Kesehatan mental merupakan aspek integral dari kesehatan manusia modern, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mencakup “kesejahteraan subjektif, efikasi diri yang dirasakan, otonomi, kompetensi, saling ketergantungan antargenerasi, dan realisasi diri atas kemampuan intelektual dan kemampuan diri sendiri. potensi emosional antara lain “Kesehatan mental merupakan hal yang paling penting bagi setiap manusia. Orang dengan masalah kesehatan mental mampu mengendalikan tindakannya. positif, lebih bahagia dan mampu beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik agar suatu negara bisa lebih maju, tentunya ditunjang dengan kesehatan mental penduduknya.
Gangguan kesehatan mental atau depresi merupakan masalah mental yang dapat terjadi pada remaja. Data di Indonesia menunjukkan bahwa 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas menderita masalah kesehatan mental. Pola pikir masyarakat yang tinggal di suatu wilayah menjadi tolak ukur kesehatan lingkungan dan sosial suatu kota. Lingkungan ini dikelompokkan menjadi lingkungan fisik dan sosial. Fisik mencakup penataan ruang lingkungan dan sosial mencakup kehidupan individu di kawasan tersebut.
Beberapa remaja juga melaporkan kecenderungan bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Di antara seluruh sampel, 1,4 persen melaporkan memiliki pikiran untuk bunuh diri, 0,5 persen pernah membuat rencana bunuh diri, dan 0,2 persen melaporkan pernah mencoba bunuh diri dalam 12 tahun terakhir. Hingga 0,4 persen remaja melaporkan pernah mencoba bunuh diri seumur hidup mereka. Namun, lebih dari 80 persen remaja melaporkan perilaku ini. bunuh diri (berpikir, merencanakan dan/atau mencoba bunuh diri) dalam 12 bulan terakhir memiliki gangguan jiwa.
Lingkungan sekolah merupakan faktor penting dalam pembentukan karakter siswanya. Lingkungan sekolah yang mendukung dapat membuat siswa merasa diberdayakan untuk memaksimalkan keunggulan dan kesehatan mental mereka. Jadi, apakah semua lingkungan sekolah saat ini mendukung?
Sebagian besar gangguan mental dimulai pada masa remaja dan masa dewasa awal (usia 10–24 tahun), dan kesehatan mental yang buruk dikaitkan dengan hasil pendidikan, kesehatan, dan sosial yang negatif. Kesehatan mental siswa dapat dipengaruhi oleh banyak faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi genetika, bakat, minat dan temperamen siswa, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan sosial, dan lain-lain. Jika para siswa berharap terlalu banyak tekanan atau stres karena faktor tersebut dapat merusak kesehatan mental mereka.
Kesehatan mental yang buruk juga dapat mempengaruhi hubungan sosial siswa, seperti dengan teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sekolah. Kondisi ini dapat menimbulkan masalah seperti perasaan tidak aman, kecemasan sosial, isolasi sosial, dan depresi.
Oleh karena itu penting untuk memperhatikan kesehatan mental siswa di sekolah dan di lingkungannya. Sebab saat ini kasus pelecehan di Indonesia masih tergolong tinggi. Hal ini harus mendapat perhatian penuh dari warga sekolah. Selain lingkungan sekolah, kesehatan mental juga dibentuk oleh teman-teman di luar sekolah. Teman sebaya yang negatif dan tidak mendukung dapat menyebabkan stres, kecemasan, atau perilaku berisiko seperti perundungan, tekanan teman sebaya, atau hubungan yang tidak sehat.
Penting bagi remaja untuk memilih teman sebaya yang positif dan suportif. Penting bagi orang tua dan keluarga untuk menciptakan ikatan yang kuat dengan remaja, memberikan dukungan berkelanjutan dan menciptakan ruang dialog terbuka. Selain dukungan sosial, masyarakat secara umum juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang mendukung kesehatan mental remaja. Orang tua atau guru harus membantu remaja menilai risiko dan mengantisipasi konsekuensinya setiap pilihan yang dibuat seorang remaja. Selain itu, kembangkan strategi untuk mengalihkan perhatian dan energi kita ke aktivitas yang lebih sehat untuk menjaga kesehatan mental.
Keluarga adalah suatu sistem sosial yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan para anggotanya. Sebagai suatu sistem sosial, kelompok keluarga memenuhi kebutuhan anggotanya untuk memberikan kenyamanan, keamanan, kesejahteraan ekonomi, materi, psikologis, fisik, emosional dan spiritual. Selain itu, Orang yang sehat secara psikologis melakukan perubahan signifikan dan meningkatkan produktivitas lingkungan masyarakat. Pembangunan masyarakat sehat jiwa memerlukan dukungan berbagai pihak, antara lain keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah, serta pihak lingkungan hidup.
Tiga jenis utama faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan mental adalah: Faktor fisik, seperti polusi, kondisi kerja, dan kondisi cuaca. Faktor sosial, seperti pelecehan, kurangnya dukungan, dan hubungan yang beracun. Faktor lainnya seperti kurangnya stimulasi, kurangnya ruang hijau dan lingkungan yang berantakan
Meningkatkan kesehatan mental dan membuat perubahan lingkungan dapat membantu. Pengembangan kesehatan mental di lingkungan keluarga dapat dilakukan melalui kegiatan konseling keluarga. Konseling keluarga yang diberikan bertujuan untuk memitigasi permasalahan di atas yang berpotensi menyebabkan buruknya kesehatan mental. Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik dapat menjadi individu yang produktif dan berkembang.
Selain itu, orang yang menjadi warga sekolah dan mempunyai kesehatan mental psikologis yang baik akan melahirkan individu sukses secara psikologis. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas dan sukses. Menghabiskan waktu di alam terbukti membantu mengatasi masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Misalnya penelitian di bidang ekoterapi (sejenis pengobatan formal yang melibatkan aktivitas di luar ruangan room) menunjukkan bahwa ini dapat membantu mengatasi depresi ringan hingga sedang. Lingkungan alam, seperti taman, hutan, dan ruang hijau, telah terbukti mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Berada di luar ruangan atau memiliki akses terhadap lingkungan alami dapat meningkatkan relaksasi, pemulihan, dan rasa tenang. Jika Anda mengalami peningkatan gejala kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya, buatlah janji bertemu dokter atau ahli kesehatan mental. (*)
Oleh Aini Haifa Azzahra (Ilmu Hukum UNNES)