Pada dahulu kala, di sebuah desa pesisir Pantai utara Jawa Tengah, diantara hutan-hutan terdapat sebuag gubug kecil yang jauh dari gubug lainnya. Gubug tersebut dihuni oleh sepasang suami istri yang bernama Ki Pedaringan dan Nyai Pedaringan. Sepasang suami istri yang memiliki perbedaan umur cukup jauh, dengan perbedaan umur tersebut tidak menghalangi keharmonisan mereka. Ki Pedaringan merupakan seorang petani palawija di daerah tersebut, dan Nyai Pedaringan merupakan seorang istri yang kerap membantunya.
Bunyi ayam bersautan dan sinar matahari telah datang menandakan waktu untuk beraktivitas, reot pintu terdengar, Ki Pedaringan mulai mempersiapkan alat kebunnya.
“Ki, bawalah bungkusan ini, makanlah ketika sedang beristirahat saat panen,” ucap Nyai Pedaringan sembari mengangsurkan bungkusan daun pisang yang terikat dengan bau harum masakan. “Terima kasih, Nyai. Aku akan pulang sebelum matahari tenggelam,” ucap Ki Pedaringan. Lantas setelah itu, Ia bergegas untuk pergi ke ladang untuk bekerja dan Nyai Pedaringan masuk ke gubug.
Panas menyengat di puncak kepalanya, membuat seorang yang sedang berjalan dengan lemah merasa pusing. Seseorang tersebut merupakan lelaki muda bernama Pangeran Purbaya yang sedang dalam perjalanan hendak menumpas pemberontakan di Cirebon. Ia terlihat kesakitan setelah berjalan sangat jauh, dari sebuah kejauhan Ia melihat sebuah gubug yang terlihat bersih.
“Mungkin saja, Aku bisa meminta pertolongan pada orang yang tinggal di gubug tersebut” ujar Purbaya dengan lirih sambil terus berjalan.
“Permisi… apakah ada orang? Saya butuh bantuan,” ucap Pangeran Purbaya.
“Astaga! Tuan, Anda terluka! Masuklah, Saya bantu obati,” ucap Nyai Pedaringan beruntun sembari membantu memapah tubuh Pangeran yang mulai limbung, membawana masuk ke dalam gubug. Sang Nyai begerak cepat mempersiapkan obat herbal untuk Pangeran, Ia mengambil kendi berisi air, jarit, dan batok kelapa yang berisi minyak kelapa dengan campuran daun sirih.
“Mohon tahan sebentar Tuan, mungkin ini akan sedikit sakit” ucap Nyai Pedaringan sembari membersihkan luka di kaki dan lengan pangeran dengan air.
Sesekali Pangeran Purbaya meringis sembari menatap kosong, ketika Nyai Pedaringan mengoleskan ramuan minyak kelapa dalam batok. “Apa yang terjadi pada anda, Tuan?” tanya Nyai Pedaringan.
“Saya Pangeran Purbaya dari Mataram,” ucap Pangeran Purbaya sembari menatap luka pada tubuhnya yang sedang dibalut dengan jarit oleh Nyai Pedaringan. “Saya terkena serangan dalam perjalanan menuju Cirebon,”
Setelah selesai diobati, Ia diberi makan dan minum oleh sang pemiliki gubug. “Makan dan beristirahatlah barang sebentar disini, sebelum Tuan melanjutkan perjalanan,” ucap Nyai Pedaringan. Pangeran Purbaya mengangguk lelah dan mulai makan.
Hari beranjak sore ketika Pangeran Purbaya bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Cirebon. “Nyi, terima kasih atas pertolongan Anda kepada Saya,” ucap Pangeran Purbaya sembari memberikan sebuah keris. “Terimalah pusaka Simonglong ini, Nyi. Berikanlah kepada keturunanmu kelak, kebaikanmu tidak akan saya lupakan,”
“Dengan senang hati saya dapat membantu Pangeran seperti Anda, semua ini bukanlah apa-apa,” ucap Nyai Pedaringan menerima keris dengan sungkan. Sang Pangeran Purbaya melanjutkan perjalanannya ke Cirebon. Ia melewati sebuah Sungai kecil nan Panjang yang dinamainya “Pemalang” untuk mengingat perjalannya tadi.
Langit mulai menggelap ketika Ki Pedaringan tiba di gubug. Matahari telah pulang dan menyisakan semburat jingga menuju gelap. Angin malam berhembus lebih kencang dari biasanya. Lelah akan aktivitasnya di kebun, Ia pun mulai membersihkan diri dan memasuki kamar untuk beristirahat sebentar sebelum makan. Dilihatnya sebuah keris tertutup di belakang lemari, Ia menatapnya curiga.
“Nyi… Apa ini? Dari mana kau pendakan ini, Nyai?” ucap Ki Pedaringan dengan keras hingga Nyai Pedaringan berjalan tergopoh-gopoh memasuki kamar.
“Itu… dari seorang Pangeran Purbaya. Ia datang meminta bantuan karena terluka,” ucap Nyai Pedaringan menjelaskan.
“Kau menyembunyikan ini dariku? Atau jangan-jangan ada hal lain yang kau sembunyikan?” ucap Ki Pedaringan dengan nafas memburu.
“Tidak, Ki! Aku setia kepadamu! Aku tidak menyembunyikan apapun!” ucap Nyai dengan menahan tangis.
“Halah, bohong!” ucap Ki Pedaringan dengan marah.
“Akan kubuktikan jika memang aku berkata jujur!” ucap Nyai Pedaringan.
Nyai Pedaringan keluar dari gubug dan mencari sebuah bunga yang ada di sekitar rumahnya. Bunga widuri yang ia cari, bung itu sebagai simbol terhadap kesabaran dan cintanya yang tulus. Setelah menemukan bung itu, Ia kembali ke dalam gubug dan berkata pada suaminya.
“Jika memang kau tidak percaya, maka inilah yang akan membuktikannya,” ucap Nyai Pedaringan, ia mulai menggores sedikit jarinya hingga meneteskan darah, darah itu Ia teteskan ke bunga widuri putih, mengubah warna bunga tersebut menjadi ungu.
“Lihatlah! Darah ini adalah bukti kesetiaan dan kejujuranku. Aku tidak pernah berpaling darimu!” ucap Nyai Pedaringan sembari menangis.
“Nyai… maaf… aku telah menuduhmu. Maafkan aku,” ucap Ki Pedaringan dengan terperangah. “Sebagai gantinya… aku akan meninggalkan gubug ini untuk menebus dosaku,” ucapnya dengan ragu.
“Aku akan merenungi kesalahanku, aku akan kembali jika sudah menjadi orang yang lebih baik,” ucap Ki Pedaringan menatap Nyai Pedaringan dengan kasih saying dan penyesalan.
“Tidak… jangan pergi, aku tak apa… jangan tinggalkan aku,” ucap Nyai Pedaringan dengan iba, namun Ki Pedaringan memutuskan untuk tetap pergi.
Nyai Pedaringan berjalan menuju laut, suara bambu berderak menemaninya, pertanda bahwa sekarang musim kemarau. Ia mengingat biasanya Ki Pedaringan mulai menanam palawija disaat sekarang. Sudah berapa lama suaminya itu pergi, namun kembali juga. Ia menatap laut luas dihadapannya sekarang, angin laut yang lembab membuat helai rambutnya berterbangan.
“Ki… sudah berapa lama kau pergi? Bukankah sudah saatnya untuk pulang?” ucap Nyai Pedaringan dengan gamang.
“Ki… apakah kau mendengar? Aku akan tetap menunggumu pulang disini… Di desa yang kini disebut Widuri,” ucap Nyai Pedaringan dengan miris saat mengingat kejadian silam. Nyai Pedaringan pulang ke gubugnya, Ia akan melanjutkan hidupnya sembari menunggu sang suami pulang. Sebagai wujud penghormatan atas kesetiaan Nyai Pedaringan kepada Ki Pedaringan, maka desa tersebut dinamai Desa Widuri, begitu juga dengan Pantai yang ada di daerah tersebut dinamai Pantai Widuri.(*)
Rida Salsabila