`Banjir di Bali: Alam atau Ulah Manusia?

Bali, surga wisata yang dikenal dengan keindahan alam dan budayanya mengalami banjir      yang cukup deras. Sejak Rabu (10/9/2025) pagi, hujan deras mengguyur Bali. Akibatnya, 18 orang meninggal dan dua lainnya masih hilang dan sedang dalam pencarian. 

BPBD Bali mencatat 163 titik banjir, tersebar di 81 titik di Kota Denpasar, 28 di Tabanan, 23 di Jembrana, 15 di Gianyar, 12 di Badung, dan 4 di Karangasem. Sebagian besar warga pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan, meskipun masih ada yang bertahan di pos pengungsian Denpasar dan Jembrana.

Sebuah bangunan di pinggir Tukad Badung, Denpasar, juga dilaporkan runtuh dan mengakibatkan tiga orang hanyut.  Di kawasan Monang Maning, pengendara memilih menepi karena ketinggian banjir berisiko membuat mesin kendaraan mati. Sedangkan di Sanur, jalanan berubah menjadi sungai akibat derasnya aliran air. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menegaskan bahwa intensitas hujan ekstrem sebagai pemicu utama, ia menegaskan faktor manusia lebih dominan. Selain itu, pihak berwenang, kelompok lingkungan, dan masyarakat setempat menyalahkan dua hal: pembangunan berlebihan dan sampah.

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menilai bahwa minimnya tutupan hutan menjadi salah satu penyebab banjir di Bali. Temuan rendahnya tutupan hutan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di Bali akibat alih fungsi lahan, kondisi ini sudah terjadi sejak 2015.  Hanif Faisal Nurofiq juga mengatakan bahwa selain hujan lebat, alih fungsi lahan di sekitar daerah aliran sungai merupakan faktor kunci penyebab banjir.

Direktur Eksekutif Walhi Bali, Made Krisna Dinata, juga menyebut bahwa pembangunan besar-besaran telah menggerus lahan pertanian tradisional Bali. Gubernur Bali, I Wayan Koster, bahkan menyatakan akan menghentikan sementara izin pembangunan baru sampai dilakukan evaluasi tata ruang untuk menghindari kerusakan lingkungan lebih lanjut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan banjir dan longsor yang melanda tujuh kabupaten dan kota di Bali pada Rabu (10/9) dipicu curah hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 380 milimeter dalam sehari, setara dengan curah hujan sebulan penuh.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, menjelaskan bahwa intensitas hujan tersebut jauh melampaui ambang batas hujan ekstrem secara klimatologis yaitu sebesar 150 milimeter per hari.

Menurut saya, banjir di Bali tidak dapat dipandang sebagai akibat faktor alam semata. Ulah manusia memiliki peran yang sama besarnya. Jika tata ruang kacau, drainase tidak memadai, tutupan hutan menurun, dan daerah resapan air berkurang, maka hujan deras sekecil apa pun dapat menyebabkan banjir.

Pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, terutama di kawasan pariwisata, membuat Bali semakin rentan. Alih fungsi lahan pertanian menjadi vila dan hotel mengurangi ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi penyerap air. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bencana serupa akan berulang di masa mendatang.

Oleh karena itu, menurut saya pemerintah daerah bersama masyarakat harus lebih tegas dalam menjaga kelestarian lingkungan, melakukan reboisasi, memperbaiki sistem drainase, dan mengatur tata ruang agar pembangunan tidak merusak keseimbangan alam. Jika semua pihak bekerja sama, bencana banjir di Bali dapat dicegah atau setidaknya dikurangi dampaknya.

KBR.ID. (2025, September 10). Banjir Besar Menerjang Bali, Mengapa Bisa Terjadi?.

JPNN.com. (2025, September 10). Banyak Pihak di Bali Menyalahkan Pariwisata Berlebih.

Oleh: Chelshy Putri S. Sirait