Singapura — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan program pemberdayaan kesejahteraan psikologis bagi pendidik Indonesia di Singapura melalui psikoedukasi dengan pendekatan strength-based dan self-care profesional.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 11 September 2026, bertempat di Sekolah Indonesia (Singapura) Ltd. Kegiatan diikuti oleh 10 pendidik yang mendapatkan penguatan mengenai pentingnya psychological well-being, self-care, dan mindfulness sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri dalam menjalankan peran profesional sebagai pendidik.
Program pengabdian ini dipimpin oleh Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D. sebagai ketua tim pengabdian, bersama anggota tim dosen, yakni Prof. Dr. Awalya, M.Pd., Kons., Dr. Ernest Ceti Septyanti, M.Si., Rossi Galih Kesuma, S.Pd., M.Pd., Dr. Binti Isrofin, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum., Dr. Titi Prihatin, M.Pd., dan Drs. Ilyas, M.Ag., serta anggota tim mahasiswa, yakni Cristin Mutiara Damanik, Nurul Hanifah Puteri, Desi Milasari, dan Mutiara Cahyani.
Menguatkan Kesejahteraan Psikologis Pendidik
Kesejahteraan psikologis menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan peran pendidik. Dalam menjalankan tugas profesionalnya, pendidik tidak hanya dituntut untuk memberikan layanan pendidikan yang optimal kepada peserta didik, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali, menjaga, dan mengelola kondisi dirinya.
Atas dasar tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus pengalaman praktis kepada pendidik mengenai pentingnya menjaga psychological well-being melalui pengenalan kekuatan diri dan penerapan self-care.
Pendekatan strength-based dalam program ini menempatkan kekuatan, potensi, pengalaman, dan sumber daya positif yang dimiliki individu sebagai modal dalam menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan. Sementara itu, self-care profesional dikenalkan sebagai upaya sadar untuk menjaga kondisi fisik, emosional, sosial, maupun psikologis agar pendidik dapat menjalankan perannya secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, pendidik tidak hanya diajak untuk melihat berbagai tantangan yang dihadapi, tetapi juga diajak untuk mengenali kekuatan dan sumber daya yang selama ini telah membantu mereka dalam menjalankan peran sebagai pendidik.
Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Pelaksanaan program ini juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Fokus utama kegiatan berkaitan dengan SDG 3: Good Health and Well-being, khususnya dalam mendorong kesadaran dan praktik yang mendukung kesejahteraan psikologis.
Melalui penguatan psychological well-being, self-care, dan mindfulness, pendidik memperoleh ruang untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan dan kesejahteraan dirinya. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih sadar dalam merawat diri, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan tanggung jawab profesional.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan SDG 4: Quality Education. Pendidik merupakan bagian penting dalam ekosistem pendidikan. Penguatan kapasitas pendidik, termasuk dalam aspek kesejahteraan psikologis, dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung proses belajar dan pengembangan peserta didik secara berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan ini turut mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antara UNNES dan Sekolah Indonesia (Singapura) Ltd. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi melalui program pengabdian yang menjawab kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan.
Dari Pemahaman hingga Praktik Self-Care
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Tim Pengabdian UNNES, Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D., dan sambutan dari Kepala Sekolah Indonesia (Singapura) Ltd Semuel Kuriake Balubun
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan mengenai urgensi psychological well-being guru oleh Dr. Ernest Ceti Septyanti. Sesi ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya kesejahteraan psikologis dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan peran profesional sebagai pendidik.
Pemaparan kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai psychological well-being guru. Peserta diberikan ruang untuk berbagi pandangan dan pengalaman terkait kondisi psikologis yang berkaitan dengan kehidupan dan pekerjaan mereka sebagai pendidik.
Selanjutnya, memberikan pemaparan mengenai self-care oleh Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai konsep self-care, tetapi juga diajak mendiskusikan bagaimana praktik merawat diri dapat diterapkan secara realistis dalam keseharian seorang pendidik.
Mengenalkan Mindfulness dan Praktik Merawat Diri
Selain self-care, tim pengabdian juga memberikan pemaparan mengenai mindfulness yang disampaikan oleh Dr. Binti Isrofin, S.Pd., M.Pd. Pengenalan mindfulness diarahkan untuk membantu pendidik meningkatkan kesadaran terhadap kondisi diri dan pengalaman yang sedang dijalani. Binti Isrofin juga mengajak peserta melakukan praktik butterfly hug bersama.
Tidak berhenti pada pemaparan materi, peserta juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan penggunaan media BK self-care yang telah disiapkan oleh tim pengabdian. Dengan adanya praktik secara langsung, peserta dapat memperoleh pengalaman dalam menggunakan media tersebut dan memahami bagaimana pemanfaatannya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim pengabdian juga memberikan buku panduan dan modul self-care bagi pendidik. Selain itu, dilakukan pula penyerahan toolkit self-care untuk pendidik sebagai salah satu media yang dapat dimanfaatkan setelah kegiatan selesai.
Media Self-Care sebagai Ruang Refleksi
Rangkaian kegiatan mendapatkan respons positif dari para pendidik di Sekolah Indonesia (Singapura) Ltd. Peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias, mulai dari pemaparan materi, diskusi, hingga praktik menggunakan media self-care yang diberikan oleh tim pengabdian.
Penggunaan media self-care menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Media tersebut tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk melakukan aktivitas secara menyenangkan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri.
Salah seorang peserta menyampaikan bahwa media yang diperkenalkan dalam kegiatan dapat membantu proses refleksi dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
“Media self-care ini bisa jadi refleksi bagi mereka sambil bermain.”
Respons tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang memadukan unsur refleksi dan aktivitas bermain dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan praktik self-care kepada pendidik. Melalui pengalaman langsung, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pentingnya merawat diri, tetapi juga dapat mencoba menggunakan media yang dapat mendukung proses refleksi secara lebih sederhana dan menyenangkan.
Membangun Budaya Self-Care bagi Pendidik
Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran mengenai pentingnya self-care di kalangan pendidik Indonesia di Singapura.
Merawat diri bukan berarti mengurangi komitmen terhadap pekerjaan. Sebaliknya, self-care profesional dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan peran pendidik agar tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan kondisi psikologis yang lebih terjaga.
Melalui pendekatan strength-based, pendidik juga didorong untuk melihat bahwa setiap individu memiliki kekuatan dan sumber daya yang dapat dikembangkan. Kekuatan tersebut dapat menjadi modal dalam menghadapi berbagai tantangan sekaligus mendukung terciptanya kehidupan profesional yang lebih sehat dan bermakna.
Sebagai bagian dari keberlanjutan kerja sama, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Implementation Agreement antara pihak terkait. Penandatanganan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komitmen terhadap keberlanjutan program dan penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan.
Melalui kegiatan ini, UNNES terus mendorong kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Penguatan kesejahteraan psikologis pendidik tidak hanya menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan ekosistem pendidikan yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Dengan demikian, program ini menjadi bentuk nyata kontribusi UNNES dalam mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pemberdayaan pendidik dan penguatan kolaborasi di lingkungan pendidikan Indonesia di Singapura.