Salah satu cara menyambut bulan Ramadan adalah tradisi ”padusan”. Tradisi tersebut seringkali dilakukan di sekitar Jawa Tengah, terutama di Boyolali. Warga Boyolali, kerap kali melakukan tradisi ”padusan” sebelum puasa berlangsung. Sama seperti yang lain, keluargaku seringkali melakukan tradisi ini bersama-sama.
Ramadan kali ini merupakan salah satu bulan yang istimewa. Tahun ini seluruh keluarga besar akan mudik ke rumah nenek terlebih dahulu sebelum puasa pertama dimulai. Biasanya keluarga besar kami berkumpul satu minggu sebelum lebaran. Hal ini membuat kakek dan nenek ku sangat antusias untuk menyambut anak cucunya. Nenek dan kakek ku sangat bersemangat untuk membersihkan rumah yang masih sedikit terlihat seperti Rumah Joglo jika dilihat dari depan. Dimulai dari bagian depan, yang biasa disebut “pendapa”. Pendapa merupakan ruangan bagian depan yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Dilanjutkan ke bagian ruang tengah dan ”senthong”. Senthong adalah tempat untuk tidur, atau yang sekarang disebut dengan kamar tidur. Dan terakhir adalah membersihkan “pawon”. Pawon atau yang kita kenal sebagai dapur dibersihkan paling akhir, karena letaknya yang berada di paling belakang.
Walaupun aku tidak merasakan mudik, karena rumahku berseberangan dengan rumah nenek, tetapi aku sangat merasakan kegembiraan saudara-saudara ku yang akan mudik. Aku selalu menjadi perantara antara kakek nenek ku, dan anak anaknya yang sedang dalam perjalanan mudik untuk sekadar menanyakan ’sampai dimana?’ atau ’apakah di jalan macet?’. Sepertinya, kakek dan nenek ku sudah tidak sabar menyambut kedatangan mereka.
Sekitar tengah hari, satu per satu yang ditunggu kehadirannya mulai datang. Kakek dan nenek ku berdiri di depan pintu pendopo menyambut dengan senyuman rindu yang hangat dan memeluk siapaun yang masuk. Rumah Joglo yang semula sunyi, kini mulai ramai dengan canda gurau melepas rindu dan teriakan para cucu. Para orang tua duduk di ruang tengah beralaskan tikar, berbagi kabar. Sementara para cucu berlarian di pendopo yang sangat luas itu.
Malam sebelum tidur, kakek selalu bercerita tentang masa kecil anak-anak nya kepada para cucu. Di ruang tengah diatas tikar, para cucu duduk melingkar sembari menikmati kue buatan nenek. Kali ini kakek bercerita tentang padusan yang dahulu sering dilakukan ketika menyambut bulan puasa. Dahulu sebelum puasa kakek selalu pergi ke sungai bersama teman -temannya untuk mandi disungai. Kakek menceritakan bahwa sebelum puasa, hendaknya membersihkan diri yang di Boyolali sering disebut dengan padusan. Kakek bercerita padusan yang dilakukan kakek sangatlah seru, dengan berendam di Sungai, berenang kesana-kemari, dan bermain air bersama teman-teman. Hal tersebut menyebabkan para cucu iri dan ingin juga melakukan padusan seperti kakek. Dengan raut sedih kakek memberi tahu bahwa sungai yang dahulu digunakan padusan sudah semakin surut dan tidak bisa digunakan untuk berenang lagi. Melihat kekecewaan para cucu, kakek menjanjikan untuk mengajak mereka ke sebuah desa yang bernama Desa Pengging. Di desa tersebut terdapat banyak sumber mata air yang digunakan sebagai umbul untuk berenang. Banyak warga yang melakukan padusan di desa tersebut.
Pagi hari setelah sarapan, kakek mengajak para cucu untuk bersiap padusan ke Desa Pengging. Dengan mobil tua berwarna merah dengan kaca terbuka kakek melaju dengan pelan. Mobil melintas di jalan tengah sawah, dan kakek menunjukkan di seblah kanan dapat melihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang terlihat besar. Tidak lama perjalanan ke Desa Pengging, hanya membutuhkan waktu 15-20 menit untuk sampai.
Di Boyolali padusan bersama biasa dilakukan di dua tempat, di desa Pengging dan Objek Wisata Tlatar. Kakek memilih Desa Pengging, karena tempat itu lebih dekat dengan rumah kakek. Sebelum memulai padusan, kakek mengajak para cucu untuk melihat kirab budaya dari kantor Kecamatan Banyudono hingga Umbul Ngabean Kompleks Umbul Tirtomarto di Desa Pengging. Umbul ngabean merupakan pemandian bersejarah yang dahulu menjadi favorit Raja Keraton Solo Paku Buwono (PB) X. Kirab ini diikuti oleh prajurit Keraton Solo dengan diiringi kereta kuda yang membawa keluarga keraton, serta Sekretaris Daerah Boyolali dan jajarannya. Setibanya di Umbul Ngabeyan dilakukan upacara dengan memandikan pasangan Putra-Putri Boyolali dilanjutkan dengan ’nyemplung’ ke umbul.
Padusan memiliki makna yang sangat mendalam. Selain mandi bersama, padusan merupakan simbol untuk penyucian diri secara lahir dan batin agar siap menyambut dan menjalani Bulan Ramadan dengan khusyuk dan lancar. Prosesi padusan juga membersihkan hati dari segala iri, dendam, dan kesalahan, sehingga hati lebih bersih dan ikhlas saat menjalani puasa. Walaupun padusan bisa hanya dilakukan dengan mandi keramas dan berniat untuk membersihkan diri, namun padusan dengan kirab dan padusan yang dilakukan bersama-sama merupakan salah satu bagian dari pelestarian budaya yang harus tetap dijaga.
Selesai acara padusan, kakek mengajak para cucu pulang. Kakek berharap dengan ikutnya padusan bukan hanya sebagai agenda keluarga, tetapi juga salah satu bentuk untuk melestarikan budaya. Para cucu tampak sangat gembira walaupun sedikit lelah karena bermain air cukup lama. Salah satu cucu berkata bahwa ia tidak sabar untuk pulang kerumah dan menceritakan ke teman-teman sekolahnya saat sesi bercerita di depan kelas saat masuk sekolah nanti. (*)
Oleh Abel Delonika Widyabudi