Oleh Musthofiah Aulia Nur
Konon, ada suatu tempat di Mranggen, Jawa Tengah, yang memiliki suatu keistimewaan yang menjadikannya terkenal di kalangan warga setempat. Di sana ada api yang tak pernah padam, api abadi, sebutannya. Apinya besar, ada pemandian air panas, dan memiliki banyak spot foto yang menarik. Begitu setidaknya yang ada di bayangan Kiran kecil waktu itu.
Kiran baru dapat mengunjungi tempat itu ketika ia baru lulus sekolah menengah ke atas, walaupun ia sangat ingin mengunjungi tempat tersebut sejak sekolah dasar. Alasannya cukup simpel karena ia merantau setelah lulus sekolah dasar. Ia menuntut ilmu di sebuah pesantren yang berlokasi di salah satu kota di Jawa Timur, cukup jauh dari asalnya, walau masih satu pulau. Hal itu juga menjadi salah satu alasannya untuk mengunjungi Api Abadi Mrapen ini.
“Apa tempat yang terkenal di rumahmu/di tempat tinggalmu?” merupakan pertanyaan yang sering kali menjadi topik seru dalam suatu perbincangan. Dan itulah yang Kiran alami. Pertanyaan tersebut akhirnya ditanyakan kepadanya. Tapi ia sendiri belum pernah datang ke sana, membuatnya sulit meyakinkan teman-temannya perihal tempat tersebut. “Abadi tenan ye?” (Abadi betul?) “Ya apa reti aku, gung tau rana oh.” (Ya, mana aku tahu, belum pernah ke sana.) jawabnya jujur kepada temannya.
Pertanyaan itu mengusik pikiran Kiran. “Perihal keabadian tersebut apakah memang benar adanya?” batinnya. Ia semakin ingin datang ke tempat tersebut. Dirinya mulai begitu penasaran, “Tenan urup terus ye genine?” “Pemandian banyu panas-panas banget ga yo?” “Mesti rame tenan iku panggone.” (“Beneran hidup teruskah apinya?” “Pemandian air panasnya panas banget gak ya?” “Pasti rame banget itu tempatnya.”) dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Hingga pada akhirnya, ia diajak oleh ibunya untuk ikut jalan-jalan ke Api Abadi Mrapen bersama teman-teman sepergosipannya, alias ibu-ibu rt 06 dan 07. Teman-teman ibunya memang sering mengadakan jalan-jalan bersama seperti ini. Seperti acara rutinlah setiap dua minggu sekali atau sebulan sekali, tergantung keputusan bersama.
Dengan menggunakan odong-odong, duduklah Kiran di samping ibunya yang berada di sebelah kanannya. Perjalanannya sebenarnya tidak begitu jauh, apalagi kalau ditempuh menggunakan mobil atau motor, mungkin sekitar 25 menit dari desanya. Tapi ini, odong-odong, yang kecepatannya tak lebih dari 50 km/jam, bisa menghabiskan waktu hampir satu jam, atau mungkin lebih? Entahlah, ia pun kurang bisa mengiranya.
Selama perjalanan, ia memilih untuk melihat pemandangan yang ada di sekitarnya, mengabaikan riuhnya ibu dan teman-temannya yang sedang berkaraoke ria. Karena jujur, ia sedikit canggung di sini. Masalahnya, semua anak teman-teman ibunya masih berumur sekitar 7-12 tahun atau malah balita, hanya ia sendiri yang sudah remaja. Asap motor dan kendaraan lainnya sebenarnya cukup mengganggu, karena odong-odong itu semacam kereta kelinci yang beneran terbuka sekali bodynya, bahkan pintunya saja hanya besi pendek setinggi pinggul jika duduk.
Sesampainya di tempat, ia langsung turun terlebih dahulu agar dapat membantu ibunya yang lututnya sakit karena asam uratnya. Ia menoleh, memperhatikan sekitar. Dari gerbang masuk, odong-odong parkir di sebelah kanan lapangan parkir. Tulisan Api Abadi Mrapen yang menjadi ikon tempat tersebut berada di tengah lapangan. Di seberangnya sana, terlihat dua warung berjualan di sana. Ia masih celingak-celinguk mencoba mencari di mana kira-kira tempat api itu berada.
Hingga akhirnya sang ibu mulai menunjukkan di mana letak api tersebut. Terkesiaplah Kiran tatkala melihat tempat yang ditunjuk ibunya. Pasalnya, pertama, api tersebut berada di ruangan terbuka — berbeda sekali dengan bayangannya dulu. Kedua, apinya sama sekali tidak terlihat. Hanya ada sebuah lingkaran yang berada di dalam kolam kosong. Bertanyalah Kiran kepada ibunya.
“Buk, lha ini mana apinya? Kok gak ada?” tanyanya pada sang ibu. “Lha ya iki nduk.” (“Lha ya ini nak.”) jawab sang ibu sambil menunjuk lingkaran itu tadi. “Memang harus dikasih benda dulu, nduk, biar apinya keliatan,” ucap sang ibu lagi sambil memungut daun-daun yang berserakan di sekitar lingkaran tersebut. “Lho lha kata e abadi, ini kok udah gak bisa nyala, Api Tak Abadi iki mah nama e buk,” ujar Kiran sedikit lebih keras pada sang ibu.
Teman-teman ibunya tertawa mendengar ucapan Kiran. Memang benar, Sang Api Abadi kini tak lebih dari sekadar api biasa. Ia tak bisa muncul lagi. Berdasarkan informasi dari sang ibu dan teman-temannya, ini dikarenakan terdapat pembangunan yang mengakibatkan sumbatan lumpur pada saluran gas bawah tanah. Menyebabkannya tak lagi dapat muncul ke permukaan.
Dan untuk pemandiannya, sepertinya ia salah dengar atau mungkin informasi yang dia dapat memang tidak akurat. Sebaliknya, di sana terdapat sebuah gor di bagian agak pojok ke belakang. Dan juga sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat batu bernama Batu Bobot. Batu tersebut merupakan peninggalan Sunan Kalijaga dengan berat kurang lebih 20 kilogram. Ternyata, sejarahnya, lokasi ini diyakini sebagai petilasan karena dulu Sunan Kalijaga pernah menancapkan tongkatnya yang kemudian memunculkan sumber Api Abadi — walau sudah tak abadi sekarang.
Dan juga banyak monumen yang dibangun sebagai bentuk kehormatan. Karena api abadi ini sering digunakan sebagai sumber api utama untuk berbagai ajang olahraga dan upacara keagamaan. Sejujurnya, tempat ini memiliki sejarah yang cukup menarik untuk diceritakan, akan tetapi api yang tak lagi abadi itu benar-benar di luar ekspektasi Kiran. (*)