Prolog
Dulu, jauh sebelum perumahan kecil dibangun dan jalan-jalan beraspal menghubungkan satu blok ke blok lain, daerah itu hanyalah hamparan sawah, hutan bambu, dan aliran tenang Sungai Cikaret yang mengular di tengahnya.
Di pinggir sungai itu, berdiri sebuah rumah panggung sederhana milik pasangan petani tua bernama Pak Raji dan Bu Saminah. Mereka hidup damai bersama ketiga anaknya, dan yang paling kecil bernama Damar anak laki-laki berumur sepuluh tahun yang dikenal ramah dan ceria.Damar sangat suka bermain di pinggiran sungai. Ia sering duduk di akar pohon besar sambil memancing ikan kecil, atau berlarian di antara rerumputan dengan adiknya yang masih balita. Orang-orang bilang, Damar punya kepekaan yang tinggi terhadap alam. Ia bisa tahu kapan hujan akan turun hanya dari bau tanah. Kadang ia juga bicara sendiri, katanya sedang ngobrol dengan “teman sungai.” Suatu hari, langit mendung menggulung sejak siang. Hujan deras turun menjelang sore, disertai petir yang menggelegar. Saat itu, Damar pamit keluar rumah sebentar katanya ingin melihat aliran air di belakang rumah. Tapi ia tak pernah kembali.
Keluarga dan warga sekitar panik. Malam itu juga mereka menyisir pinggir sungai dengan obor dan senter seadanya. Pencarian berlangsung dua hari penuh, sampai akhirnya tubuh kecil Damar ditemukan tersangkut di akar pohon besar dekat tikungan sungai. Anehnya, tubuhnya bersih, tak ada luka. Tapi kulitnya berubah pucat seperti kapur, dan matanya terbuka, menatap kosong ke langit. Bu Saminah menjerit saat melihat anaknya dibaringkan di rumah.
Sejak itu, ia tak pernah keluar rumah lagi. Ia kerap terdengar menangis sendiri, atau berbicara lirih di depan foto Damar. Warga mulai merasa ngeri terutama saat melihat Bu Saminah duduk sendirian malam-malam di tepi sungai, seolah sedang menunggu seseorang. Beberapa bulan kemudian, rumah panggung keluarga itu terbakar saat malam hujan. Api menjalar begitu cepat, dan tak satu pun dari mereka berhasil diselamatkan. Hanya sisa arang dan puing-puing yang tertinggal. Setelah kejadian itu, tanah itu dibiarkan kosong. Tak ada yang berani mendirikan rumah di sana.
10 Tahun Kemudian
Di sebuah perumahan kecil yang letaknya tak jauh dari Sungai Cikaret, terdapat empat orang sahabat yang sangat dekat. Aku, Maru, Hana, dan Syila sering menghabiskan waktu bersama. Setiap sore selepas mengaji atau salat berjamaah di masjid, kami biasanya nongkrong di gazebo dekat taman atau jajan di warung Bu Rini. Meski kami baru anak-anak, rasa penasaran kami seringkali lebih besar dari rasa takut. Apalagi kalau sudah dengar cerita-cerita seram yang beredar di sekitar perumahan.
Awalnya, aku yang pertama kali melihat sosok putih besar di kejauhan. Waktu itu aku lagi jajan es lilin di warung, dan tanpa sengaja pandanganku tertuju ke arah sungai. Ada sesuatu di tepi semak-semak. Diam. Besar. Putih. Aku pikir cuma plastik yang nyangkut, tapi makin lama kulihat, bentuknya seperti buaya. Tapi anehnya, dia nggak bergerak sama sekali, hanya menatap ke arahku. Aku langsung merinding.
Keesokan harinya, aku cerita ke Maru. Dia malah mengaku kalau sudah dua kali melihat makhluk itu. “Itu buaya putih. Tapi dia nggak pernah masuk ke air. Selalu di darat. Tapi nggak ada jejak kakinya pas dicek,” katanya serius. Kami berempat pun mulai sering memperhatikan arah sungai dari gazebo. Dan benar, hampir setiap sore, sosok itu muncul. Diam, seolah sedang mengawasi dari kejauhan.Syila yang paling sensitif mulai sering mimpi aneh. Dalam mimpinya, kami diajak masuk ke dalam air oleh makhluk putih besar. Tapi tiap kali suara azan terdengar, sosok itu langsung menghilang.
Hana juga mengaku pernah mendengar suara anak kecil tertawa dari arah sungai padahal saat itu malam dan tak ada siapa pun di sana. Waktu kami tanya ke warga, sebagian besar memilih diam. Tapi ada satu bapak tua yang berkata lirih, “Itu penjaga. Udah lama dia di sana. Dulu ada anak kecil tenggelam di situ.”
Rasa penasaran berubah jadi ketakutan. Kami jadi lebih sering ke masjid, bukan cuma salat, tapi juga biar merasa aman. Di sana, kami saling tukar cerita, mencoba menyusun potongan-potongan misteri. Kadang di warung, kadang di gazebo. Tapi satu hal yang kami sepakati: jangan pernah dekati sungai itu, cukup lihat dari jauh.
Sampai suatu sore, kami iseng bawa teropong mainan Hana. Kami intip dari kejauhan, berharap bisa melihat lebih jelas. Tapi yang kami lihat justru bikin kami hampir tak bisa tidur malam itu. Di belakang buaya putih itu, tampak bayangan hitam tinggi besar berdiri. Wajahnya tak jelas, tapi seperti sedang berbisik ke arah buaya. Dan buaya itu perlahan menoleh ke arah kami. Kami kabur secepat mungkin dari gazebo tanpa berkata apa-apa.
Sejak kejadian itu, kami sepakat untuk tidak lagi melihat ke arah sungai, apalagi bicara soal buaya putih. Tapi kadang, saat sore menjelang Magrib, saat angin berhembus dan langit mulai jingga, aku merasa ada tatapan dari kejauhan. Tatapan dingin dan berat. Seolah ada yang belum selesai.Syila pernah berkata, “Mungkin buaya itu bukan mau ganggu. Tapi dia kesepian. Dia cuma jaga tempat itu karena nggak ada yang mau denger ceritanya.”
Tapi Hana langsung menyela, “Atau dia cuma nunggu satu dari kita buat datang lebih dekat.” Ucapan itu membuat kami semua diam. Angin sore terasa lebih dingin dari biasanya.
Sampai sekarang, sosok buaya putih itu kadang masih terlihat oleh warga. Selalu di darat. Selalu diam. Tapi sejak kami berempat makin rajin salat, bantu orang tua, dan lebih hati-hati dalam bicara, mimpi-mimpi buruk itu perlahan hilang. Seolah dia tak ingin mengganggu selama kami menjaga jarak dan menjaga sikap.Namun tetap saja, setiap kali lewat jalan belakang perumahan yang mengarah ke sungai, aku tak bisa menahan diri untuk melirik sebentar ke kejauhan. Siapa tahu dia masih di sana, menatap balik, menunggu.
“Dulu, sebelum jadi perumahan, daerah sini masih sawah dan kebun bambu,” kata Pak Ujang pelan. “Di pinggir Sungai Cikaret itu, ada satu keluarga yang tinggal di rumah panggung. Mereka sederhana, hidup dari bertani dan mencari ikan di sungai.”
Kami mendengarkan dalam diam, hanya suara kipas masjid yang berputar pelan menambah suasana mencekam.
Pak Ujang lanjut bercerita, “Suatu hari, anak bungsu mereka anak laki-laki umur 10 tahun hilang saat hujan deras. Warga nyari ke mana-mana, tapi nggak ketemu. Sampai akhirnya, jasadnya ditemukan tersangkut di akar pohon dekat tikungan sungai. Waktu dimandikan, tubuh anak itu bersih, tapi kulitnya berubah jadi pucat keputihan seperti kapur.”
Sejak hari itu, ibunya jadi sering mengurung diri. Tak lama kemudian, rumah mereka kebakaran dan tak ada yang selamat. Beberapa bulan setelahnya, warga mulai lihat sosok buaya putih muncul di tempat si anak dulu ditemukan. Waktu warga mencoba menangkapnya, alat tangkap selalu rusak. Ada juga yang bilang, buaya itu muncul setiap kali ada anak kecil yang nakal atau berani-berani deket ke sungai.
“Banyak yang percaya, itu bukan buaya biasa,” kata Pak Ujang. “Itu jelmaan si anak, atau mungkin arwahnya dijaga makhluk lain.”Setelah dengar cerita itu, bulu kudukku langsung berdiri. Ternyata buaya putih itu bukan cuma misteri, tapi bagian dari tragedi lama yang tertinggal di tempat ini. Kami berempat saling bertatapan tanpa bicara. Mungkin benar kata Syila, buaya itu kesepian. Atau mungkin dia cuma pengen anak-anak lain nggak ngalamin nasib yang sama.
Saat matahari mulai tenggelam, aku pun berpamitan dan pulang ke rumah. Langit berubah oranye gelap, dan bayangan pepohonan di jalan perumahan tampak seperti lukisan usang yang menyimpan cerita sendiri. Sejak hari itu, kami belajar satu hal: tidak semua yang menyeramkan itu berniat jahat. Kadang, mereka hanya ingin dikenang atau diperingatkan.
Buaya putih di Sungai Cikaret bukan sekadar makhluk mistis, tapi saksi dari kehilangan, luka yang belum sembuh, dan mungki penunggu yang menjaga batas antara dunia kita dan dunia mereka. Dan sampai sekarang, setiap kali kami melewati jalan belakang menuju masjid atau duduk-duduk lagi di gazebo saat senja datang, kami tak pernah lupa menunduk sedikit, berbisik dalam hati semacam doa atau salam untuk sesuatu yang pernah kami lihat, tapi tak akan kami ganggu lagi. Karena kami tahu, di tepi Sungai Cikaret, ada sepasang mata putih yang masih mengawasi menunggu siapa pun yang lupa, bahwa tempat itu dulu pernah menyimpan cerita yang tak selesai.
Setelah kejadian itu, kami berempat kembali ke kehidupan biasa, meski ada perasaan yang belum sepenuhnya hilang. Setiap kali kami melewati jalan belakang perumahan yang mengarah ke sungai, selalu ada rasa enggan untuk menatap lebih lama ke kejauhan. Sebuah perasaan berat, seperti ada yang mengawasi, menunggu, atau mungkin hanya sedang mengenang. Kami tak pernah membicarakan buaya putih itu lagi kami tahu, ada batas yang tak boleh kami lewati.
Hari-hari berlalu dengan lebih tenang, dan meskipun kami tak lagi melirik ke arah sungai, kami tetap merasa ada sesuatu yang mengikat kami dengan cerita itu. Rasanya ada tanggung jawab untuk tidak melupakan apa yang telah terjadi di tempat itu, untuk tetap menghormati arwah yang pernah ada, dan mengingat tragedi yang menyelimuti masa lalu. Kami menyadari, bahwa meskipun kami tidak bisa mengubah apa yang telah berlalu, kami bisa memberi penghormatan.(*)
Oleh Najaah Ulinnuha Musthafa