U’um Qomariyah, Qurrota Ayu Neina, Sumartini
Krisis lingkungan global telah menjadi tantangan eksistensial yang memerlukan transformasi paradigma hubungan manusia dengan alam. Perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan hutan, dan polusi tidak hanya menjadi isu ekologis, tetapi juga moral dan kultural yang menuntut pendidikan nilai dan kesadaran ekologis sejak usia dini. Data dari World Meteorological Organization menunjukkan bahwa tahun 2023 merupakan tahun terpanas dalam sejarah dengan suhu global 1,45°C di atas tingkat pra-industri, sementara laju deforestasi di Asia Tenggara mencapai 1,2 juta hektar per tahun. Kondisi ini mengancam keberlanjutan kehidupan dan membutuhkan respons kolektif dari berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 13) secara tegas menyerukan penanganan perubahan iklim dan dampaknya, yang tidak cukup hanya melalui kebijakan teknologi dan ketahanan iklim secara nasional, melainkan juga memerlukan peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat. Dalam konteks ini, pendidikan berkelanjutan yang berkeadilan (SDG 4) menjadi agenda global yang mendesak. Indonesia telah menunjukkan komitmennya dengan mengintegrasikan Sustainable Development Goals ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029 melalui kerangka Astacita Presiden RI, khususnya dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul, pendidikan berkualitas, dan pembangunan berwawasan lingkungan. Astacita tersebut menegaskan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, serta pelestarian budaya dan kearifan lokal sebagai fondasi karakter bangsa.
Untuk itu, diperlukan reposisi peran ilmu pengetahuan dalam meningkatkan kesadaran ekologis, salah satunya melalui aktualisasi sastra anak yang menyuarakan nilai-nilai karakter dan kearifan lokal berperspektif lingkungan. Sastra anak memiliki potensi strategis sebagai media pembentuk karakter ekologis karena anak-anak memiliki kedekatan alamiah dengan dunia imajinatif dan personifikasi. Sastra anak yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan akan memiliki posisi sentral dalam membangun kesadaran sekaligus menguatkan peran anak sebagai agen perubahan. Karya sastra yang demikian salah satunya ditemukan dalam cerita anak tradisional yang sarat dengan kearifan lokal.
Analisis psikologi perkembangan (developmental psychology) menguatkan tentang pentingnya masa anak-anak dengan menyatakan bahwa masa ini merupakan masa kritis bagi perkembangan jiwa, mental, dan karakter seseorang. Artinya, pembentukan mental, karakter, dan kecerdasan yang terjadi selama perkembangan fase anak akan menentukan berbagai perkembangan anak ketika dewasa. Sebagai wujud dari pertanggungjawaban pribadi dan sosial manusia, maka fase anak menjadi landasan kuat dan mendasar bagi pendewasaan seseorang.
Individu dalam fase anak belum mengalami perkembangan yang sempurna terkait aspek perkembangan naluri, jasmaniah, dan rohaniah. Fase perkembangan anak dianggap masih panjang seiring dengan perkembangan individu itu sendiri. Namun, disisi lain, perkembangan individu dimulai dari perkembangan fase penting masa anak-anak. Perkembangan moral, spiritual, emosional, dan spiritual dimulai pada masa anak-anak dan akan mempengaruhi fase perkembangan aspek tersebut pada masa dewasa kelak. Inilah yang menjadikan anak menjadi salah satu perhatian pada siklus perkembangan sesorang.
Meskipun berdasar skema tahap perkembangan kognitif Piaget, anak mulai dapat memahami penggunaan simbol atau bahasa saat berada pada tahap pra-operasional yaitu pada usia 2-7 tahun, artinya usia 2 tahun anak sudah bisa diajak untuk mengenal simbol melalui keterampilan menyimak, namun daya nalar anak untuk membaca, menulis, dan memahami simbol atau makna utuh sebuah cerita baru dimulai di usia 6 tahun. Jadi pada usia 6 tahun, sastra anak sederhana, misal cerita mini, sudah bisa diberikan dan dikonsumsi anak. Belum lagi dengan anak yang sudah memiliki keleluasaan dalam literasi membaca maupun menulis, maka sastra anak menjadi hal niscaya untuk memberikan pemahaman sekaligus penguatan karakter cinta lingkungan.
Cerita anak di Indonesia, baik lisan maupun tulisan memiliki faktor penguat dalam lini budaya, agama, serta kearifan lokal masyarakat. Di Indonesia, cerita lisan seperti cerita rakyat, mitos, legenda, dongeng, lagu daerah, hingga pantun dan pepatah berkembang dnegan tidak meninggalkan jejak kearifan lokal alam dan lingkungan masyarakatnya. Keberagaman ini menciptakan kekayaan budaya yang unik sekaligus penjaga keseimbangan dalam dan lingkungan. Dengan demikian, memahami anak dan menjaga kearifan lokal sebagai entitas yang hidup dan memiliki kuasa untuk memberi ganjaran atau hukuman yang berimplikasi pada penguatan karakter.
Cerita: Mengenalkan Anak pada Kearifan Lokal
Anak-anak mengenal dunia bukan hanya melalui apa yang mereka lihat, tetapi juga melalui apa yang mereka dengar dan ceritakan kembali. Sebuah cerita tentang sungai, hutan, sawah, laut, atau hewan di sekitar mereka mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik cerita tersebut terdapat proses panjang dalam membentuk cara anak memandang lingkungan.
Karena itu, cerita anak seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hiburan. Cerita dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan hubungan manusia dengan alam sekaligus menjaga pengetahuan lokal yang perlahan mulai ditinggalkan.
Melalui tokoh dan konflik yang dekat dengan kehidupan anak, nilai-nilai lingkungan dapat disampaikan tanpa harus berubah menjadi ceramah. Anak dapat belajar bahwa membuang sampah ke sungai bukan sekadar tindakan yang “dilarang”, tetapi sesuatu yang dapat memengaruhi kehidupan manusia, ikan, tumbuhan, dan masyarakat yang bergantung pada sungai tersebut.
Dengan cerita, lingkungan menjadi sesuatu yang dapat dirasakan, bukan sekadar materi pelajaran. Cerita menjadi ruang penting untuk menyimpan dan mengingat sebuah lingkungan dengan kearifan lokalnya.
Cerita tidak hanya sekadar sebagai arsip. Cerita membuat anak merasa memiliki hubungan dengan lingkungan dan budaya di sekitarnya. Anak perlu diajak memahami bahwa kearifan lokal bukan sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Sebaliknya, di dalamnya terdapat banyak pelajaran tentang batas, tanggung jawab, kebersamaan, dan keberlanjutan.