Oleh Satrio Bagus Mukti Wibowo (Ilmu Hukum UNNES)
Orang Indonesia adalah kosumen rokok tertinggi di dunia, di mana hampir 70% pria dewasa adalah perokok aktif dan angka perokok anak terus meningkat. Di mana permasalahan ini tersebar luas di seluruh negeri, dengan daerah pedesaan yang lebih rentan karena akses informasi kesehatan yang terbatas dan norma sosial yang mengakar kuat. Tantangan ini semakin terlihat serius dalam beberapa dekade terakhir, saat beban kesehatan akibat penyakit terkait merokok sangat meningkat, dengan penyakit jantung, kanker, paru-paru, dan gangguan pernapasan menjadi penyebab utama dari kematian.
Permasalahan budaya merokok di Indonesia menjadi begitu rumit karena masyarakat yang terdampak tidak hanya perokok aktif, tetapi juga keluarga mereka, termasuk anak-anak yang terpapar asap rokok dan menjadi perokok pasif, serta seluruh masyarakat melalui beban ekonomi dan kesehatan.
Persoalan yang besarnya adalah dampak merokok terhadap kesehatan publik, di mana penyakit-penyakit yang terkait dengan rokok seperti kanker dan penyakit jantung dapat menghabiskan biaya perawatan yang sangat tinggi, sehingga ini membebani sistem layanan kesehatan. Masalah ini terjadi tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan yang membuat normal sosial sering kali memandang bahwa merokok sebagai hal biasa atau bahkan bagian dari tradisi lokal. Ini menjadi semakin serius saat persentase merokok terus meningkat di kalangan remaja, memperburuk risiko kesehatan jangka panjang.
Untuk mengatasi permasalahan budaya merokok di Indonesia, pihak yang harus terlibat adalah pemerintah, masyarakat, dan industri rokok itu sendiri. Solusi yang bisa diterapkan adalah meliputi peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok melalui kampanye yang lebih besar, terutama kepada generasi muda, dengan pendekatan berbasis data yang jelas. Kebijakan ini perlu diterapkan di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan dengan menyesuaikan strategi komunikasi sesuai dengan budaya lokal. Langkah-langkah ini harus segera diterapkan, mengingat bahwa meningkatnya angka perokok muda yang berpotensi membawa dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat.
Solusi tersebut sangat penting karena meskipun industri rokok memberikan kontribusi ekonomi yang signfikan bagi negara, kesehatan publik juga harus menjadi prioritas utama untuk jangka panjang agar biaya kesehatan tidak terus membebani anggaran negara. Langkah nyata yang dapat diambil adalah dengan memperketat regulasi industri rokok, misalnya dengan meningkatkan cukai rokok, melarang iklan rokok di seluruh media, serta mendukung riset dan pengembangan secara alternatif yang lebih aman seperti rokok elektrik atau produk tembakau yang dipanaskan. Selain itu, pemerintah juga bisa bekerja sama dengan sektor swasta untuk menciptakan peluang kerja lainnya bagi pekerja di industri tembakau, sehingga kesejahteraan mereka tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat.
Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu adanya keseimbangan antara kesehatan masyarakat dan kesejahteraan ekonomi. Upaya pendidikan dan sosialisasi yang lebih besar tentang bahaya merokok sangat penting untuk mengubah sudut pandang masyarakat terutama generasi muda. Pemerintah perlu memperketat peraturan rokok, seperti meningkatkan cukai, melarang iklan rokok di media, serta mendukung riset terhadap jalan lain yang lebih aman. Selain itu, perlu adanya pendekatan berbasis budaya yang dapat diterima oleh masyarakat, dengan mengedepankan nilai kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang. Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan sektor swasta untuk menciptakan peluang pekerjaan baru yang lebih sehat bagi tenaga kerja yang bergantung pada industri rokok, sehingga dapat mengurasi ketergantungan pada sektor yang merugikan kesehatan.
Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia dapat mengurangi tingkat perokok dan dampak negatif yang ditimbulkan, selagi tetap mempertahankan kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan.(*)