Masih ingatkah Anda dengan film yang pernah kontroversial pada tahun 2019? Saat itu, banyak masyarakat yang menganggap film ini tabu dan tidak layak ditonton oleh kalangan remaja karena banyak orang tua yang belum bahkan tidak menerapkan pendidikan seks pada anak tercintanya. Mereka masih merasa sang buah hati belum saatnya mengetahui dan mempelajari tentang pendidikan seks.

Kali ini, film Dua Garis Biru akan diulas lebih dalam. Film berkategori remaja yang rilis pada tanggal 11 Juli 2019 ini bergenre drama dan edukasi. Dua Garis Biru disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Retna Ginantri S. Noer yang diproduseri oleh Chand Parwez Servia melalui perusahaan produksi ternama yakni Starvision Plus dan Wahana Kreator Nusantara dengan durasi 113 menit. Film yang dibawakan oleh Angga Aldi Yunanda sebagai Bima dan Adhisty Zara sebagai Dara sukses memikat hati para remaja melalui akting mereka.
Film ini menceritakan tentang sepasang kekasih bernama Dara dan Bima yang sedang merajut asmara di bangku SMA. Dara adalah sosok siswi pintar di sekolahnya dan mempunyai cita-cita untuk berkuliah di Korea Selatan karena kesukaannya terhadap K-Pop, sedangkan prestasi Bima di sekolah hanya biasa-biasa saja. Keduanya juga mempunyai latar belakang yang berbeda. Keluarga Dara adalah keluarga kelas menengah ke atas yang serba berkecukupan, sedangkan Bima berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah yang tinggal di pemukiman kumuh.
Suatu ketika, mereka melewati batas dalam menjalani hubungan asmara sehingga mengakibatkan Dara berbadan dua. Bima menyarankan untuk melakukan aborsi, tetapi Dara menolak. Saat di sekolah, tanpa sengaja Dara mengucapkan kata “bayi” di depan warga sekolah ketika dirinya terkena tendangan bola yang mengenai bagian kepalanya. Saat itulah semuanya terbongkar dan hampir seluruh warga sekolah mengetahui bahwa Dara hamil, sehingga orang tua mereka dipanggil pihak sekolah. Pihak sekolah kemudian memutuskan untuk mengeluarkan Dara, sedangkan Bima tidak dikeluarkan dari sekolah.
Kisah berlanjut, Dara diusir dari rumahnya dan tinggal di rumah keluarga Bima. Dara mengetahui rencana orang tuanya untuk memberikan bayinya kepada Bibi dan Paman Bima. Mendengar hal itu, Dara tidak setuju dan memutuskan untuk menikah dengan Bima.
Saat menjalani kehidupan rumah tangga, Bima dan Dara sering bertengkar mengenai ambisi Dara untuk berkuliah ke Korea Selatan dan nasib bayi mereka ke depan. Akhirnya, setelah Dara melahirkan bayinya yang diberi nama Adam, pasangan itu kemudian memutuskan agar Dara melanjutkan pendidikan ke Korea Selatan untuk menggapai cita-citanya dan bayi mereka akan diurus oleh Bima dan keluarganya. Suami-istri itu berpelukan sebelum Dara berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Negeri Ginseng.
Film yang berjudul Dua Garis Biru ini menjelaskan tentang sex education atau pendidikan seks sangat penting diberikan pada anak sekolah khususnya usia remaja. Kejadian antara Dara dan Bima menggambarkan bahwa pendidikan seks di Indonesia masih sangat kurang diajarkan. Orang tua di Indonesia masih menganggap pendidikan ini tabu dan belum layak disampaikan kepada anak karena dirasa masih kecil, sehingga belum saatnya untuk mengetahui. Padahal, pendidikan seks sudah dapat diajarkan pada anak sejak mereka berusia 3 tahun dengan memberi pemahaman mengenai perbedaan antara perempuan dengan laki-laki, rasa malu, serta bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Hal ini akan membantu anak dalam menjaga dan menghargai tubuhnya.
Salah satu tujuan pendidikan seks adalah mencegah agar kasus Dara dan Bima tidak terjadi di kehidupan nyata. Komunikasi orang tua dan anak tentang pendidikan seks merupakan tindakan preventif agar kejadian yang digambarkan dalam film tersebut dapat dicegah. Menurut Sexuality Information and Education Council of the United States (SIECUS), salah satu dewan informasi dan pendidikan tentang seks milik Amerika Serikat, mengatakan bahwa seharusnya pendidikan seksual berawal dari rumah saat orang tua atau pengasuh adalah pemberi pendidikan seksual yang sifatnya primer atau pertama kali (Sexuality Education Question & Answer, 2012). Anak jauh lebih dulu mengenal tentang seks dari orang tua mereka dibandingkan orang lain, sehingga anak akan lebih mudah memahami informasi yang disampaikan oleh orang tuanya, terutama dalam pendidikan seks.
Dua Garis Biru dapat menjadi wadah diskusi bagi para orang tua tentang pernikahan dini yang sampai saat ini masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Dengan adanya film ini, orang tua bisa mulai mengajak anak mereka berdiskusi tentang bahayanya pergaulan bebas di kalangan remaja dan pentingnya menjaga diri agar tidak terjerumus ke ranah perzinahan. Gina S. Noer juga menyebutkan, “Indonesia butuh lebih banyak ruang diskusi untuk membahas sex education untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan seperti yang terjadi oleh Dara dan Bima. Bahwa, it’s okay, untuk berdiskusi soal seks, soal reproduksi, tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Dalam mengimplementasikan ruang diskusi mengenai sex education,perlu adanya peran dari pihak selain keluarga. Implementasi tersebut dapat berupa forum kajian diskusi mengenai sex education, sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat, dan kampanye pemerintah kepada rakyat.
Menanggapi kasus pergaulan bebas yang semakin meningkat, maka sebagai remaja perlu mempunyai kesadaran diri untuk mencegah dampak negatif dari pergaulan bebas. Nah, sebagai remaja sangat perlu untuk melakukan langkah-langkah agar tidak terjerumus ke dalam ranah perzinaan. Dalam pandangan agama, langkah-langkah yang dapat ditempuh sebagai remaja, yaitu (1) menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan, (2) memperdalam ilmu agama, dan (3) menyibukkan diri dengan aktivitas yang positif. Sementara, langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai remaja dari sudut pandang umum, yaitu (1) dalam menjalin hubungan, hendaknya tetap berpegang teguh pada norma dan etika yang berlaku di masyarakat, (2) merasa ingin tahu dan memahami dengan baik tentang pendidikan seks, (3) selektif dalam memilih teman.
Film ini menjelaskan alasan tentang seks bebas itu dilarang. Selain dilarang dari segi agama, seks bebas juga tidak sesuai dengan budaya negara Indonesia. Dari sisi kekeluargaan, seks bebas dapat mengakibatkan kerugian, baik dari sisi laki-laki maupun perempuan. Adanya kritik sosial terhadap keluarga Bima yang berasal dari keluarga agamis, seolah menjelaskan kepada masyarakat bahwa nilai agama saja tidak cukup untuk membuat remaja menjauhi pergaulan bebas.
Kekurangan pada film yang dibintangi oleh Adhisty Zara dan Angga Aldi Yunanda ini terletak pada alur cerita lebih terpaku pada lingkup keluarga, tidak menampilkan secara jelas bagaimana reaksi, dan pendapat ataupun pandangan dari masyarakat mengenai peristiwa pernikahan muda yang disebabkan hamil di luar nikah. Pada film ini, ada beberapa tokoh yang kurang mengeluarkan emosinya. Salah satunya adalah Dara yang dibintangi oleh Adhisty Zara. Terlihat pada saat adegan Dara mengetahui dirinya hamil, dia tidak merasa marah, emosi, dan hanya sebatas ekspresi pasrah.
Pengembangan karakter pada film ini terbilang dangkal, penilaian musiknya kurang cocok, inkonsistensi dalam plot, kurangnya eksplorasi masalah sosial, dan penjelasan yang tidak memadai tentang pendidikan seks.
Film Dua Garis Biru ini cocok untuk ditonton kalangan usia remaja sebagai bahan pelajaran dalam pergaulan. Film ini menyinggung beberapa kasus yang terjadi pada usia remaja, salah satunya remaja pada era sekarang terlalu bebas dalam bergaul bahkan sampai melewati batas. Film Dua Garis Biru ini bisa dijadikan pelajaran bagi remaja untuk lebih berhati-hati lagi dalam bergaul terutama dengan lawan jenis, mereka harus mengetahui batasannya. Di film ini juga mengajarkan mengenai bagaimana kita mempertanggungjawabkan hal yang telah dilakukan di hari kemarin.
Selain itu, film ini juga memberikan tamparan keras bagi para orang tua untuk tidak malu dalam memberikan pendidikan seks kepada anaknya. Jangan sampai seorang anak lebih dulu mengenal seks dari orang lain daripada dari orang tuanya. Orang tua hendaknya membuka ruang diskusi bagi anak supaya terjalin komunikasi tentang pendidikan seks. Jika hal-hal di atas dilakukan, maka kasus yang dialami Dara dan Bima pada film tersebut bisa diminimalisasi.
Sebagai remaja, kami turut mengajak remaja-remaja lain untuk menonton film ini sebagai bagian dari sosialisasi pendidikan seks. Para orang tua juga bisa mengajak buah hatinya yang sudah cukup umur untuk menonton film ini sebagai bagian dari pentingnya mengetahui akibat pergaulan bebas.
Oleh:
Nabila Dila Ardiyanti, Rafanida Alyafatin, Okti Nurdianti Akmah, Muhammad Irsyad Hamid Nugroho, Nayla Syarifa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia