MENANAMKAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN MELALUI PROGRAM ADIWIYATA DI INDONESIA

Program ADIWIATA atau yang dikenal sebagai Green school, merupakan salah satu upaya kementerian lingkungan hidup untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian warga sekolah terhadap pelestarian lingkungan. Melalui program ini seluruh warga sekolah mulai siswa, guru, hingga orang tua di ajak untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman.

Secara internasional Green School berfokus pada pembentukan penerapan sikap peduli lingkungan dan kebiasaan peduli lingkungan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah dan lingkungan sekitar. Program ini juga dikenal dengan konsep “Greening the Curriculum” yaitu mengintegrasikan menteri lingkungan hidup ke dalam pembelajaran agar siswa memahami pentingnya menjaga alam sejak dini.

Kata Adiwiyata berasal dari bahasa Sansekerta. “Adi” berarti besar, baik, atau ideal, sedangkan “Wiyata” berarti tempat untuk belajar ilmu, norma, dan etika dalam kehidupan sosial. Jadi, Adiwiyata dapat diartikan sebagai tempat belajar yang baik dan ideal, di mana setiap orang bisa memperoleh ilmu dan nilai-nilai yang berguna untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan berkelanjutan.

Tujuan utama program Adiwiyata adalah menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab warga sekolah dalam menjaga lingkungan. Dengan begitu, semua warga sekolah bisa ikut berperan dalam melindungi alam dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan utama program ini adalah membentuk sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan, mulai dari tingkat SD hingga SMA.

Ada beberapa sekolah di Indonesia yang sudah menerapkan sekolah adiwiata, seperti SMP Negeri 216 Jakarta yang  menunjukkan komitmennya sebagai calon Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional dengan lingkungan yang asri, inovatif, dan partisipasi aktif siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah Imam mengatakan, program Adiwiyata sejalan dengan visi sekolah yang kolaboratif, berkarakter, berkualitas, dan peduli lingkungan.

“Kami jadikan Adiwiyata sebagai budaya sekolah yang dimulai dari kebiasaan menjaga dan melestarikan lingkungan” ujarnya, Jumat (13/6).

Untuk mewujudkannya, sekolah membentuk tim Adiwiyata yang melibatkan guru, karyawan, siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar. Para guru juga mengintegrasikan nilai peduli lingkungan dalam pembelajaran, agar kesadaran lingkungan tumbuh secara berkelanjutan.

Siswa-siswi turut berperan dalam aksi nyata, seperti memilah sampah, merawat taman dan green house, serta melakukan konservasi air dan memanfaatkan air hujan untuk kegiatan sekolah.

Melalui prinsip reduce, reuse, recycle, siswa juga berinovasi mengubah barang bekas menjadi karya berguna, seperti pot bunga hasil proyek Profil Pelajar Pancasila. Dengan berbagai kegiatan tersebut, SMPN 216 Jakarta bertekad menjadi sekolah berbudaya lingkungan dan layak meraih Adiwiyata Nasional.

Selain itu, ada juga sekolah yang berada di kota Semarang yaitu SMAN 14 Semarang yang sudah menerapkan sekolah Adiwiyata Mandiri. Setelah kembali meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri pada 16 Desember 2019, SMAN 14 Semarang segera menjalankan amanat untuk membina dan menularkan semangat peduli lingkungan ke sekolah-sekolah lain di Kota Semarang.

Koordinator Adiwiyata SMAN 14 Semarang, Ibu Suspeni, mengatakan pihaknya terus menyebarkan “Virus Adiwiyata” ke berbagai jenjang pendidikan. “Kami membina sekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA/K agar ikut berbudaya lingkungan,” ujarnya.

Hingga kini, lebih dari 20 sekolah telah menjadi binaan SMAN 14. Pada tahun 2020–2021, pembinaan difokuskan pada enam sekolah, yaitu SMA 4, SMA 2, SMA Karangturi, SD Bululor 1, SMP 25, dan SMP 34 Semarang. Beberapa sekolah binaan berhasil melaju ke berbagai tingkatan lomba Adiwiyata: SD Bululor 1 dan SMP 25 di tingkat kota, SMA 2 dan SMA Karangturi di tingkat provinsi, serta SMP 34 dan SMA 4 di tingkat nasional.

Dengan prestasi tersebut, SMAN 14 Semarang menargetkan menjadi wakil Jawa Tengah dan Indonesia di ajang Asean Eco School, serta membawa semangat Adiwiyata ke level internasional.

Adapun Prinsip Dasar Program Adiwiyata dari teks tersebut :

  1. Edukatif, prinsip ini menekankan pada Adiwiyata yang berguna untuk mengedepankan nilai-nilai pendidikan dan pembangunan karakter peserta didik agar mencintai lingkungan hidup, baik lingkungan dalam sekolah, di rumah maupun di masyarakat luas.
  2. Partisipatif, komunitas sekolah harus terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab dan peran. Partisipatif ini juga merupakan sikap yang harus ditunjukkan kepada lingkungan sekitar sekolah mulai dari komite hingga pemerintahan setempat yang perlu ikut serta, agar pelestarian lingkungan hidup di sekolah dapat berdampak ke lingkungan sekitar.
  3. Berkelanjutan, seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif dan berkesinambungan.

SUMBER

Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga. (n.d.). Sekolah Adiwiyata. Diakses 20 November 2025,  dari https://dlh.salatiga.go.id/sekolah-adiwiyata/

Pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Pusat. (2025, …). SMPN 216 Jakarta Menuju Sekolah Adiwiyata Nasional. Diakses 20 November 2025, dari https://pusat.jakarta.go.id/v2/news/2025/smpn-216-jakarta-menuju-sekolah-adiwiyata-nasional

SMA Negeri 14 Semarang. (2021, 8 Maret). Peduli Lingkungan Hidup, SMAN 14 Hidupkan Sekolah-sekolah di Kota Semarang. Diakses 20 November 2025, dari https://sman14-smg.sch.id/peduli-lingkungan-hidup-sman-14-hidupkan-sekolah-sekolah-di-kota-semarang/

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar. (n.d.). Adiwiyata. Diakses 20 November 2025, dari https://dlh.blitarkab.go.id/adiwiyata/

SMK Negeri 5 Surakarta. (n.d.). Pengertian dan Tujuan Program Adiwiyata. Diakses 20 November 2025, dari https://www.smkn5solo.sch.id/pengertian-dan-tujuan-program-adiwiyata/

NAMA : Laura Oktavia Ramadhani

NIM : 2502020154

FAKULTAS : Bahasa dan Seni

PRODI : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

MATKUL : Sintaksis

DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. Rustono, M.Hum.
                                       Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, S.Pd., M.Pd.