Putri Santubong dan Putri Sejinjang 

Pada zaman dahulu, di atas langit yang tinggi, berdirilah sebuah Kerajaan Kayangan yang agung dan damai. Di sana, hiduplah dua putri cantik bernama Putri Santubong dan Putri Sejinjang, anak dari Ratu Kayangan yang bijaksana. Santubong terkenal karena kepandaiannya menenun kain indah seperti pelangi, sementara Sejinjang sangat lihai menari, gerakannya begitu anggun dan memesona.

Suatu hari, Ratu Kayangan memanggil kedua putrinya ke balairung istana. Ia berkata dengan suara lembut namun berwibawa, “Anakku, bumi sedang dilanda kekacauan. Turunlah kalian ke sana, bawa damai dan keindahan.” Putri Santubong pun menjawab, “Hamba bersedia, Ibunda. Hamba akan mengajarkan tenun kepada manusia.” Sejinjang menambahkan dengan senyum manis, “Dan hamba akan menari untuk menghibur hati mereka.”

Dengan restu sang ratu, kedua putri turun ke bumi. Santubong tinggal di kaki Gunung Santubong, mengajarkan rakyat menenun dan menjual kain yang indah. Sementara Sejinjang menetap di kaki Gunung Sejinjang, menari dan menghidupkan budaya di antara manusia. Kehadiran mereka membuat negeri menjadi makmur dan damai. Rakyat pun menyayangi mereka seperti dewi yang turun dari langit.

Namun segalanya mulai berubah ketika seorang pangeran bernama Serapi datang berkunjung. Ia tampan dan gagah, serta berasal dari kerajaan di seberang lautan. Ketika ia bertemu dengan Santubong, ia berkata, “Wahai putri, jemarimu menenun keindahan seperti bidadari. Belum pernah kulihat kain seelok ini.” Santubong tersenyum malu, “Tuan terlalu memuji. Hamba hanya melakukan tugas dari langit.”

Tak lama kemudian, Pangeran Serapi juga bertemu Sejinjang saat ia sedang menari di tengah perayaan panen. Ia terpesona. “Gerakmu bagai desir angin di atas danau. Suaramu mendamaikan hati,” ujarnya. Sejinjang menjawab, “Jika tarian hamba membawa ketenangan, maka tugas hamba di bumi sudah tercapai.” Sejak saat itu, sang pangeran sering mengunjungi keduanya, dan benih cinta mulai tumbuh di hati kedua putri.

Namun, cinta itu tidak membawa kebahagiaan. Santubong dan Sejinjang mulai merasakan cemburu. Suatu hari, mereka bertemu di tepi sungai. Suasana sunyi berubah tegang. Sejinjang menatap kakaknya tajam. “Kau mencoba merebut hatinya dariku, bukan?” katanya. Santubong membalas dengan tenang, tapi dingin, “Bukan aku yang memulai. Dialah yang datang padaku.”

Kata-kata itu memicu pertengkaran hebat. Sejinjang, yang dikuasai emosi, mengangkat senduk emasnya dan menghantam pipi Santubong. Darah mengalir. Santubong membalas dengan pemukul tenunnya, mengenai kepala Sejinjang. Petir menyambar. Bumi bergetar. Langit pun menangis. Di kayangan, Ratu marah besar dan turun ke bumi.

Dengan suara menggema, Ratu Kayangan berkata, “Kalian bukan utusan damai, melainkan pembawa kehancuran! Karena itu, kutukanku akan menjadi pelajaran bagi dunia.” Dalam sekejap, tubuh Santubong berubah menjadi gunung yang menjulang tinggi, wajahnya terbujur dengan luka di pipi. Sedangkan tubuh Sejinjang pecah menjadi pulau-pulau kecil yang tersebar di lautan.

Pangeran Serapi, yang menjadi sumber perpecahan, menghilang tanpa jejak. Sebagian orang percaya, ia berubah menjadi Gunung Serapi — berdiri jauh tapi menghadap ke arah dua putri yang kini tak bisa bersatu. Ia menjadi lambang penyesalan atas cinta yang tak pernah dipilihkan.

Sejak saat itu, rakyat Sarawak mengenang kisah tragis ini. Gunung Santubong dan pulau-pulau Sejinjang tak hanya menjadi lanskap indah, tapi juga simbol dari amarah, kecemburuan, dan penyesalan. Orang tua mengajarkan pada anak-anaknya: bahwa cinta tanpa ketulusan dan kerendahan hati bisa menghancurkan segalanya, bahkan di antara saudara.(*)

Oleh Bulan Tirta Pamungkas