Aulia Risma lahir di Tegal pada tahun 1994 dan ia merupakan lulusan SMA Negeri 1 Tegal. Ia diketahui telah menyelesaikan S1 Kedokteran di Universitas Islam Sultan Agung. Semasa hidup, Aulia Risma dikenal sebagai pribadi yang baik dan cerdas. Bahkan, karena kecerdasannya, ia lulus dengan IPK 3. 9 dengan predikat cumlaude.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, Aulia Risma kemudian dinyatakan lolos seleksi CPNS pada tahun 2019 dan diangkat sebagai PNS pada tahun 2020 serta mengabdi di RSUD Kardinah Tegal.
Barulah di tahun 2022, Aulia Risma menyempatkan diri untuk mengambil Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi di Universitas Diponegoro (Undip) dan mendapat beasiswa.
Namun, Aulia Risma yang sedang menempuh pendidikan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi, Universitas Diponegoro (Undip) ditemukan meninggal di kamar kosnya di Semarang.
Kematian Aulia Risma Lestari menghebohkan publik dan mengguncang dunia Kedokteran Indonesia. Terlebih lagi, narasi yang berkembang menyebutkan bahwa Aulia Risma nekat bunuh diri karena tidak mampu menahan beban bullying atau perundungan yang dilakukan oleh seniornya.
Kapolsek Gajahmungkur, Kompol Agus Hartono, menjelaskan awal mula penemuan jenazah mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran di Universitas Diponegoro, Aulia Risma Lestari, pada Senin, 12 Agustus 2024 pukul 23:00 WIB di kamar kosnya di kawasan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur.
Awalnya, kata Kompol Agus, ada laporan dari seorang pria yang mengaku teman dekat korban yang tidak bisa menghubunginya sejak pagi. Bahkan, panggilan dari rekan sejawat dan atasannya juga tak kunjung direspons sepanjang hari.
Teman dekat korban, menurut Kompol Agus, kemudian memutuskan untuk datang ke tempat kos korban untuk memastikan kondisinya.
Ketika tiba di lokasi, teman dekat korban mengklaim mendapati pintu kamar kos dalam keadaan tertutup rapat. Kompol Agus mengatakan, teman dekat korban mengaku mencoba mengetuk pintu kamar sebanyak dua kali, namun tidak ada jawaban.
“Akhirnya dipanggil tukang kunci dan ditemukan sudah meninggal,” ujar Kompol Agus.
Kompol Agus menjelaskan, korban ditemukan dalam keadaan wajah kebiruan serta posisinya miring seperti orang yang sedang tidur.
“Mukanya biru sedikit sama pahanya, seperti orang tidur,” imbuhnya.
Di tempat kejadian perkara, polisi menemukan buku harian korban yang menceritakan bahwa dia mengalami masa sulit selama kuliah kedokteran dan menyinggung masalah dengan seniornya.
“Dia mungkin sudah berkomunikasi dengan ibunya karena melihat buku hariannya itu, terlihat [korban] merasa berat dengan pelajarannya, senior-seniornya,” tambahnya.
“Ibunya memang menyadari bahwa anak itu minta resign, sudah tidak kuat. Dia sudah curhat kepada ibunya, satu mungkin [karena] sekolah, kedua mungkin menghadapi seniornya. Seniornya itu kan sewaktu-waktu meminta ini dan itu, keras. . . “
Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap mahasiswa PPDS Anestesi Undip ini, polisi menyebutkan bahwa korban diduga telah menyuntikkan obat penenang ke tubuhnya sendiri.
Ditulis oleh :
- Ida Milantika
- Silvia Eka Hariyanti
- Khairunnisa Ardhana
- Aprilia Puspita Sari
- Intan Puspita Listyani