U’um Qomariyah, Maharani Intan Andalas, Qurrota Ayu Neina
Pentingnya fase anak dalam perkembangan kecerdasan emosional dan intelegensial, mendorong munculnya beragam cerita anak yang dianggap memiliki nilai strategis dalam peningkatan kecerdasan sosial dan emosional sekaligus penguatan nilai karakter. Di Indonesia, cerita anak yang banyak berkembang adalah cerita anak yang sebagian besar ditulis oleh orang dewasa/ tua. Beberapa penelitian yang mengeksplorasi cerita anak menghasilkan temuan adanya dominasi dan ideologi yang ingin dikuatkan orang tua terhadap anak melalui cerita
Cerita anak sering dianggap sebagai bacaan ringan. Isinya tentang petualangan, persahabatan, keluarga, hewan yang bisa berbicara, atau tokoh yang berhasil mengalahkan masalah. Karena ditujukan kepada anak-anak, cerita semacam ini kerap dipandang tidak memiliki beban ideologis. Padahal, justru melalui cerita anak, nilai-nilai tentang kehidupan diperkenalkan sejak usia dini, termasuk memahami konstruksi gender. Cara memandang laki-laki dan perempuan adalah ideologi yang sadar atau tidak sadar masuk dalam lini baccaan anak. Menariknya, ketika anaka menulis sebuah cerita, apa yang dipahami mereka tentang laki laki dan perempuan, maka itu pula yang dituangkan dalam imajinasi melalui tulisan kreatifnya.
Di sinilah persoalan konstruksi gender menjadi penting untuk dibicarakan. Masyarakat melegitimasi cara pandang dan cara menjadi laki laki dan perempuan. Anak tidak lahir dengan pemahaman bahwa laki-laki harus kuat, berani, pekerja keras, tampil meimpin, dan tidak boleh menangis, sementara perempuan harus lembut, cantik, patuh, pandai mengurus rumah, pandai bersolek, dan sebagainya. Pandangan semacam itu terbentuk melalui lingkungan sosial, keluarga, sekolah, media, dan tentu saja cerita yang mereka baca atau dengarkan.
Cerita anak, dengan demikian, bukan sekadar hiburan. Ia dapat menjadi ruang pertama tempat anak belajar memahami siapa dirinya, bagaimana memandang subjek lain seperti dirinya, dan bagaimana seharusnya ia bersikap.
Konstruksi Bias Gender dalam Cerita: Laki Laki harus Berani dan Perempuan Harus Menunggu
Dalam banyak cerita anak, tokoh laki-laki masih sering ditempatkan sebagai sosok yang kuat, aktif, memimpin, dan label positif lainnya. Ia menjadi petualang, pemimpin, penyelamat, atau tokoh yang mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan. Ketika berada dalam situasi sulit, keberanian dan kekuatan menjadi sifat yang hampir selalu dilekatkan pda karakternya.
Masalahnya bukan pada tokoh laki-laki yang berani. Keberanian tentu merupakan karakter positif. Masalah muncul ketika keberanian seolah-olah menjadi syarat untuk disebut “laki-laki”. Anak laki-laki yang takut, menangis, lemah, ragu, atau tidak berani mengambil keputusan dan membutuhkan pertolongan kemudian dapat merasa bahwa dirinya tidak sesuai dengan gambaran laki-laki ideal.
Hampir sama namun dengan insight yang lain, Konstruksi gender juga terlihat dari cara tokoh perempuan digambarkan. Dalam cerita tradisional maupun sebagian cerita populer, perempuan sering ditempatkan sebagai tokoh yang menunggu. Ia menunggu pertolongan, menunggu perubahan keadaan, atau menunggu tokoh laki-laki datang sebagai penyelamat. Perempuan selalu menunggu karena dia digambarkan sebagai sosok lemah, tidak kuat, tidak bisa mengambil keputusan, ragu, penakut, dan label lain yang “jelas” negatif dan merugikan.
Tidak sedikit pula cerita yang memberikan perhatian lebih besar kepada penampilan tokoh perempuan daripada kemampuan dan gagasannya. Perempuan digambarkan cantik, anggun, lembut, dan baik hati. Sementara sifat seperti tegas, berani mengambil risiko, cerdas, dan mandiri justru lebih sering diberikan kepada tokoh laki-laki.
Pola semacam ini terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak panjang. Anak perempuan dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya terutama terletak pada kecantikan, kelembutan, dan kemampuannya menyenangkan orang lain. Sebaliknya, ketika anak perempuan memiliki sifat keras, kritis, atau berani memimpin, sifat tersebut kadang dianggap tidak sesuai dengan gambaran perempuan yang “baik”.
Cerita anak seharusnya memberi ruang bagi tokoh laki-laki untuk memiliki emosi yang beragam. Ia boleh takut, sedih, gagal, meminta bantuan, bahkan menangis. Hal tersebut tidak mengurangi kelaki-lakiannya. Justru dari sana anak belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan mampu menghadapi rasa takut tersebut.
Cerita Anak: Membuka Pemahaman dan Menegaskan Keniscayaan
Membicarakan kesetaraan gender dalam cerita anak bukan berarti semua tokoh laki-laki dan perempuan harus dibuat sama. Persoalannya bukan menghapus perbedaan, melainkan menghindari pembatasan berdasarkan jenis kelamin.
Anak laki-laki boleh menyukai kegiatan memasak. Anak perempuan boleh menyukai sains, olahraga, atau petualangan. Laki-laki boleh memiliki sifat lembut, sementara perempuan boleh bersikap tegas. Dunia anak seharusnya cukup luas untuk menampung kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Hal yang sama berlaku pada pembagian pekerjaan domestik. Jika dalam cerita seorang ibu selalu memasak dan membersihkan rumah sementara ayah hanya bekerja di luar rumah, anak dapat menangkap pesan bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab perempuan. Sebaliknya, ketika ayah juga memasak, ibu bekerja dan mengambil keputusan, atau anak laki-laki membantu pekerjaan rumah, cerita sedang menawarkan gambaran keluarga yang lebih beragam.
Anak tidak selalu membutuhkan cerita yang sempurna. Anak Membutuhkan Ruang pemahaman dan Diskusi
Konstruksi gender dalam cerita anak bukan persoalan sederhanan. Apalagi jika dikaitkan dengan anak yang merupakan fase penting bagi perkembangan seseorang. Masa perkembangan anak di bagia sosial, intelegensial, dan emosional akan mempengaruhi fase tahapan perkembangan selanjutnya. Jika anak sejak kecil anak terus-menerus diperlihatkan bahwa laki-laki harus kuat dan perempuan harus lembut lemah, maka batas itu akan menjadi terasa seperti sesuatu yang alamiah, padahal sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial.
Cerita anak seharusnya tidak mempersempit dunia anak. Sebaliknya, cerita harus memperluas imajinasi mereka tentang apa yang mungkin dilakukan seseorang, terlepas dari apakah ia laki-laki atau perempuan.
Pada akhirnya, cerita anak bukan hanya tentang bagaimana seorang tokoh menyelesaikan masalah. Ia juga tentang bagaimana seorang anak belajar memahami dunia. Karena itu, ketika kita menulis cerita untuk anak, kita sebenarnya sedang ikut menentukan dunia seperti apa yang akan mereka anggap mungkin. Dan dunia yang mungkin bagi anak seharusnya tidak dibatasi oleh jenis kelamin.
Karena itu, penulis cerita anak, baik anak sendiri yang menulis untuk dunia mereka maupun orang tua yang menulis tentang dunia anak memiliki peran besar dalam menafsir sekaligus menegaskan peran peran laki dan perempuan. Terlebih dalam konteks pembelajaran di sekolah dari jenjang dasar sampai menegah atas, cerita sebagai bagian dari pembelajaran menulis kreatif baik fiksi maupun nonfiksi memiliki peran sentral dalam mengubah mindset sekaligus mengajarkan ke pembaca lainnya. Setiap pilihan karakter, profesi, konflik, hingga penyelesaian cerita dapat menyampaikan pesan tertentu kepada anak sebagai penulis maupun pembaca.