Di Kecamatan Ungaran Timur tepatnya pada perumahan Pondok Babadan Baru, dengan suasana lingkungan sekitar yang sejuk karena masih banyak pohon-pohon dan tanaman milik warga membuat warga merasakan ketenangan selama tinggal di sana. Pada pagi hari saat udara masih terasa segar untuk dihirup ditambah dengan pemandangan gunung Ungaran yang terlihat sangat indah, tidak jarang terdapat beberapa warga yang melakukan aktivitas pagi seperti menyiram tanaman, menyapu halaman, berlari pagi, atau hanya sekadar berjalan santai mengelilingi perumahan sebelum melanjutkan aktivitas yang lainnya. Meskipun begitu, sangat disayangkan karena tidak semua warga memilih untuk keluar rumah dan saling menyapa. Namun, hal tersebut tidak menutup fakta bahwa warga di sana masih memiliki rasa untuk tolong menolong yang sangat tinggi. Sehingga, dapat menambahkan kesan bahwa orang-orang yang tinggal di sana memiliki kepribadian yang baik dan rasa kepedulian terhadap sesama manusia.
Pada suatu hari di tahun 2016 saat jam menunjukkan pukul 17.00, Tyara memasak air yang akan digunakan untuk mandi. Sebelum airnya mendidih, Ia sempat melihat ke arah teras rumah untuk memastikan apakah suara kendaraan yang sempat berhenti di depan rumahnya itu benar milik ayahnya, setelah dilihat ternyata benar itu adalah ayahnya yang baru saja pulang dari pasar. Namun, ternyata ayahnya tidak sendiri, sang ayah datang bersama dengan Pak Erwinyaitu adik kandung dari ayah Tyara. Setelah memastikan bahwa Ia tidak di rumah sendiri, segera Ia matikan kompor karena air sudah mendidih.
Dari dalam kamar mandi karena jaraknya lumayan dekat dengan teras, Tyara samar-samar mendengar perbincangan antara ayahnya dengan Pak Salwin.
“Yang di dalam itu, siapa Nal?” tanya Pak Erwinkarena tadi tidak sengaja melihat ada seseorang yang mengintip dari dalam.
“Tyara lah itu, anakku.”
“Ohh, sudah pulang Tyara, aku pikir siapa tadi.”
“Iya, dia sudah pulang dari pondok sejak 2 hari lalu.”
“Syukurlah kalau begitu. Oiya, apa kau yakin membiarkan Tyara kembali ke pondok itu?”
“Nah, itulah, aku kasihan kepadanya karena ketika dia di sana banyak sekali keluhan yang dia berikan kepadaku,” jelas Syafrinal, ayah Tyara dengan kebingungan.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka, dari dalam rumah terdengar suara teriakan yang sangat keras dan berhasil membuat kedua orang tua itu terkejut.
“AAAAAAA.”
“Astaga, kenapa itu anakmu?” tanya Pak Erwinterheran-heran karena teriakan yang kencang.
“Mungkin karena airnya terlalu panas, dia kalau mandi selalu mandi air panas,” Syafrinal menjawab dengan santai layaknya itu adalah hal yang biasa terjadi.
“Kau yakin itu hanya karena air mandinya terlalu panas?” Pak Erwinmerasa ada yang aneh.
Setelah ditanya oleh adiknya seperti itu, Syafrinal menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi sembari memanggil nama anaknya berulang kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam bahkan suara air yang mengalir pun tidak ada. Dengan situasi seperti itu, Syafrinal langsung mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil dengan tergesa-gesa karena khawatir akan keadaan anaknya.
“Nak, Tyara kamu kenapa? Kenapa tadi teriak-teriak seperti itu?”
Tidak ada jawaban dari dalam. Syafrinal mencoba untuk diam dan mendengarkan apakah di dalam kamar mandi masih ada aktivitas atau tidak. Sayangnya, Syafrinal tidak mendengar suara apapun dari dalam, hal tersebut memicu kepanikan dan Ia segera memanggil Pak Erwinuntuk membantunya mendobrak pintu kamar mandi. Setelah berusaha untuk membuka pintu kamar mandi, akhirnya terbuka dan memperlihatkan Tyara yang sedang bersandar di bak mandi dengan posisi kepala yang mununduk dan rambut hitam panjangnya yang tidak diikat itu menutupi wajahnya. Melihat keadaan seperti itu, Syafrinal langsung menghampiri anaknya dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi.
“Ada apa ini kok teriak-teriak?” tanya Syafrinal kepada anaknya dengan menggoyangkan bahu agar melihat kearahnya.
Pak Erwinmasih terdiam di depan kamar mandi sembari melihat ke arah depan rumah. Karena rasa penasarannya yang memuncak, Ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Bagaimana Nal? Kenapa dia?”
Syafrinal tidak menjawab karena Ia juga belum mendapatkan penejalasan dari anaknya. Ia coba lagi untuk menanyakan kepada anaknya sebenarnya apa yang sedang terjadi. Namun, nihil yang ditanya hanya diam saja dan tetap menunduk. Yang selanjutnya terjadi adalah Tyara mengangkat jari telunjuknya dan dengan tegas dia arahkan ke ayahnya sambil berkata,
“Kamu, bawa aku ke sana!”
Melihat itu Syafrinal terkejut dan di dalam pikirannya bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi hingga Ia merasa yang dihadapnnya ini bukanlah anaknya. Di dalam kamar mandi itu, menjadi terasa sesak seperti tidak ada udara yang masuk ditambah dengan ritme detak jantung yang berubah menjadi sangat cepat. Meskipun sedang menghadapi kejadian seperti ini, Syafrinal harus tetap tenang. Ia melihat ke arah luar kamar mandi dan menatap ke arah adiknya dengan tatapan penuh ketakutan, panik dan meminta pertolongan. Yang ditatap pun menghampiri dan bertanya,
“Ada apa? Kenapa dia tadi bersikap seperti itu kepadamu?” tanyanya lagi walaupun pertanyaan yang sebelumnya pun belum terjawab.
“Aku masih belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, kita coba bawa anakku keluar dari sini dulu.”
Mereka segera membawa Tyara keluar dari kamar mandi, tetapi tidak semudah itu. Setiap ingin di arahkan, Tyara memberontak dan sesekali mengeluarkan suara gerutuan yang tidak jelas. Hingga di percobaan terakhir,
“HARUSNYA KALIAN YANG IKUT AKU, KALIAN HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PERBUATAN KALIAN!”
Syafrinal dan Erwin terkejut dan saling menatap ketakutan, khawatir ini akan menjadi lebih parah untuk selanjutnya. Syafrinal yang paling paham oleh anaknya kini baru menyadari bahwa Tyara sudah dirasuki oleh sosok makhluk lain yang ada di rumah ini. Segera dia sampaikan ke Erwinuntuk hubungi Pak Man, yaitu orang pintar yang paham pada hal-hal seperti itu. Sembari menahan tubuh Tyara yang masih memberontak, dengan tergesa Erwinmerogoh kantong celananya untuk mencari keberadaan telepon genggamnya yang akan digunakan untuk menelepon Pak Man.
“Assalamualaikum, Pak Man, posisi sekarang ada di mana Pak?”
Dari sisi yang dihubungi, Pak Man dapat merasakan bahwa ada rasa khawatir dan panik dari nada Pak Salwin. Segera Ia menjawab pertanyaan tersebut,
“Saya ada di rumah, Pak Win. Bagaimana, ada apa? Mengapa suaranya terdengar seperti itu?”
“Tolong cepatlah kemari, Tyara butuh bantuan.”
Seperti sudah paham akan apa yang dimaksud oleh Pak Salwin, segera Ia berangkat menuju rumah Tyara. Sesampainya Pak Man di rumah Tyara, segera Ia melihat keadaannya dan mengamati sekitar kamar mandi. Tidak ada yang mencurigakan, katanya itu tandanya tidak ada yang lain lagi selain yang sudah masuk ke dalam tubuh Tyara. Merasa bahwa tidak akan ada yang menghalangi usahanya untuk mengeluarkan sosok itu dalam tubuh Tyara, segera Ia ajak Tyara untuk berbincang sebentar guna mengulik informasi ada maksud apa sosok itu masuk ke dalam tubuh Tyara.
“Kenapa kamu mengganggu gadis kecil ini?” tanya Pak Man dengan hati-hati.
Yang ditanya belum menjawab, dia hanya melihat ke arah kanan, kiri, dan depan secara terus-menerus dengan tatapan kosong. Sesekali dia melihat ke arah Pak Man dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, seperti ada rasa marah, kesal dan malas akan kehadiran Pak Man di sini. Makhluk yang memasuki tubuh Tyara ini sepertinya mengetahui bahwa Pak Man bisa melihat dirinya, sehingga mengajaknya bicara.
“KAMU TIDAK AKAN BISA MEMBAWAKU, HANYA ANAK INI YANG BISA!”
Syafrinal dan Erwin tidak paham apa yang dimaksud dengan kata “membawa” yang sudah dua kali disebutkan. Syafrinal menatap Pak Man bermaksud ingin mendapatkan penjelasan. Namun, di sistuasi yang seperti ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskannya.
“Keluarlah terlebih dahulu, setelah itu kuantarkan kamu ke tempat yang kamu mau.”
“Aku tidak akan keluar dari tubuh ini, bawa aku ke sana selagi aku masih di dalam tubuh anak ini.”
“Tidak bisa seperti itu, dia sibuk di sini, dia juga ada kepentingan yang lain di sini. Kamu tidak melihat disampingmu ada ayah dari anak ini? Kau hanya akan membuat keluarganya menjadi sedih karena kehilangan anaknya.” jelas Pak Man secara perlahan.
“Aku tidak peduli, kalian semua sama saja, kalian yang membuat kami kehilangan tempat tinggal kami,” ucapnya dengan penuh penekanan “Kalian yang lebih dulu mengusik kami, bahkan hingga memindahkan tempat tinggal kami. Kami semua jadi terpisah-pisah dan tidak memiliki tempat tinggal lagi.”
“Di mana tempat awal kalian tinggal?”
Yang ditanya menjawab dengan menunjuk ke arah dalam kamar mandi dan tepat pada bak mandi.
“Selama ini kami tinggal di sana. Tidak ada yang mengganggu hidup kami sebelum kalian datang ke sini dan membuat kami kehilangan tempat tinggal.”
Pak Man terdiam sambil melihat ke arah tubuh Tyara dan bak mandi secara bergantian untuk mencari informasi apa yang sebenarnya makhluk itu maksud dengan tempat tinggal. Setelah diamati dengan tenang, teliti dan serius. Pak Man berhasil mendapatkan gambaran tentang bagaimana keadaan yang ada di dalam bak mandi itu. Mengingat bahwa tujuan awal dirinya datang adalah mengeluarkan makhluk itu dari tubuh Tyara, segera ia berbicara kepada makhluk itu lagi untuk membujuknya keluar.
“Kalau kamu ingin kembali ke sana, aku akan bantu tetapi dengan syarat kamu harus keluar dari tubuh anak ini. Aku berjanji.”
“Aku tidak percaya kamu akan melakukan itu.”
“Semakin lama kamu di sini, kamu akan semakin kehilangan tempat tinggalmu. Mau sampai kapan kamu di sini?”
“Bawa aku kembali tetapi aku akan berada di dalam tubuh anak ini hingga sampai ditempat atau akan aku bawa anak ini ke dalam jurang.”
Pak Man terdiam dan segera memikirkan segala cara yang memungkinkan yang dapat dilakukan agar tidak ada satu korban pun dalam hal ini. Pak Man memberikan kode kepada Pak Erwinuntuk segera menyiapkan kendaraan dan meminta tolong ke Syafrinal untuk membantunya menggenggam tangan Tyara selama dalam perjalanan.
Mereka bertiga akhirnya berangkat keluar dan menuju arah hutan karet yang ternyata jika ditelusuri lebih jauh, diujung sana terdapat jurang yang jika ada seseorang jatuh ke bawah sana dapat dipastikan tidak sadarkan diri. Melihat itu Syafrinal panik setengah mati, karena khawatir apa yang akan terjadi kepada anak semata wayangnya itu. Syafrinal bertanya kepada Pak Man.
“Lalu ini bagaimana Pak? Apa yang akan kita lakukan?”
“Aku akan berusaha untuk membujuknya lagi, tenanglah dan berdoa yang terbaik untuk keselamatan anakmu.”
Pak Man mulai membacakan doa-doa dan entah kalimat apa saja yang dia ucapkan kepada makhluk itu.
“Sekarang kamu bisa keluar dari tubuh anak itu, kami sudah membawamu ke tempat di mana sepantasnya kamu tempati.”
Makhluk itu tersenyum meremehkan perkataan Pak Man.
“Huh, tidak semudah itu, aku bisa saja melangkahkan kaki dan terjun ke bawah sana dengan anak ini.”
“Jangan seperti itu, kami sudah memenuhi janji bahwa kami akan mengantarkanmu ke ‘sana’ dan sekarang kita sudah ada ditempat itu.”
Tanpa tunggu lama lagi, Pak Man langsung menyentuh kepala Tyara untuk mengeluarkan makhluk itu. Setelah keluar dan sadar, mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah karena untuk menghindari kemungkinan bahwa makhluk itu akan mengikutinya kembali. Setelah sampai di rumah, Tyara diberikan air minum yang sudah didoakan dan dibuat merasa tenanng dan nyaman terlebih dahulu. Setelah dirasa tenang, Syafrinal melemparkan pertanyaan bertubi-tubi yang sedari tadi sudah memenuhi isi pikirannya.
“Sebenarnya siapa makhluk tadi itu?”
“Dia adalah ratu di sebuah kerajaan jin yang ada di sini. Tempat kerajaan itu berdiri dulunya merupakan sebuah batu dengan ukuran sangat besar yang terletak persis pada posisi bak mandi. Jadi, jauh sebelum perumahan ini ada, dulu aslinya tempat ini hanyalah sawah yang sangat luas dengan beberapa gubuk kecil untuk para petani beristirahat. Kemudian, pada beberapa sisi sawah dijadikan rumah walaupun itu masih hanya 1 atau 2 rumah. Mungkin karena dilihatnya masih sepi sehingga banyak orang yang tertarik untuk membangun rumah di daerah sini, jadi dilakukanlah pemerataan tanah dan tentu saja batu besar itu pasti akan dipindahkan dari sini. Maka dari itu mereka merasa kehilangan tempat tinggal dan jadi memiliki rasa dendam kepada manusia karena telah mengusik kehidupannya.”(*)
Narasumber :
• Syelfania sebagai kakak sepupu penulis
• Syafrinal sebagai kakak dari ayah penulis
• Salwin sebagai ayah dari penulisIstana Jin di Perumahan Pondok Babadan Baru
Oleh Arfenyta Putri Piesesha
Di Kecamatan Ungaran Timur tepatnya pada perumahan Pondok Babadan Baru, dengan suasana lingkungan sekitar yang sejuk karena masih banyak pohon-pohon dan tanaman milik warga membuat warga merasakan ketenangan selama tinggal di sana. Pada pagi hari saat udara masih terasa segar untuk dihirup ditambah dengan pemandangan gunung Ungaran yang terlihat sangat indah, tidak jarang terdapat beberapa warga yang melakukan aktivitas pagi seperti menyiram tanaman, menyapu halaman, berlari pagi, atau hanya sekadar berjalan santai mengelilingi perumahan sebelum melanjutkan aktivitas yang lainnya. Meskipun begitu, sangat disayangkan karena tidak semua warga memilih untuk keluar rumah dan saling menyapa. Namun, hal tersebut tidak menutup fakta bahwa warga di sana masih memiliki rasa untuk tolong menolong yang sangat tinggi. Sehingga, dapat menambahkan kesan bahwa orang-orang yang tinggal di sana memiliki kepribadian yang baik dan rasa kepedulian terhadap sesama manusia.
Pada suatu hari di tahun 2016 saat jam menunjukkan pukul 17.00, Tyara memasak air yang akan digunakan untuk mandi. Sebelum airnya mendidih, Ia sempat melihat ke arah teras rumah untuk memastikan apakah suara kendaraan yang sempat berhenti di depan rumahnya itu benar milik ayahnya, setelah dilihat ternyata benar itu adalah ayahnya yang baru saja pulang dari pasar. Namun, ternyata ayahnya tidak sendiri, sang ayah datang bersama dengan Pak Erwinyaitu adik kandung dari ayah Tyara. Setelah memastikan bahwa Ia tidak di rumah sendiri, segera Ia matikan kompor karena air sudah mendidih.
Dari dalam kamar mandi karena jaraknya lumayan dekat dengan teras, Tyara samar-samar mendengar perbincangan antara ayahnya dengan Pak Salwin.
“Yang di dalam itu, siapa Nal?” tanya Pak Erwinkarena tadi tidak sengaja melihat ada seseorang yang mengintip dari dalam.
“Tyara lah itu, anakku.”
“Ohh, sudah pulang Tyara, aku pikir siapa tadi.”
“Iya, dia sudah pulang dari pondok sejak 2 hari lalu.”
“Syukurlah kalau begitu. Oiya, apa kau yakin membiarkan Tyara kembali ke pondok itu?”
“Nah, itulah, aku kasihan kepadanya karena ketika dia di sana banyak sekali keluhan yang dia berikan kepadaku,” jelas Syafrinal, ayah Tyara dengan kebingungan.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka, dari dalam rumah terdengar suara teriakan yang sangat keras dan berhasil membuat kedua orang tua itu terkejut.
“AAAAAAA.”
“Astaga, kenapa itu anakmu?” tanya Pak Erwinterheran-heran karena teriakan yang kencang.
“Mungkin karena airnya terlalu panas, dia kalau mandi selalu mandi air panas,” Syafrinal menjawab dengan santai layaknya itu adalah hal yang biasa terjadi.
“Kau yakin itu hanya karena air mandinya terlalu panas?” Pak Erwinmerasa ada yang aneh.
Setelah ditanya oleh adiknya seperti itu, Syafrinal menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi sembari memanggil nama anaknya berulang kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam bahkan suara air yang mengalir pun tidak ada. Dengan situasi seperti itu, Syafrinal langsung mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil dengan tergesa-gesa karena khawatir akan keadaan anaknya.
“Nak, Tyara kamu kenapa? Kenapa tadi teriak-teriak seperti itu?”
Tidak ada jawaban dari dalam. Syafrinal mencoba untuk diam dan mendengarkan apakah di dalam kamar mandi masih ada aktivitas atau tidak. Sayangnya, Syafrinal tidak mendengar suara apapun dari dalam, hal tersebut memicu kepanikan dan Ia segera memanggil Pak Erwinuntuk membantunya mendobrak pintu kamar mandi. Setelah berusaha untuk membuka pintu kamar mandi, akhirnya terbuka dan memperlihatkan Tyara yang sedang bersandar di bak mandi dengan posisi kepala yang mununduk dan rambut hitam panjangnya yang tidak diikat itu menutupi wajahnya. Melihat keadaan seperti itu, Syafrinal langsung menghampiri anaknya dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi.
“Ada apa ini kok teriak-teriak?” tanya Syafrinal kepada anaknya dengan menggoyangkan bahu agar melihat kearahnya.
Pak Erwinmasih terdiam di depan kamar mandi sembari melihat ke arah depan rumah. Karena rasa penasarannya yang memuncak, Ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Bagaimana Nal? Kenapa dia?”
Syafrinal tidak menjawab karena Ia juga belum mendapatkan penejalasan dari anaknya. Ia coba lagi untuk menanyakan kepada anaknya sebenarnya apa yang sedang terjadi. Namun, nihil yang ditanya hanya diam saja dan tetap menunduk. Yang selanjutnya terjadi adalah Tyara mengangkat jari telunjuknya dan dengan tegas dia arahkan ke ayahnya sambil berkata,
“Kamu, bawa aku ke sana!”
Melihat itu Syafrinal terkejut dan di dalam pikirannya bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi hingga Ia merasa yang dihadapnnya ini bukanlah anaknya. Di dalam kamar mandi itu, menjadi terasa sesak seperti tidak ada udara yang masuk ditambah dengan ritme detak jantung yang berubah menjadi sangat cepat. Meskipun sedang menghadapi kejadian seperti ini, Syafrinal harus tetap tenang. Ia melihat ke arah luar kamar mandi dan menatap ke arah adiknya dengan tatapan penuh ketakutan, panik dan meminta pertolongan. Yang ditatap pun menghampiri dan bertanya,
“Ada apa? Kenapa dia tadi bersikap seperti itu kepadamu?” tanyanya lagi walaupun pertanyaan yang sebelumnya pun belum terjawab.
“Aku masih belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, kita coba bawa anakku keluar dari sini dulu.”
Mereka segera membawa Tyara keluar dari kamar mandi, tetapi tidak semudah itu. Setiap ingin di arahkan, Tyara memberontak dan sesekali mengeluarkan suara gerutuan yang tidak jelas. Hingga di percobaan terakhir,
“HARUSNYA KALIAN YANG IKUT AKU, KALIAN HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PERBUATAN KALIAN!”
Syafrinal dan Erwin terkejut dan saling menatap ketakutan, khawatir ini akan menjadi lebih parah untuk selanjutnya. Syafrinal yang paling paham oleh anaknya kini baru menyadari bahwa Tyara sudah dirasuki oleh sosok makhluk lain yang ada di rumah ini. Segera dia sampaikan ke Erwinuntuk hubungi Pak Man, yaitu orang pintar yang paham pada hal-hal seperti itu. Sembari menahan tubuh Tyara yang masih memberontak, dengan tergesa Erwinmerogoh kantong celananya untuk mencari keberadaan telepon genggamnya yang akan digunakan untuk menelepon Pak Man.
“Assalamualaikum, Pak Man, posisi sekarang ada di mana Pak?”
Dari sisi yang dihubungi, Pak Man dapat merasakan bahwa ada rasa khawatir dan panik dari nada Pak Salwin. Segera Ia menjawab pertanyaan tersebut,
“Saya ada di rumah, Pak Win. Bagaimana, ada apa? Mengapa suaranya terdengar seperti itu?”
“Tolong cepatlah kemari, Tyara butuh bantuan.”
Seperti sudah paham akan apa yang dimaksud oleh Pak Salwin, segera Ia berangkat menuju rumah Tyara. Sesampainya Pak Man di rumah Tyara, segera Ia melihat keadaannya dan mengamati sekitar kamar mandi. Tidak ada yang mencurigakan, katanya itu tandanya tidak ada yang lain lagi selain yang sudah masuk ke dalam tubuh Tyara. Merasa bahwa tidak akan ada yang menghalangi usahanya untuk mengeluarkan sosok itu dalam tubuh Tyara, segera Ia ajak Tyara untuk berbincang sebentar guna mengulik informasi ada maksud apa sosok itu masuk ke dalam tubuh Tyara.
“Kenapa kamu mengganggu gadis kecil ini?” tanya Pak Man dengan hati-hati.
Yang ditanya belum menjawab, dia hanya melihat ke arah kanan, kiri, dan depan secara terus-menerus dengan tatapan kosong. Sesekali dia melihat ke arah Pak Man dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, seperti ada rasa marah, kesal dan malas akan kehadiran Pak Man di sini. Makhluk yang memasuki tubuh Tyara ini sepertinya mengetahui bahwa Pak Man bisa melihat dirinya, sehingga mengajaknya bicara.
“KAMU TIDAK AKAN BISA MEMBAWAKU, HANYA ANAK INI YANG BISA!”
Syafrinal dan Erwin tidak paham apa yang dimaksud dengan kata “membawa” yang sudah dua kali disebutkan. Syafrinal menatap Pak Man bermaksud ingin mendapatkan penjelasan. Namun, di sistuasi yang seperti ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskannya.
“Keluarlah terlebih dahulu, setelah itu kuantarkan kamu ke tempat yang kamu mau.”
“Aku tidak akan keluar dari tubuh ini, bawa aku ke sana selagi aku masih di dalam tubuh anak ini.”
“Tidak bisa seperti itu, dia sibuk di sini, dia juga ada kepentingan yang lain di sini. Kamu tidak melihat disampingmu ada ayah dari anak ini? Kau hanya akan membuat keluarganya menjadi sedih karena kehilangan anaknya.” jelas Pak Man secara perlahan.
“Aku tidak peduli, kalian semua sama saja, kalian yang membuat kami kehilangan tempat tinggal kami,” ucapnya dengan penuh penekanan “Kalian yang lebih dulu mengusik kami, bahkan hingga memindahkan tempat tinggal kami. Kami semua jadi terpisah-pisah dan tidak memiliki tempat tinggal lagi.”
“Di mana tempat awal kalian tinggal?”
Yang ditanya menjawab dengan menunjuk ke arah dalam kamar mandi dan tepat pada bak mandi.
“Selama ini kami tinggal di sana. Tidak ada yang mengganggu hidup kami sebelum kalian datang ke sini dan membuat kami kehilangan tempat tinggal.”
Pak Man terdiam sambil melihat ke arah tubuh Tyara dan bak mandi secara bergantian untuk mencari informasi apa yang sebenarnya makhluk itu maksud dengan tempat tinggal. Setelah diamati dengan tenang, teliti dan serius. Pak Man berhasil mendapatkan gambaran tentang bagaimana keadaan yang ada di dalam bak mandi itu. Mengingat bahwa tujuan awal dirinya datang adalah mengeluarkan makhluk itu dari tubuh Tyara, segera ia berbicara kepada makhluk itu lagi untuk membujuknya keluar.
“Kalau kamu ingin kembali ke sana, aku akan bantu tetapi dengan syarat kamu harus keluar dari tubuh anak ini. Aku berjanji.”
“Aku tidak percaya kamu akan melakukan itu.”
“Semakin lama kamu di sini, kamu akan semakin kehilangan tempat tinggalmu. Mau sampai kapan kamu di sini?”
“Bawa aku kembali tetapi aku akan berada di dalam tubuh anak ini hingga sampai ditempat atau akan aku bawa anak ini ke dalam jurang.”
Pak Man terdiam dan segera memikirkan segala cara yang memungkinkan yang dapat dilakukan agar tidak ada satu korban pun dalam hal ini. Pak Man memberikan kode kepada Pak Erwinuntuk segera menyiapkan kendaraan dan meminta tolong ke Syafrinal untuk membantunya menggenggam tangan Tyara selama dalam perjalanan.
Mereka bertiga akhirnya berangkat keluar dan menuju arah hutan karet yang ternyata jika ditelusuri lebih jauh, diujung sana terdapat jurang yang jika ada seseorang jatuh ke bawah sana dapat dipastikan tidak sadarkan diri. Melihat itu Syafrinal panik setengah mati, karena khawatir apa yang akan terjadi kepada anak semata wayangnya itu. Syafrinal bertanya kepada Pak Man.
“Lalu ini bagaimana Pak? Apa yang akan kita lakukan?”
“Aku akan berusaha untuk membujuknya lagi, tenanglah dan berdoa yang terbaik untuk keselamatan anakmu.”
Pak Man mulai membacakan doa-doa dan entah kalimat apa saja yang dia ucapkan kepada makhluk itu.
“Sekarang kamu bisa keluar dari tubuh anak itu, kami sudah membawamu ke tempat di mana sepantasnya kamu tempati.”
Makhluk itu tersenyum meremehkan perkataan Pak Man.
“Huh, tidak semudah itu, aku bisa saja melangkahkan kaki dan terjun ke bawah sana dengan anak ini.”
“Jangan seperti itu, kami sudah memenuhi janji bahwa kami akan mengantarkanmu ke ‘sana’ dan sekarang kita sudah ada ditempat itu.”
Tanpa tunggu lama lagi, Pak Man langsung menyentuh kepala Tyara untuk mengeluarkan makhluk itu. Setelah keluar dan sadar, mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah karena untuk menghindari kemungkinan bahwa makhluk itu akan mengikutinya kembali. Setelah sampai di rumah, Tyara diberikan air minum yang sudah didoakan dan dibuat merasa tenanng dan nyaman terlebih dahulu. Setelah dirasa tenang, Syafrinal melemparkan pertanyaan bertubi-tubi yang sedari tadi sudah memenuhi isi pikirannya.
“Sebenarnya siapa makhluk tadi itu?”
“Dia adalah ratu di sebuah kerajaan jin yang ada di sini. Tempat kerajaan itu berdiri dulunya merupakan sebuah batu dengan ukuran sangat besar yang terletak persis pada posisi bak mandi. Jadi, jauh sebelum perumahan ini ada, dulu aslinya tempat ini hanyalah sawah yang sangat luas dengan beberapa gubuk kecil untuk para petani beristirahat. Kemudian, pada beberapa sisi sawah dijadikan rumah walaupun itu masih hanya 1 atau 2 rumah. Mungkin karena dilihatnya masih sepi sehingga banyak orang yang tertarik untuk membangun rumah di daerah sini, jadi dilakukanlah pemerataan tanah dan tentu saja batu besar itu pasti akan dipindahkan dari sini. Maka dari itu mereka merasa kehilangan tempat tinggal dan jadi memiliki rasa dendam kepada manusia karena telah mengusik kehidupannya.”(*)
Narasumber :
• Syelfania sebagai kakak sepupu penulis
• Syafrinal sebagai kakak dari ayah penulis
• Salwin sebagai ayah dari penulis
Oleh Arfenyta Putri Piesesha