Mental berarti hal hal yang berhubungan dengan pikiran, emosi, kejiwaan dan psikis seseorang. Kesehatan mental remaja telah menjadi isu yang semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Masa remaja adalah periode transisi yang penuh dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Pada usia ini, remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental mereka. Dari tekanan akademik, masalah identitas, hingga perundungan, segala hal ini bisa berdampak pada kesehatan mental mereka. Selain itu, pengaruh teknologi dan media sosial juga semakin memperburuk kondisi tersebut. Beberapa masalah yang sering dialami oleh remaja antara lain depresi, kecemasan, gangguan makan, dan perilaku melukai diri sendiri (self-harm). Penyebab utama masalah kesehatan mental ini bisa bervariasi, mulai dari tekanan akademik, masalah hubungan sosial, hingga pengaruh media sosial.
Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan remaja sekarang. Sementara Platform Instagram, TikTok dan X sering digunakan untuk berbagi cerita dan hubungan di kehidupan sehari-hari, sisi negatif dari media sosial mulai terungkap. Salah satu masalah serius yang diabaikan yaitu meningkatnya kasus Self-harm atau melukai diri sendiri, yang berkaitan dengan dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Self-harm adalah tindakan melukai diri sendiri, biasanya sebagai respons terhadap tekanan emosional, rasa putus asa atau kesulitan mengatasi masalah. Pada remaja self-harm sering terjadi karena mereka berada dalam tahap pembentukan identitas diri dan lebih mudah terpengaruh akibat tekanan lingkungan sosial.
Penelitian menujukkan bahwa interaksi di media sosial dapat memicu perilaku berbahaya seperti self-harm, meskipun media sosial dapat berfungsi sebagai tempat untuk mencari dukungan, sering kali juga berperan sebagai pemicu perilaku self-harm. Dampak dari keterpaparan terhadap media sosial bisa berupa peningkatan risiko self-harm, peniruan, dan perundungan siber (cyberbullying)
Secara positif, media sosial dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang isu-isu penting, mempererat hubungan sosial, serta memberikan akses informasi yang bermanfaat. Namun, disisi lain, paparan berlebihan terhadap media sosial dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, seperti menimbulkan kecemasan,depresi,perbandingan sosial yang negatif, hingga perilaku self-harm. Self-harm atau melukai diri sendiri adalah perilaku yang sering dijumpai di kalangan remaja, di mana mereka sengaja melukai tubuhnya untuk meredakan tekanan emosional atau rasa sakit mental. Perilaku ini dapat berupa tindakan seperti menggores, membakar, atau memukul diri sendiri, biasanya sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau perasaan rendah diri.
Dampak self-harm terhadap kesehatan mental remaja sangat besar, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Di kalangan remaja, perilaku ini dapat meningkatkan kecemasan, depresi, dan gangguan emosional lainnya. Remaja yang melakukan self-harm sering merasa terasing dan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada orang lain, yang justru memperburuk masalah mental mereka dan membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan seperti gangguan kecemasan sosial atau gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Selain itu, self-harm pada remaja sering kali menjadi mekanisme penghadapan yang tidak sehat, yang membuat mereka terjebak dalam pola bergantung pada perilaku tersebut untuk mengatasi tekanan emosional. Hal ini menghalangi mereka untuk mengembangkan keterampilan koping yang lebih sehat, seperti berbicara dengan orang lain atau mencari bantuan profesional. Dalam beberapa kasus, ketergantungan pada self-harm ini bisa meningkatkan risiko bunuh diri, meskipun tidak selalu berhubungan langsung dengan niat tersebut.
Media sosial memiliki pengaruh yang kompleks terhadap kesehatan mental remaja, terutama terkait dengan perilaku melukai diri sendiri (self-harm). Paparan terhadap konten berbahaya, tekanan sosial untuk membandingkan diri, dan kasus perundungan daring (cyberbullying) dapat memperburuk kondisi emosional remaja yang rentan. Meskipun media sosial dapat menjadi sumber dukungan, jika tidak diawasi dengan baik, platform ini justru bisa mendorong perilaku yang merusak.
Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, diperlukan langkah-langkah terpadu, seperti pendidikan literasi digital, penguatan kebijakan media sosial, dan penyediaan akses yang lebih luas ke layanan kesehatan mental. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi remaja. Melalui kerja sama berbagai pihak, efek buruk media sosial terhadap self-harm dapat diminimalkan, sehingga kesehatan mental remaja lebih terlindungi.(*)
Oleh Annisa Putri Berliana (Ilmu Hukum UNNES)