
Semarang, 25 Agustus 2025 — Mahasiswa Program LANTIP Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang mendapat penempatan magang di SMK Negeri 9 Semarang dengan praktik mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan deep learning. Kegiatan ini berlangsung di kelas XI AKL 2 dengan tujuan menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan kontekstual bagi peserta didik. Materi yang diajarkan adalah menulis teks argumentasi dengan tema Ketahanan Pangan Lokal.
Dalam pembelajaran ini, praktikan menerapkan prinsip joyful, mindful, and meaningful learning. Peserta didik terlebih dahulu diajak memahami konsep dasar teks argumentasi, mulai dari pengertian, struktur, hingga penggunaan data dan fakta sebagai dasar argumen. Setelah itu, mereka diarahkan untuk mengaitkan materi dengan isu nyata mengenai pentingnya ketahanan pangan lokal.
Setelah melalui tahap pemahaman, peserta didik diberikan kesempatan untuk menulis teks argumentasi secara mandiri. Tema yang diangkat yaitu Ketahanan Pangan Lokal dipilih agar siswa dapat berpikir kritis sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap potensi pangan daerah sekitar. Dalam kegiatan ini, siswa menyusun teks argumentasi dengan memperhatikan struktur yang benar, yakni tesis, argumentasi, dan penegasan ulang.
Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu menulis teks argumentasi dengan baik dan logis. Mereka tidak hanya menampilkan pendapat pribadi, tetapi juga melengkapi tulisan dengan data serta fakta yang relevan. Selain itu, suasana kelas tampak aktif karena peserta didik antusias mengaitkan materi dengan realitas pangan di lingkungannya.
Dalam proses mengajar, praktikan berusaha menghadirkan suasana kelas yang aktif dengan mengajak siswa berdiskusi, menganalisis teks, serta mempresentasikan hasil kerja kelompok. Metode ini tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif siswa.
Namun, praktikan juga menghadapi tantangan tersendiri ketika mengajar di SMK. Sebagai lulusan SMA, ia menemukan bahwa jadwal belajar di SMK lebih padat dengan tambahan praktik kejuruan, sehingga terkadang membuat siswa kurang fokus saat mengikuti pelajaran umum. Selain itu, karakter siswa SMK yang lebih beragam menuntut guru untuk lebih sabar dan fleksibel dalam mengelola kelas.

Meski begitu, ada pula kelebihan yang dirasakan. Siswa SMK cenderung memiliki pengalaman praktis dan terbiasa bekerja sama, sehingga saat diberikan proyek berbasis deep learning, mereka lebih cepat beradaptasi dan mampu menghasilkan ide-ide kreatif. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa magang dalam mempersiapkan diri sebagai pendidik profesional.
Praktik pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis deep learning di SMK Negeri 9 Semarang menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa LANTIP UNNES. Selain melatih keterampilan mengajar, kegiatan ini juga memperkaya pemahaman tentang dinamika pendidikan di SMK yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan SMA.
Penulis : Ras Tuti Analiah
Pembimbing : Muhammad Badrus Siroj, S.Pd., M.Pd.