Mitos Kali Njaro 

Di sebuah desa di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo ada sebuah sungai yang bernama Kali Njaro. Sungai ini berada di Desa Nglaris, dimana desa itu termasuk desa penghasil salak dan pete terbesar di Kecamatan Bener. Banyak mitos yang tersebar di desa ini seperti, mitos Kali Gonto, Kisah Mbah Kyai Nglaris dan Mitos Kali Njaro.Namun kali ini saya akan menceritakan Mitos Kali Njaro dan beberapa pengalaman saya mengenai Kali Njaro ini.

Dahulu kala ada sebuah tempat yang penuh dengan pohon salak dan pohon beringin tua, datang seorang Ulama yang bernama Mbah Kyai Nglaris, beliau berkelana menyusuri jalan saat akan ke Wonosobo dari Purworejo Kota. Di tempat tersebut Mbah Kyai Nglaris singgah untuk bersembunyi dari para Kolonial Belanda saat akan menyebarkan dakwahnya.Saat itu Mbah Kyai Nglaris bersembunyi di tempat tersebut dengan jangka waktu yang sangat lama. 

Selama beliau singgah di tempat tersebut beliau mulai kehidupan dengan mulai membangun jalan dan rumah bersama dengan para murid dan beberapa pengikutnya. Selama mereka disana adalah musim hujan jadi mereka bertahan hidup dengan menggunakan air hujan. Mbah Kyai dan beberapa anak muridnya berkeliling daerah tersebut untuk mencari sumber-sumber air seperti sungai. Mbah Kyai Nglaris menemukan sebuah sungai yang ternyata adalah Kali Gonto, disana beliau mulai bercocok tanam dan berkebun bersama dengan beberapa pengikut dan muridnya. Disana pula Mbah Kyai Nglaris sering bermeditasi dan berdzikir untuk mensyukuri  setiap anugrah dari Allah swt.

Dengan setiap hari beliau hidup di daerah tersebut, beliau merasa nyaman dan semakin banyak pengikutnya yang meninggali tempat tersebut. Para pengikutnya menyebut tempat tersebut sebagai Desa Nglaris karena tempat tersebut adalah desa yang paling lama Mbah Kyai Nglaris singgahi dan juga karena desa tersebut adalah desa yang setiap menjual hasil buminya ke kota pasti laris manis oleh karenanya disebut juga Desa Nglaris. Selain itu nama Nglaris adalah doa untuk daerah tersebut agar hasil buminya tetap melimpah dan laku di pasar alias laris manis hasil penjualan. Setelah beberapa bulan desa tersebut berkembang dengan pesat semakin banyak orang yang singgah dan menetap di Desa tersebut. 

Dilain sisi ada seorang murid beliau yang menyusuri seluruh daerah tersebut dan menemukan mata air yang mengalir deras hingga membentuk sebuah danau kecil di bawah mata air tersebut yang terlihat juga dari danau tersebut membentuk sungai yang sangat deras dan jernih airnya. Dengan segera dia meminum dan berwudhu di tempat tersebut untuk melaksanakan Salat Zuhur sebelum kembali ke rumah untuk memberi tahu pada gurunya. 

Namun disaat dia akan berwudu tiba-tiba dikejutkan dengan sepasang ular yang sedang berhubungan badan diatas pohon beringin tiba-tiba jatuh tepat di depan pemuda tersebut dan seketika itu juga hilang. Pemuda tersebut kaget dan beristighfar, namun tiba-tiba dia mendengar sesorang memanggilnya dengan suara yang lemah lembut. Dengan rasa penasaran pemuda itu mendekati sumber suara tersebut. 

Diam-diam pemuda tersebut melihat sumber suara tersebut dibalik pohon beringin besar yang ada di tempat tersebut. Saat dia melihat ternyata pemuda tersebut melihat perempuan sedang duduk manis disebuah kolam yang hanya berjarak 5 meter dari mata air. Pemuda itu kaget karena disana ada sebuah kolam yang penuh akan enceng gondok dan bunga Teratai. Namun lebih anehnya ada perempuan bergaun kuning duduk manis disana sambal memainkan kakinya di kolam tersebut. Namun sebelum pemuda tersebut memanggil dan bertanya pada sosok perempuan tersebut. Perempuan tersebut menoleh dan berkata, “Nalika tresnamu luwih gedhe marang wong liya kajaba tresnoa karo awakmu dhewe iku bakal tiba ing njerone kelangan kabeh percaya karo awakmu dhewe.” (Apabila cintamu lebih besar kepada orang lain kecuali cinta terhadap dirimu sendiri maka akan atuh di dalam kehilangan semua rasa percaya pada dirimu sendiri)

Dengan tiba-tiba perempuan bergaun kuning tersebut menceburkan diri ke dalam kolam tersebut, dengan sigap pemuda tersebut berlari kearah kolam dan berusaha menolong perempuan tersebut dengan bambu yang ada di pinggir kolam yang kira-kira panjang bambunya 5 meteran. Namun saat pemuda tersebut memasukkan bambu  tersebut bambu tersebut seakan tertarik ke dalam kolam tersebut dengan sigap pemuda itu melepaskan bambu itu. Bambu tersebut tenggelam ke dalam kolam tersebut.

Perempuan itupun ikut tenggelam ke dalam kolam. Pemuda tersebut lari menuju ke pemukiman untuk menceritakan hal tersebut ke teman-temannya. “Ana apa Njaro kok kowe mlayu-mlayu karo keweden ngunu?” (Ada apa, Njaro, kok kamu berlarian dengan ketakutan sendiri seperti itu?)  tanya salah satu teman pemuda

Aku mau weruh wong wedhok ayu terus njebur nang kolam. Pas arep tak tulung wis ra isa, aku ngerasa salah merga ra isa nulung wong wedhok kae.” (Aku tadi melihat seorang perempuan cantik  terus tiba-tiba dia menyeburkan diri ke dalam kolam saat aku ingin menolongnya tapi sudah tidak bisa, aku merasa bersalah karena tidak bisa menolong perempuan itu.)

Kowe weruh wong wedok kuwi nang ndi, Njaro?” (Kamu melihat perempuan itu di mana, Njaro?). 

Nang tuk sing tak temokaake nang sebrang kae.” (Di mata air yang aku temukan di seberang sana?), jawab Njaro. 

“Tuk apa?” (Mata air apa?)

Tiba-tiba Mbah Kyai Nglaris mendekat ke arah Njaro dan teman-teman dan menanyakan peristiwa yang terjadi. 

Niku, Mbah, wau kula ningali wong wedhok sing njegur nang kolam cedhak tuk sing tak temokake nang sebrang.” (Itu mbah, tadi saya melihat perempuan yang duduk di kolam dekat mata air yang saya temukan di seberang.) 

“Coba didhelok lokasi tuk sing kowe temokake, Njaro, sapa ngerti kuwi dudu menungsa.” (Coba akita lihat lokasi mata air yang kamu temukan tadi, Njaro. Siapa tahu itu mukan manusia.) perintah Mbah Kyai Nglaris. 

Mereka pun berjalan menuju ke tempat kejadian Njaro melihat perempuan tadi tercebur ke dalam kolam. Saat tiba di sana semua orang terpanah akan keindahan pohon beringin besar yang berjumlah 3 itu, di mana pohon itu membuat suasana asri tempat itu semakin adem, namun juga mereka merasa ada yang menganjal saat melihat ke arah mata air dan kolam yang berada di tengah-tengah antara 3 pohon tersebut. Di sana mereka memeriksa sekitar daerah tersebut dan tidak menemukan apa pun. Salah satu dari mereka ada yang ingin menceburkan diri ke dalam kolam tersebut untuk memeriksa apakah perempuan itu tenggelam atau tidak. Namun dihentikan oleh mbah Kyai Nglaris dan juga Njaro. 

Panggonan iki takjenengi Kali Njaro, sing artine kali sing misterius nanging putih resik lan anyes banyune, amarga banyu tuk kuwi sik resik, anyes lan deres ngalire. Nanging kejaba kabeh kuwi kali iku akeh misterine. Pada karo jenengmu, Njaro, sing memokake panggonan iki.”  (Tempat ini saya beri nama Kali Njaro, yang artinya kali yang misterius tapi putih bersih dan dingin airnya, karena air dari mata air itu yang bersih, dingin, dan keluar airnya sangat deras. Tapi dari semua itu kali itu juga penuh dengan misteri. Sama seperti namamu Njaro, orang terpilih yang menemukan tempat indah ini.)

Waktu Zuhur telah tiba mereka merencanakan untuk salat di daerah tersebut. Setelahnya mereka Kembali ke pemukiman mereka. 

Setelah itu tempat ini diberi akses jalan dan dibuatkan bak untuk menampung debit air yang deras, bahkan tempat ini dianggap tempat sakral yang di mana jika berada di tempat ini memiliki hati yang buruk atau niat jahat maka dirinya akan celaka atau bahkan diperlihatkan wujud hantu-hantu yang menghuni tempat ini. Namun Sebagian orang juga menganggap tempat ini adalah tempat merenung paling baik. Bahkan penganut Kejawen sering membersihkan pusaka pada malam bulan Sura di situ. Selain itu tempat ini menjadi sumber air alternatif jika air dari PDAM sedang mati maka masyarakat akan menggunakan kali ini sebagai tempat mencuci dan mandi.(*)

.Oleh Hammijah Hafidz