Menilik Nilai Agama dalam Film Hafalan Shalat Delisa

Identitas Film

Film ini berjudul Hafalan Shalat Delisa yang di sutradarai oleh Sony Gaokasak dengan produser Chand Parwez Servia. Ditulis oleh Armantono yang diambil dari Novel Hafalan Shalat Delisa oleh Tere Liye. Film ini di perankan oleh Chantiq Schagerl sebagai Delisa, Nirina Zubir sebagai Ummi, Reza Rahadian sebagai Abi, Mike Lewis sebagai Prajurit Smith, Loide Christina Teixeira sebagai Suster Sofi, Ghina Salsabila sebagai Fatimah, Al Fathir Muchtar sebagai Ustad Rahman, Reska Tania Apriadi sebagai Aisyah, dan Riska Tania Apriadi sebagai Zahra. Perusahaan produksi di film ini adalah Starvision Plus, yang diliris pada tanggal 22 Desember 2011 dengan durasi 150 menit. Film ini berasal dari negara Indonesia dengan terjemahan film bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Sinopsis Film

Desember 2004, di sebuah desa tepatnya di desa Lhok Nga, Aceh tinggal seorang gadis kecil periang bernama Delisa. Delisa tinggal Bersama ibunya dan ketiga kakak perempuannya yaitu: Fatimah berusia 16 tahun dan bersekolah di Madrasah Aliyah, Aisyah dan Zahra berusia 12 tahun dan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah, keduanya lahir dengan dengan beda 43 menit. Ummi Delisa bernama Salamah, yang merupakan seorang penjahit. Perempuan itu sangat sabar, penyayang, bijaksana dan tegas dalam mendidik anak-anaknya. Ayah Delisa bernama Usman, mereka bertiga memnaggilnya “Abi”, Abi adalah seorang teknisi kapal tanker di sebuah perusahaan minyak asing di Arun. Namun, ia sangat jarang  berada di rumah. Ia akan berlayar selama tiga bulan dan akan pulang ke rumah hanya selama dua minggu dan kembali berlayar lagi.

Pada suatu hari delisa mendapat tugas dari sekolahnya untuk menghafal bacaan sholat. Delisa menghafal tugas itu dengan baik, apalagi sebelumnya U mi sudah menjanjikan untuk memberikan kalung emas ketika Delisa sudah melaksanakan tugas itu dengan baik. Waktu itu ibunya mengajak pergi ke pasar untuk membeli kalung emas tersebut dan Delisa memilih sendiri kalungnya, di kalung tersebut terdapat ukiran huruf D yang merupakan inisial nama Delisa. Minggu, 26 Desember 2004, hari itu Delisa akan pergi ke sekolah bersama dengan ibunya. Bu Guru Nur sengaja mengadakan praktik salat pada hari Minggu agar orang tua dapat menemani anaknya. Delisa dan ibunya pun sampai di sekolah, dan secara bergiliran siswa melakukan praktik salat di depan Bu Guru Nur. Kini, giliran Delisa. Takbiratul ihram, doa iftitah, surat al fatihah berhasil dibaca Delisa. Tiba-tiva pada saat itu terjadi gempa hebat tetapi dengan khusyu’nya delisa tetap melanjutkan tugas tersebut. Gempa tersebut menyebabkan tsunami. Ketika gerakan sujud, yang terjadi adalah air menyeret Delisa hingga ia tak sadarkan diri. Ibu dan Bu Guru Nur berusaha menyelamatkan Delisa namun gagal, Delisa terseret air hingga ke bukit.

Hari itu adalah hari dimana gempa dan tsunami sedang melanda Aceh, hari ketika Delisa mencoba menghafalkan bacaan dan gerakan alat dengan khusyuk untuk pertama kalinya. Berita tersebut terdengar hingga ke Abi, dan Abi sesegera mungkin untuk meminta izin pulang. Sudah seminggu Delisa terdampar, hanya minum air hujan dan makan apel yang berada di dekatnya. Ketika pingsan Delisa bermimpi bertemu dengan ketiga kakak dan ibunya masuk dan meninggalkan tempat tersebut. Ketika itu, tentara Amerika di kerahkan untuk mencari korban tsunami, Prajurit Smith menemukan Delisa dan segera membawa Delisa ke kapal induk untuk mendapatkan perawatan. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di-gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya. Sementara itu, tiga kakak perempuan Delisa, Aisyah, Fatimah, dan Zahra, tak terselamatkan. Mereka ditemukan sedang berpelukan. Hanya Umi Salamah yang belum ditemukan.

Pada suatu malam akhirnya Delisa tersadarkan diri Suster Shopi menemani dan merawat Delisa, mengganti baju Delisa dan memberi Delisa cokelat. Meskipun Delisa kehilangan kakinya dan teringat kejadian yang telah dialaminya, ia tetap bisa tesenyum. Berdasarkan data, nama Delisa tergabung dengan nama orang yang selamat dari bencana, dan Abi segera mencari informasi keberadaan Delisa itu. Abi mendarat di kapal induk dengan helikopter dan segera menemui Delisa di kamar perawatan, lalu Abi memeluk Delisa dengan erat dan Delisa segera

menceritakan yang terjadi pada dirinya dengan tegar tanpa merasa sedih sedikitpun. Menurut pandangan Smith kejadian delisa sangat tidak masuk akal dan itu adalah salah satu keajaiban. Gadis tersebut bisa selamat padahal peluang untuk selamat sangat kecil, dari kejadian tersebut Smith memutuskan untuk menjadi mualaf dan menggati namanya menjadi Salam. Setelah enam minggu aceh dilanda tsunami, Delisa dan Abi pun bisa Kembali ke desa Lhok Nga, namun mereka tinggal di tenda darurat karena rumahnya yang terbawa oleh arus air.

Pendapat

Film Hafalan Shalat Delisa memiliki beberapa kelebihan. Banyak pesan moral yang disampaikan melalui tragedi yang menimpa Delisa. Film Hafalan Shalat Delisa mengandung nilai religi yang kuat. Secara tidak langsung, film ini memberi pesan kepada penonton khususnya anak-anak agar mempelajari agama dengan sungguh-sungguh. Selain itu, tokoh Delisa dalam film ini digambarkan sebagai sosok perempuan yang khusyuk dalam beribadah. Film ini juga mengajarkan agar kita selalu tabah dan tegar dalam menghadapi musibah. Hal tersebut digambarkan dalam tokoh Delisa yang tegar menerima kenyatan bahwa ia harus kehilangan salah satu kakinya dan kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Film tersebut juga menyampaikan pesan untuk selalu semangat menjalani kehidupan. Selain pesan moral, film ini dikemas dengan sangat apik sehingga dapat membuat penontonnya ikut merasakan kesedihan tersebut. Pengambilan gambar yang pas membuat penggambaran situasi yang terjadi tampak nyata.

Pada Film ini terdapat beberapa kekurangan yaitu ketika Pada adegan delisa mendapatkan kalung dari tangan uminya yang ditemukannya dipinggir pantai terlihat sedikit membingungkan karena apakah itu sebuah mimpi, khayalan, atau kenyataan. Kekurangan yang selanjutnya terletak pada bahasa, di film ini bahasa khas aceh kurang dimunculkan terlebih lagi kebanyakan bahasa indonesia dengan sedikit bahasa asing, terlebih lagi durasi film yang terlalu panjang membuat orang kehilangan minat dan bosan pada film tersebut, dan masih memiliki kelemahan dari sisi cerita yang terdapat kurang rincinya penjelasan cerita sehingga beberapa adegan terlihat seperti dipaksakan. Terdapat kelemahan lainnya pada kasting,yang dimana Delisa dan kakak-kakaknya bukan seperti saudara kandung lalu pameran yang dipersiapkan kurang matang untuk dapat benar-benar fasih dalam dialek aceh, dan ini mengganggu performa dan otentitas lokasi cerita film tersebut.

Menurut saya, film ini sangat direkomendasikan untuk semua kalangan manapun karena banyaknya nilai moral dapat dipetik melalui film ‘Hafalan Shalat Delisa’ ini. Nilai religius yang terdapat dalam film ini juga sangat memotivasi anak-anak untuk belajar menghafal dan melaksanakan shalat dengan khusyuk dan benar. Kesabaran Delisa ketika ditinggalkan orang tersayang, kegigihan serta semangatnya Delisa juga merupakan sebuah pelajaran yang dapat dipetik dan di terapkan. Selain itu, film yang diadaptasi dari novel fiksi dengan judul yang sama ini dibalut dengan kisah nyata yang sangat fenomenal, yaitu tsunami Aceh yang terjadi pada 2004 silam sehingga membuat penonton dapat mengenang kembali peristiwa besar itu.

Asiah Khairunnisa Azzahra, Atiya Najal Aufa, Dina Handayani Safila Putri, Awalina Putriyani Nesa Artika Dewi.

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia

Leave a Reply