Kenapa Gen Z Suka Banget Gaya Era 2000-an?

Kembalinya tren Y2K bukanlah kebetulan. Dunia mode memang memiliki sifat siklus, di mana gaya lama akan muncul kembali setiap sekitar 20 tahun dengan bentuk baru yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun, fenomena ini menjadi menarik karena generasi yang menghidupkan kembali tren tersebut bukanlah generasi yang mengalami langsung masa keemasan Y2K.Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, berani berekspresi, serta akrab dengan dunia digital. Melalui media sosial, mereka terpapar oleh gambar, musik, dan estetika tahun 2000-an yang kini banyak dibagikan ulang. Nostalgia terhadap masa lalu menjadi salah satu daya tarik utama gaya Y2K, meskipun bagi Gen Z, nostalgia ini bersifat borrowed nostalgia — atau nostalgia yang “dipinjam”, karena mereka hanya mengenalnya lewat internet, bukan pengalaman langsung.

Selain aspek estetika, gaya Y2K juga dianggap merepresentasikan kebebasan berekspresi. Pada era 2000-an, fashion banyak menonjolkan keunikan dan keberanian. Bagi Gen Z yang hidup di tengah tekanan standar kecantikan modern dan budaya media sosial yang serba “sempurna”, gaya Y2K menjadi bentuk perlawanan terhadap keseragaman. Dengan pakaian warna-warni, potongan unik, dan kombinasi yang tidak biasa, mereka bisa tampil apa adanya dan menunjukkan identitas masing-masing.

Tak hanya itu, fenomena ini juga berkaitan erat dengan kesadaran terhadap keberlanjutan (sustainability). Banyak anak muda kini lebih memilih untuk membeli pakaian bekas atau thrift daripada membeli produk baru dari fast fashionyang merusak lingkungan. Gaya Y2K, yang identik dengan barang-barang vintage dan pakaian lama, akhirnya menjadi simbol dari mode yang ramah lingkungan dan lebih etis.Dengan berbagai alasan tersebut, Y2K comeback bukan sekadar tren sementara, melainkan bentuk ekspresi budaya generasi baru yang menggabungkan masa lalu dan masa kini dalam gaya berpakaian mereka.

Fenomena kembalinya tren Y2K fashion menunjukkan bahwa dunia mode tidak pernah berhenti berputar, melainkan terus mengalami proses daur ulang dan reinterpretasi sesuai konteks zaman. Gaya yang semula muncul pada awal tahun 2000-an dengan nuansa futuristik, glamor, dan berani, kini dihidupkan kembali oleh Generasi Z dengan sentuhan modern yang lebih kreatif dan inklusif. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak mengalami langsung era tersebut, Gen Z berhasil menghidupkan kembali estetika Y2K melalui media sosial dan budaya digital yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Tren Y2K comeback juga memperlihatkan bahwa mode bukan sekadar urusan pakaian, melainkan refleksi dari dinamika sosial dan budaya. Melalui gaya berpakaian ini, Gen Z mengekspresikan identitas diri, keberanian, dan kebebasan berekspresi, sekaligus menunjukkan sikap kritis terhadap standar kecantikan dan gaya hidup yang seragam. Selain itu, tren ini juga menandai pergeseran menuju mode berkelanjutan (sustainable fashion), di mana banyak anak muda memilih untuk berbelanja di toko pakaian bekas (thrift shop) sebagai bentuk kesadaran terhadap isu lingkungan dan etika konsumsi.

Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Pinterest memiliki peran besar dalam membentuk persebaran tren ini. Melalui algoritma dan budaya viral, gaya Y2K dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, menciptakan komunitas digital yang saling berbagi inspirasi mode. Fenomena ini menguatkan teori bahwa media sosial kini bukan hanya ruang komunikasi, tetapi juga sarana penciptaan budaya baru.

Secara keseluruhan, Y2K comeback bukan hanya kebangkitan tren lama, melainkan juga simbol dari perubahan cara pandang generasi muda terhadap mode, identitas, dan keberlanjutan. Gen Z berhasil menggabungkan unsur nostalgia masa lalu dengan nilai-nilai modern yang progresif. Dengan demikian, tren Y2K tidak hanya menandai kembalinya gaya tahun 2000-an, tetapi juga merepresentasikan semangat zaman baru yang lebih terbuka, kreatif, dan sadar lingkungan.(*)

Oleh Bening Anugerah Mu’asyarah