MENELUSURI KESEHATAN MENTAL: FAKTOR PENENTU DALAM PERKEMBANGAN MAHASISWA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Sintaksis

Disusun oleh:

  1. Ages Puspitasari  2402020039
  2. Adinda Dewi Larasati Ismailia 2402020043
  3. Nazwa Salsabila 2402020046
  4. Eka Putri Widiyastuti 2402020049
  5. Adinda Cindy Aryanti 2402020072

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2024

Mahasiswa  berada  pada  batasan remaja akhir dan dewasa awal yaitu masa kondisi  mental  yang  tidak  stabil (Suryanto Aloysius & Nada Salvia, 2021). Kesehatan mental merupakan aspek utama bagi mahasiswa.  Sekitar 10 hingga 20% anak-anak dan remaja diseluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental, dan setengah dari semua masalah kesehatan mental tersebut bermula pada usia 14 tahun hingga pertengahan usia 20 tahun (WHO, 2019) (Oktaviany, 2021). Banyak mahasiswa yang menghadapi masalah umum terkait kesehatan mental biasanya menunjukkan sikap negatif dan memiliki niat yang rendah untuk mencari bantuan konseling. Faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental mahasiswa diantaranya, kurangnya dukungan dari keluarga, sikap individualisme, terlalu berambisius, dan pergaulan bebas.

Kesehatan mental memengaruhi cara seseorang dalam berpikir dan berperilaku. Kesehatan mental bagi remaja khususnya mahasiswa dibutuhkan saat menghadapi kehidupan yang berbeda dari masa sekolah menuju masa perkuliahan. Keluarga berperan penting dalam proses perkembangan remaja, terutama bagi para remaja yang masih membutuhkan bimbingan dari orang tua. Orang tua sudah semestinya berperan dalam mengontrol aktivitas anak. Usia 14 hingga pertengahan 20 tahun adalah masa kritis dalam masa remaja. Tentunya para remaja belum cukup pandai dalam mengontrol diri sendiri. Oleh karena itu, peran keluarga khususnya para orang tua sangat dibutuhkan.

Mahasiswa yang mempunyai sifat individualisme cenderung susah mendapatkan relasi pertemanan, karena lebih fokus terhadap pencapaian diri dan kebebasan dalam berpikir. Pada lingkungan perkuliahan, sikap tersebut dapat menghambat proses adaptasi dilingkup pertemanan. Lingkungan kampus juga memberikan andil yang cukup besar dalam membentuk kepribadian dan pola pikir mahasiswa. Maka dari itu, mahasiswa harus mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan kampus.

Ambisius merupakan sikap yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuan. Namun, apabila terlalu berambisi akan menjadi penyebab terganggunya kesehatan mental mahasiwa. Saat mahasiswa menetapkan target tujuan dan tidak tercapai, tekanan dan stress yang muncul dapat menghabiskan energi mental mahasiswa. Selain itu, mahasiswa merasakan kesepian dan mengisolasi diri karena mereka terlalu fokus pada target pencapaian serta sulit bersosialisasi.

Pergaulan bebas di lingkungan kampus menjadi hal yang mengkhawatirkan dikalangan mahasiswa. Mahasiswa mulai mengeksplorasi jati diri, kebebasan, dan membangun hubungan sosial yang lebih luas. Sayangnya, mahasiwa menyalahgunakan kebebasan di lingkungan kampus dan menyebabkan pergaulan bebas seperti kebebasan sex, penyalahgunaan alkohol, dan obat-obat terlarang.

DAFTAR PUSTAKA

Aloysius, S., & Salvia, N. (2021). Analisis Kesehatan Mental Mahasiswa Perguruan Tinggi X Pada Awal Terjangkitnya Covid-19 di Indonesia. Jurnal Citizenship Virtues, 1(2), 83-97.

Al Rivaldi, A. (2024). Analisis Faktor Penyebab Stres pada Mahasiswa dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 2(4), 11-18.

Oktaviany, R. (2021). Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jurnal Ilmu Kesehatan Mental Anak, 2(2), 1–7.

Suryanto Aloysius, & Nada Salvia. (2021). Analisis Kesehatan Mental Mahasiswa Perguruan Tinggi Pada Awal Terjangkitnya Covid-19 di Indonesia. Jurnal Citizenship Virtues, 1(2), 83–97.

 Vierdiana, D. (2024). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 7(1), 1553-1558.