanya diam, tidak lagi memberi komentar seperti biasanya.

Waktu berjalan tanpa terasa sampai suatu pagi suasana berubah. Para murid dikumpulkan di aula, bukan untuk latihan, melainkan untuk mendengar pengumuman. Seorang pengajar berdiri di depan dengan wajah yang tidak seperti biasanya, lalu berkata singkat, “Sekolah ini akan ditutup.” Kalimat itu jatuh tanpa penjelasan panjang. Beberapa murid saling menatap, sementara Sastro berbisik pelan, “Lalu kita bagaimana?” Kartono tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai aula yang selama ini mereka pijak setiap hari.Hari-hari setelahnya kehilangan ritme. Beberapa kamar mulai kosong, beberapa wajah tidak lagi muncul di barisan pagi, dan Ungaran di luar sana tetap berjalan seperti biasa tanpa menunggu apa yang terjadi di dalam kompleks itu. Pada suatu sore, Kartono berdiri di depan gedung utama dengan cat yang mulai kusam, mencoba memahami bahwa tempat yang sempat terasa begitu pasti kini tidak lagi memberi arah yang jelas. Sastro berdiri di sampingnya sambil berkata pelan, “Kau masih ingin menjadi guru?” Kartono menatap jalan yang mengarah keluar kota sebelum menjawab, “Aku tidak tahu.”(*)