Mada merupakan novel pertama yang ditulis oleh Gigrey. Novel ini diterbitkan pada tahun 2020 oleh Akad dengan nomor ISBN 978-623-96080-4-0. Novel Mada memiliki ketebalan 320 halaman dengan ukuran buku 14 × 20 cm. Novel ini laris diperjualkan dengan harga Rp99.000,00.
Gigrey atau yang sering disapa Gigi adalah seorang penulis yang lahir pada tanggal 15 Maret 1998. Memulai membuat karya pertamanya pada tahun 2018 dengan beberapa cerita romansa yang kekinian dan digandrungi oleh banyak pembaca aplikasi Wattpad. Karya pertama dari Gigrey adalah Suck It and See yang ditulis pada tahun 2020. Novel Mada merupakan novel yang diangkat dari cerita aplikasi wattpad dan sudah dibaca hingga 3,62 juta pembaca. Banyak sekali penggemar novel ini karena menceritakan tentang cerita sejarah fiktif.
Cerita dimulai dari Gendhis yang sedang berada dalam perjalanan menuju ke Kota Yogyakarta, kampung halamannya. Gendhis merupakan seorang jurnalis di sebuah perusahaan besar yang berada di ibu kota. Dirinya mendapatkan tugas untuk meliput acara bedah buku seorang penulis ternama yang sangat misterius, lantaran tidak terekspos sedikitpun mengenai latar belakangnya. Penulis itu bernama Armada Biru. Inilah pertemuan pertama Gendhis dan Mada pada dimensi waktu masa kini. Pertemuan itu sangatlah singkat karena setelah itu Gendhis harus kembali ke Jakarta. Mada hanya bisa tersenyum getir setelah melihat Gendhis yang tidak mengingat kisah mereka di waktu lampau.
Gendhis harus kembali ke Yogyakarta untuk menghadiri pernikahan sepupunya. Hari kedua ia merasa jenuh ketika berada di rumah Eyangnya. Sepupunya mengajak Gendhis untuk pergi ke Pantai Parangtritis. Sesampainya di sana, Gendhis hanya terdiam sambil memandangi anak laki-laki yang sedang bermain air laut. Gendhis terkejut melihat anak itu seperti tenggelam. Ia berniat membantunya. Namun, ketika ia memegang tangan anak itu, Gendhis seperti merasakan terkena sengatan listrik yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Gendhis tersadar di tempat yang berbeda. Dirinya tidak sadarkan diri sudah tiga hari kata Empu Gading dan Nyai Dedhes. Mereka berdua yang menemukan Gendhis dan menganggap Gendhis adalah jawaban doa dari Sang Hyang Widhi karena bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak. Nyai Dedhes menjelaskan bahwa Gendhis kini berada pada masa Kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Hayam Wuruk. Gendhis merasa sedih dan sulit menerima kenyataan itu. Namun, lambat laun dirinya dapat beradaptasi dengan cepat.
Suatu ketika pada saat ia berkeliling desa, Gendhis melihat sebuah kejadian yang sangat menggores hatinya. Seorang wanita yang tengah disiksa dan diperlakukan seperti binatang oleh suaminya sendiri. Gendhis menghampiri dan membela wanita itu, Anggini. Ia mengatakan bahwa perempuan juga manusia yang memiliki hak diperlakukan tanpa membandingkan derajat laki-laki dan perempuan. Mada melihatnya dari kejauhan. Dirinya tersenyum tanpa sadar tertarik dengan Gendhis. Akhirnya, Gendhis dipanggil ke kediamannya karena telah membuktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah. Ternyata di kediaman Mahapatih Gajah Mada juga ada Hayam Wuruk. Gendhis semakin terkejut ketika ia mendapatkan fakta bahwa Hayam memiliki nasib yang sama sepertinya, yaitu terperangkap di masa lampau.
Gendhis menjalani kehidupannya di masa lampau dengan pemikirannya yang modern. Ia akan terus melakukan hal yang menurutnya benar dan membantu menegakkan keadilan ketika menemukan kekeliruan. Melihat Gendhis, karakternya bukanlah mencerminkan seorang perempuan dari kasta rendah. Mada yang semakin merasa jatuh hati kepada Gendhis, akhirnya ia memutuskan untuk menikahinya. Mereka bahkan mengangkat Aria dan Nertaja sebagai anak mereka karena mitos kutukan Mada yang tidak bisa memiliki keturunan.
Suatu hari, Mada melaksanakan sumpahnya yang dikenal dengan sebutan Sumpah Palapa. Ia akan berjuang terjun ke medan perang demi menyatukan nusantara. Satu hal yang Gendhis takuti, seperti sejarah yang ia tahu di masa depan, yaitu Perang Bubat yang mengancurkan Kerajaan Majapahit. Gendhis berpesan kepada suaminya untuk pengecualian Kerajaan Sunda. Namun, sejarah tetaplah sejarah. Hayam jatuh cinta dengan Dyah Pitaloka, putri Kerajaan Sunda. Mada dihasut oleh Ra Yuyu yang berakhir membabat habis pasukan Kerajaan Sunda yang sedang dalam perjalanan untuk melangsungkan pernikahan Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk. Hal yang ditakuti oleh Gendhis terjadi. Kerajaan Majapahit hancur lantaran Hayam Wuruk yang kecewa dengan ulah Mada. Ketidakstabilan Kerajaan Majapahit dimanfaatkan oleh pihak Kerajaan Sunda untuk membalaskan dendamnya. Nertaja diculik oleh pasukan Sunda. Gendhis langsung pergi untuk menyelamatkan anaknya. Namun, tanpa terduga ia terkena panah Kanjeng Ratu Sunda. Mada telat menyelamatkannya. Sebelum Gendhis memejamkan mata, ia mendengar Kanjeng Ratu itu mengatakan bahwa waktunya di sini telah habis, sudah saatnya ia untuk kembali.
Gendhis tersadar. Ketika ia membuka matanya, latar tempatnya telah berubah lagi. Ia bisa mengerti bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit. Matanya mengerjap di saat Gendhis menyadari kehadiran seorang pria di ruang inapnya. Air matanya luruh ketika ia mengetahui siapa pria tersebut. Mada merengkuh tubuh Gendhis. Mereka melepaskan rindu bersama. Gendhis meminta maaf kepada Mada karena telah meninggalkannya hidup abadi seorang diri. Mada tersenyum. Gendhisnya telah kembali di dekapannya. Akhirnya mereka menjadi pasangan kembali di zaman ini.
Novel Mada memiliki keunikan tersendiri. Sampul novel ini didesain sangat apik dengan visual dua tokoh utama yang menggunakan pakaian bangsawan pada zaman dulu serta tambahan ukiran-ukiran jawa membuat historikal novel ini terasa sangat kental. Isi novel ini sangat menarik karena berbau sejarah Kerajaan Majapahit yang dikemas secara fiksi yang bisa membawa pembaca seperti terhanyut ke dalam cerita sejarah ini. Terlepas dari kelebihannya, terdapat alur cerita yang sangat panjang dan kompleks. Penulis lebih memilih menggunakan bahasa yang sangat baku karena untuk menggambarkan kejadian pada zaman dahulu, tetapi hal tersebut membuat pembaca kesulitan dalam memahami dan akan cepat merasa bosan.
Novel Mada mengusung tema sejarah dan asmara, sehingga novel ini sangat digandrungi oleh pembaca yang tertarik dengan cerita sejarah. Selain sejarah, penulis juga membuat cerita ini menjadi fiksi. Hal ini menjadikan pembaca lebih mudah mengerti dan menangkap cerita sejarah Kerajaan Majapahit melalui novel ini. Bagi pembaca dapat mengambil sikap positif yang terdapat dalam Novel Mada, seperti sikap Gendhis yang mengedepankan emansipasi wanita pada zaman dahulu, serta Gendhis yang awalnya berasal dari masa depan dia juga mengajarkan kepada wanita-wanita pada zaman Majapahit bahwa mereka tidak pantas untuk ditindas, diperlakukan seperti binatang, dan direndahkan oleh kaum laki-laki.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa novel ini bukan hanya membahas kisah cinta antara pemeran utama wanita dan pemeran utama pria, melainkan juga menawarkan banyak hal yang sangat menarik. Pembaca akan menemukan karakter yang kuat, mantap dan cerdas dalam diri Gendhis. Pembaca akan terpesona dengan pesona Mahapatih Gajah Mada yang luar biasa, dan juga akan tertawa setiap kali bertemu dengan Hayam Wuruk yang konyol. Gendhis berasal dari masa depan, maka ketika berada di zaman Majapahit, ia terkadang suka menyebutkan atau melakukan kegiatan yang mencerminkan anak muda zaman sekarang. Novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh kalangan pecinta novel bergenre romansa dan sejarah.
Oleh:
Tri Maria Hastuti, Dhenok Aurrora Candra Pradwipta, Ahmad Ma’arijul Amri, Indah Zahri Rahmawati, Izatul Atiya Pasah
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia