Buat yang masuk SMA di tahun 2022, pemerintah secara serentak memberlakukan Kurikulum Merdeka. Di kurikulum ini murid tidak lagi dituntut mencapai nilai minimum untuk lulus ataupun naik kelas. Tapi apakah hal itu worth it? Apakah dalam penerapannya benar-benar merdeka? Gurunya atau siswanya?
Kalau lihat langsung di lingkungan sekolahku, di SMAN 2 Tegal, ada yang setuju dengan diadakannya kurikulum ini, tapi juga ada gelombang protes, termasuk dari aku yang cenderung kurang setuju adanya Kurikulum Merdeka ini.
Secara umum di kurikulum ini, murid akan diperkenalkan dengan sistem P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) di mana pada sela-sela pembelajaran formal akan diadakan kegiatan nonformal. Di SMAN 2 Tegal sendiri diadakan kegiatan pameran karya pengembangan teknologi, yakni miniatur mesin yang membantu meringankan pekerjaan sehari hari. Lalu ada juga kegiatan P5 yang berfokus di kewirausahaan, di sini murid diarahkan untuk bisa berjualan baik makanan ataupun minuman dengan tema dasar yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.
Lalu ada juga proyek lain yang bertema kearifan lokal, di mana di SMAN 2 Tegal yang berlokasi di kecamatan Tegalsari mempunyai kebudayaan sedekah laut, di mana salah satu keperluan yang dibutuhkan adalah ancak. Jadi para siswa SMAN 2 Tegal membuat ancak (miniatur kapal yang dihias lalu diberi kepala kerbau) untuk diarak keliling Tegalsari sebagai bagian dari melestarikan kebudayaan. Terakhir, di lingkup SMAN 2 Tegal, P5 juga berfokus di pembahasan konseling, misalnya pembuatan poster tentang pencegahan pembullyan dan sosialisasi menjaga kesehatan mental. Semua hal ini dilakukan agar murid-murid memiliki pengetahuan tambahan di luar pelajaran formal. Lalu apakah ini perlu?
Menurut aku sendiri, proses seorang anak dalam mengenal sesuatu di luar kegiatan formal, itu harus berasal dari rasa penasaran yang ada pada dirinya sendiri. Kenapa aku mengatakan seperti itu? Karena banyak sekali murid yang merasakan ketidakbermanfaatan melakukan ini dan itu saat P5 berlangsung. Mereka melakukan kegiatan atau proyek P5 ini sebatas untuk menyelesaikan tugas dan mendapat nilai tambahan. Lalu ada juga yang berpandangan bahwa kegiatan P5 tidak sejalur dengan pembelajaran yang dipelajari. Misal ada seseorang yang memilih lingkup bahasa untuk SMA-nya, kenapa bisa di proyek P5 malah fokusnya ke kewirausahaan? Ada juga yang merupakan lingkup IPS dan IPA, merasa bingung karena mendapat proyek P5 membuat ancak. Di mana proses pembuatan ancak sendiri itu memerlukan crafting skill juga kemampuan dalam melukis, jadi kegiatan P5 ini malah justru memotong waktu belajar siswa yang harusnya bisa mengejar materi, malah dibuat untuk kegiatan P5.
Akan tetapi sebenarnya, itu semua hanyalah dari sudut pandang pihak murid, yang merasakan bagaimana kegiatan P5, khususnya yang berlangsung di SMAN 2 Tegal. Dari kacamata Kemendikbud menyebutkan bahwa mereka hanya menginginkan sumber belajar siswa tidak terpaku pada buku tertentu. Dengan itu sekolah bisa melakukan kegiatan lain, yaitu dengan P5. Lalu untuk kegiatannya sendiri ada ketentuannya dari pusat, yakni dimensi Profil Pelajar Pancasila di antaranya kreativitas, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong serta berkebhinekaan global.
Tentu pihak Kemendikbud sendiri memiliki ekspektasi yang sangat tinggi dengan diadakannya P5, misalnya murid menjadi lebih mengerti dengan kebudayaan di lingkungannya, murid juga bisa tahu bagaimana sebuah mesin bekerja melalui pembuatan miniaturnya, kemudian murid juga bisa belajar hal baru di luar materi formal yang diajarkan di sekolah.
Kembali lagi ke awal dengan opini aku mengenai proses anak itu berasal dari internal, sehingga terkadang anak saat ada event atau kegiatan yang dilaksanakan secara “dipaksa” tanpa kemauan intrinsik, membuatnya kehilangan gairah atau bahkan ia bermalas-malasan dalam melaksanakan eventnya. Tentu hal ini sebaiknya dievaluasi oleh Kemendikbud agar ke depannya kegiatan P5 jika ingin diadakan kembali alangkah baiknya tetap ada komunikasi. Di antara pihak penyelenggara dan peserta. Sehingga tujuan utama dari kegiatan P5 dapat tercapai dan murid sebagai peserta bisa lebih merasakan manfaatnya.
NABIL HALIM