Pohon-pohon durian unggul Purworejo tumbuh terpencar di lereng dan lembah curam. Sebagian berumur lebih dari 75 tahun dan belum memiliki duplikat. Tim FMIPA UNNES memburu daun, spesimen herbarium, dan entres sebelum plasma nutfah berharga itu hilang.

Salah satu pohon induk durian unggul Purworejo yang menjulang tinggi; posisi tajuk di bagian atas menjadi tantangan utama dalam pengambilan ranting dan daun.
PURWOREJO – Di balik popularitas durian-durian juara asal Purworejo, tersimpan persoalan konservasi yang belum banyak diketahui masyarakat. Sebagian pohon induk unggul masih berdiri sebagai pohon tunggal, telah berumur puluhan tahun, berukuran sangat besar, dan belum mempunyai tanaman duplikat yang menjamin genotipenya tetap lestari apabila pohon induk mati.
Kondisi tersebut mendorong tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang (FMIPA UNNES) melakukan eksplorasi durian unggul Purworejo pada 1–2 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian “Fingerprint Durian Unggul Purworejo, Jawa Tengah” yang didanai melalui DPA FMIPA UNNES Tahun 2026.
Eksplorasi dipimpin Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si., bersama tim peneliti FMIPA UNNES dan melibatkan tiga mahasiswa Biologi, yaitu Agnisa Rahmania Putri, Nada Putri Rahmawati, dan Anjas Firmansyah Dico Saputra. Di lapangan, tim didampingi petani durian setempat serta para pemilik pohon yang mengetahui sejarah, produktivitas, dan keunggulan masing-masing aksesi.
Medan terjal, pohon menjulang puluhan meter
Mengambil sampel durian unggul Purworejo ternyata jauh dari pekerjaan sederhana. Banyak pohon juara berada di lereng perbukitan yang terjal atau di lembah curam dengan perbedaan ketinggian lebih dari 20 meter. Jarak antarpohon juga tidak berdekatan. Meskipun masih berada dalam kecamatan yang sama, perjalanan dari satu pohon ke pohon berikutnya dapat membutuhkan waktu lebih dari 30 menit.
Tantangan berikutnya justru datang setelah tim tiba di lokasi. Pohon induk tunggal durian unggul yang dieksplorasi umumnya merupakan pohon tua berukuran raksasa. Lingkar batangnya lebih dari 1,5 meter, umur diperkirakan lebih dari 75 tahun, sedangkan tingginya dapat mencapai 30–40 meter. Pada pohon setua itu, cabang produktif dan daun yang sesuai untuk sampel banyak berada di bagian tajuk atas. Kondisi ini menyebabkan ranting tidak mungkin dijangkau menggunakan cara pengambilan sampel biasa.

Ukuran batang pohon induk tunggal durian unggul terlihat sangat besar dibandingkan anggota tim mahasiswa yang melakukan pengamatan di lapangan.
Tim akhirnya harus meminta bantuan pemanjat pohon lokal yang berpengalaman. Pengambilan ranting pada ketinggian puluhan meter dilakukan dengan sangat hati-hati karena medan di sekitar pohon juga tidak selalu datar dan perlengkapan keselamatan pemanjatan di lapangan masih terbatas.
Satu pohon, tiga jenis sampel
Berbeda dari eksplorasi yang hanya mengambil daun untuk penelitian molekuler, tim UNNES merancang pengambilan material setiap pohon untuk tiga kepentingan sekaligus.
Pertama, daun sehat dikumpulkan sebagai sumber DNA. Sampel tersebut akan digunakan untuk ekstraksi DNA dan analisis fingerprint menggunakan penanda ISSR (Inter-Simple Sequence Repeat). Analisis molekuler ini diperlukan untuk melihat tingkat keanekaragaman genetika, hubungan kekerabatan antarpohon, serta mengidentifikasi kemungkinan aksesi yang secara genetika sama tetapi dikenal masyarakat dengan nama berbeda.
Kedua, tim mengambil ranting sehat sebagai entres. Material tersebut dipersiapkan untuk diperbanyak melalui grafting maupun top working. Tujuannya bukan semata-mata menghasilkan bibit, melainkan membentuk duplikat hidup dari pohon-pohon juara sehingga genotipe unggul tidak hanya bergantung pada keberadaan satu pohon induk tua.
Ketiga, ranting berdaun serta bunga apabila ditemukan dikumpulkan sebagai spesimen herbarium. Sampel akan didokumentasikan dan dikeringkan untuk menambah koleksi Herbarium Semarangense di UNNES. Spesimen tersebut kelak menjadi voucher ilmiah yang menghubungkan identitas pohon di lapangan dengan data morfologi dan profil molekulernya.

Bunga durian yang ditemukan pada salah satu pohon menjadi material penting untuk dokumentasi karakter morfologi dan pembuatan spesimen herbarium.
Dengan konsep tersebut, satu pohon durian menghasilkan tiga bentuk dokumentasi sekaligus: DNA sebagai identitas genetik, herbarium sebagai bukti botani, dan tanaman hasil grafting sebagai konservasi hidup.
Durian juara bisa hilang bersama pohonnya
Temuan paling mengkhawatirkan selama eksplorasi adalah belum tersedianya duplikat yang memadai dari sejumlah pohon induk tunggal durian juara. Artinya, jika pohon tersebut mati sebelum berhasil diperbanyak secara vegetatif, genotipe unggul yang telah bertahan puluhan tahun berpotensi ikut hilang.
Ancaman terhadap pohon tua cukup beragam. Kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan kematian tanaman. Pohon yang menjulang tinggi juga rentan terhadap sambaran petir. Pada keadaan tertentu, pohon dapat pula ditebang karena kebutuhan ekonomi dan kayunya mempunyai nilai jual.
Risiko tersebut menjadi semakin penting karena keunggulan suatu pohon durian merupakan kombinasi genetik yang spesifik. Menanam kembali bijinya tidak menjamin keturunannya akan menghasilkan buah dengan sifat yang sama dengan pohon induk. Karena itu, perbanyakan klonal melalui grafting atau top working menjadi bagian penting dari strategi penyelamatan.

Sebagian tim eksplorasi bersama pendamping lapang di kawasan durian Purworejo. Kegiatan lapangan melibatkan peneliti, mahasiswa, petani setempat, dan pemilik pohon induk.
Dari “durian juara” menjadi plasma nutfah terdokumentasi
Penelitian fingerprint diharapkan mengubah pendekatan terhadap durian unggul Purworejo. Selama ini keunggulan banyak pohon dikenal berdasarkan pengalaman petani, nama lokal, mutu buah, atau rekam jejak kemenangan dalam kontes. Informasi tersebut sangat berharga, tetapi perlu diperkuat dengan dokumentasi ilmiah.
Melalui penelitian ini, setiap aksesi akan dihubungkan dengan lokasi pohon, data morfologi, foto, spesimen herbarium, serta profil DNA. Hasil akhirnya diharapkan mampu menunjukkan aksesi mana yang benar-benar unik, mana yang kemungkinan merupakan duplikat, dan pohon mana yang perlu mendapat prioritas tertinggi untuk konservasi serta pengembangan sebagai sumber entres.
Langkah ini juga dapat menjadi fondasi untuk tahapan berikutnya, mulai dari pembangunan kebun sumber entres, pengembangan bibit true to type, hingga penyiapan data ilmiah bagi pengembangan varietas unggul lokal.
Mendukung konservasi dan ketahanan pangan
Eksplorasi durian unggul Purworejo memiliki relevansi dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Konservasi sumber daya genetik tanaman lokal mendukung SDG 2 – Zero Hunger, khususnya pemeliharaan keanekaragaman genetik tanaman yang berperan dalam sistem pangan dan pertanian berkelanjutan.
Upaya mempertahankan genotipe pohon unggul dan mendokumentasikan plasma nutfah lokal juga sejalan dengan SDG 15 – Life on Land, sedangkan pengembangan sumber entres teridentifikasi dan bahan tanam true to type mendukung prinsip SDG 12 – Responsible Consumption and Production.
Eksplorasi dua hari tersebut menjadi langkah awal dari pekerjaan yang lebih panjang. Pohon-pohon durian tua Purworejo bukan sekadar tanaman penghasil buah. Di dalam setiap pohon tersimpan kombinasi genetik hasil seleksi alam dan pilihan masyarakat selama puluhan tahun. Ketika satu pohon juara masih menjadi satu-satunya representasi genotipe unggul tersebut, konservasi tidak bisa menunggu sampai pohon mulai mengalami kemunduran.
Fingerprint DNA akan merekam identitasnya, herbarium menyimpan bukti ilmiahnya, sedangkan grafting diharapkan menjaga genotipenya tetap hidup untuk generasi berikutnya.